CEO-ku, Lautan Biruku

CEO-ku, Lautan Biruku
Episode 34-Yasmine dan Helen


__ADS_3

Operasi pun dimulai, sejak sedari tadi Yasmine selalu gelisah menunggu operasi sang ibu didepan ruang operasi, begitupun dengan Helen.


Ia khawatir jika kemungkinan besar operasi ibu gagal, karena ia pernah membaca suatu artikel yang berisi bahwa operasi tidak semuanya berhasil. Ibaratkan 75 persen berhasil dan yang 25 persennya itu gagal.


Setengah jam lebih menunggu ibu operasi tidak henti-hentinya ia selalu berdoa agar diberi keselamatan pada ibu.


Baginya ibu adalah jantungnya, sedangkan bapak adalah ginjalnya. Kini ginjal Yasmine tinggal satu dan jika ibu benar-benar pergi hidupnya akan hitam dan tidak berwarna.


"Ya tuhan, berikanlah keselamatan untuk ibu. Aku mencintai ibu lebih dari apapun, akan ku lakukan segala cara apapun agar ibu sembuh..." Ucapnya dengan menggenggam kedua tangannya.


"Ya tuhan, jangan ambil nyawa Tante Winda. Aku sayang padanya, dia adalah orang paling baik dan satu-satunya orang yang berbuat paling baik padaku dinegeri orang ini" Mohon Helen dalam hatinya.


Lima belas menit berlalu....


Tak!


Lampu operasi itu mati, tandanya bahwa operasi telah selesai. Yasmine dapat melihatnya karena pintu kaca dari atas menampakkan nya.


Dengan segera ia berdiri dari bangku rumah sakit itu berjalan menuju depan ruang operasi , menunggu sang dokter bedah untuk keluar. Begitupun dengan Helen.


"Bagaimana dok?" Tanya Yasmine dengan segera saat baru saja dokter keluar dari ruangan operasi.


Dokter Glen tersenyum tipis"Operasi nya berjalan dengan lancar, sekarang hanya tinggal dipindahkan keruang icu untuk masa pemulihan. Pasien juga masih belum bisa dijenguk, mungkin sekitar dua puluh empat jam kemudian bisa menjenguknya"

__ADS_1


Yasmine yang sebelumnya menampakkan wajah gelisahnya kini menerbitkan senyumannya, walaupun belum diperbolehkan untuk melihat ibu tapi Ia begitu bersyukur karena operasi ibu berjalan dengan lancar, kemudian memandang Helen yang juga terlihat bahagia.


"Kalau begitu saya permisi" Ucap dokter Glen.


Yasmine segera mengangguk"Ah iya silahkan"


Setelah dokter Glen pergi ia kembali meneteskan air matanya, bukan air mata sedih yang ia tumpahkan, melainkan air mata terharu dan penyesalan. Terharu karena akhirnya ibu terbebas dari penyakit mematikan itu, dan penyesalan karena apa yang dilakukannya beberapa jam yang lalu sangat bodoh dan hampir merenggut nyawa ibunya demi keegoisannya.


Helen memeluk Yasmine dan mengusap punggung Yasmine, orang yang sudah dianggapnya keluarga kedua"Yas are you okey?" Tanya Helen dengan lembut.


Yasmine menggeleng "Iya aku gak papa, hanya memikirkan kejadian beberapa jam yang lalu saja, aku terlalu egois karena tidak mau menerima bantuan dari tuan Raditya. Makas-"


Helen melepas pelukannya lalu menutup mulut Yasmine dengan jari telunjuknya "Shhttt, jangan dibahas. Pokoknya aku sudah menganggap mu seperti adikku" Ucap Helen dengan senyuman manisnya.


Yasmine mengerutkan keningnya.


Yasmine menahan tawanya saat melihat Helen mau menangis"pfttt...wahahaha.... Kau seperti monyet yang meminta makan tapi tidak dikasih Hel hahaha..."Tawa Yasmine pecah dalam rumah sakit itu.


Helen pun menjadi kesal dan menghentak-hentakkan kakinya dilantai"Kurang asem kau Yas!" Pekik Helen dengan kesal, ia kemudian menonyor kepala Yasmine.


beberapa saat mereka saling tertawa bersama sampai akhir nya ada salah satu suster yang datang untuk menegur Yasmine dan Helen agar jangan berisik.


"Maaf sus, kakak saya emang kalau tertawa seperti kuntilanak" Ucap Yasmine dengan wajah tanpa bersalah pada Helen.

__ADS_1


"Kau itu yang tertawa seperti seekor babi hingga ngok ngok!"


Suster yang melihatnya segera melerainya"Mbak mbak, tolong jangan berisik! jika berisik kalian seperti anjing, kalau masih berisik lagi saya akan menyuruh satpam untuk mengusir kalian berdua!" Ancam suster tersebut dengan serius, kemudian segera pergi.


Yasmine dan Helen pun terdiam.


"Ternyata seru memiliki saudara sepertimu Hel, walau kau sedikit seperti UU AA alias monyet " bisik Yasmine pada Helen.


Helen pun membalas perkataan Yasmine"Ternyata bahagia mempunyai keluarga yang sayang, walaupun tertawa mu seperti ngok ngok alias biba"


Mereka berdua pun menahan tawanya karena takut jika suster galak itu datang lagi.


Kruyuk!


Kruyuk!


"Yas, itu suara perut siapa?" Tanya Helen.


Yasmine pun nyengir kuda"Ehehe..gatau ya Hel, kayaknya si perutku. Aku izin kekantin dulu boleh?"


Helen menarik nafasnya dalam-dalam "Yaudah sana!"


"Kau tidak ikut?"

__ADS_1


Helen menggeleng "Tidak, aku akan menunggu saja disini. Sekalian mengantar saat Tante Winda dipindahkan, belikan aku sebungkus saja ya..."


Yasmine mengangguk "Okey, kalau begitu aku pergi"


__ADS_2