
Dan benar saja. Pagi itu mereka bertiga yaitu Raditya, Yasmine dan juga Abi pergi ke Mall untuk merayakan hari ulang tahun Abi yang ke lima.
Mereka kini sudah siap pergi dengan menggunakan pakaian simpel. Raditya hanya menggunakan celana pendek dan kaos oblong berwarna putih, sedangkan Yasmine menggunakan baju loreng putih dan hitam dengan celana kulot, sedangkan Abi berpakaian sama seperti sang ayah. Mereka bertiga seperti memakai pakaian couple.
Didalam mobil pun Yasmine mengobrol ringan dengan Abi, membahas apa yang akan mereka lakukan di mall nantinya. Yasmine duduk dibelakang karena tidak tega membiarkan Abi sendirian, walaupun awalnya Raditya menolak tapi karena paksaan jadi terpaksa menurutinya.
Sementara Raditya mendengus kesal. Dia menggenggam setir dengan kuat saat dirinya seperti tidak dianggap. Dirinya didalam mobil ini seperti seorang sopir yang akan mengantarkan majikannya dan anaknya berbelanja"Aku harus cepat-cepat membuat anak agar Abi tidak sendirian lagi dibelakang dan Sky-ku akan terus duduk disampingku" Gumam Raditya dengan menyeriangi wajah liciknya.
Sekitar setengah jam berlalu, mobil yang ditumpangi pun telah sampai disalah satu Mall terbesar dikota itu. Setelah berparkir Raditya barulah membuka pintu mobilnya.
Yasmine dan Abi pun sama, kini mereka sama-sama turun dari mobil. Mereka berdua mengedarkan pandangan pada Mall dengan lantai yang menjulang tinggi. Bahkan Yasmine sendiri malas untuk menghitung berapa lantai mall itu.
Dengan wajah yang bahagia, Yasmine berjalan menggandeng tangan anaknya untuk segera masuk didalam Mall. Ia sampai lupa, ada seorang bayi gede yang juga ketinggalan dibelakang.
Begitupun dengan Abi, dia lupa dengan sang ayah karena terlalu bersemangat dan tidak sabar bermain dengan mamanya.
Hingga sampai dipintu masuk. Mereka baru sama - sama tersadar dan saling berpandangan.
"Ma, seperti ada yang kurang" Ujar Abi yang merasa kurang suatu hal.
Yasmine mengangguk "Mama juga sama, seperti ada yang kurang" Ucap Yasmine yang pikirannya sama dengan sang anak.
Kemudian mereka sama-sama melotot.
"Labi"
__ADS_1
"Ayah"
Ucap mereka berbarengan. Kemudian berbalik badan.
Yasmine dan Abi menatap Raditya yang sedang memasang wajah datar dan menatapnya dengan kedua tangan dimasukkan kekantong celana.
Raditya kembali dibuat kesal saat dirinya lagi-lagi dilupakan oleh kedua orang yang sangat penting dihidupnya.
Yasmine tersenyum kaku melihat Raditya yang masih berdiri didekat mobil.
"Ayah, kenapa disitu? Kesini" Teriak Abi pada ayahnya saya melihat ayahnya hanya diam sembari memandangi nya dan juga mama.
Raditya diam tak bergerak. Dia tidak akan mau berjalan sebelum disusul oleh kedua orang tersebut.
"Seperti nya kita harus kesana lagi Ni" Ucap Yasmine dengan setengah berbisik pada anaknya.
"Shtt..Abi tidak lihat wajah ayah yang dingin itu. Jika kita tidak menyusul mama takut jika ayahmu tidak mau membayar belanjaan dan mainan yang tadi kita sudah bicarakan dimobil" Ujar Yasmine kemudian dengan pelan.
Abi kemudian mengangguk setuju"Ya sudah, ayo kita susul."
Dengan terpaksa mereka pun kembali lagi ke parkiran hanya untuk menyusul bayi besar yang sedang ngambek.
Bak seorang anak kembar, Yasmine dan Abi lalu sama-sama menggandeng tangan Raditya. Yasmine kanan dan Abi kiri, walaupun awalnya berat harus menarik sang bayi agar mau berjalan tapi akhirnya bayi mau juga untuk berjalan memasuki Mall.
"Kenapa kalian harus mengingat bahwa aku ada disini? Bukankah kalian kemari hanya berdua?" Ucap Raditya yang masih kesal. Tangannya masih digandeng oleh anak dan istrinya.
__ADS_1
Yasmine tersenyum lebar"Ow...tidak mungkin aku melupakanmu Labi, tadi hanya pura-pura lupa saja" Ucap Yasmine beralaskan.
"Benar apa yang Mama katakan. Tidak mungkin kami melupakan ayah. Kita hanya ekting saja" Sambung Abi yang juga beralasan.
Walaupun sebenarnya Raditya yakin itu hanya alasan, tapi ya sudah lah karena tidak ingin merusak suasana akhirnya dengan terpaksa ia memaafkan kedua orang spesial nya itu. Untuk Raditya sayang mereka.
Selang beberapa menit, Yasmine dan Abi sama-sama tertarik untuk bermain lempar bola. Saking antusiasnya sampai pegangan lengan pada Raditya itu kembali terlepas dan kembali meninggalkan sang bayi besar sendirian.
Raditya hanya mampu mengehela nafasnya kasar"Kurasa lebih baik aku mati saja"
Mereka berdua, sepasang ibu dan anak itu kini bermain bola setelah menukarkan tiket. Tentu saja buka mereka yang membayar, melainkan Raditya.
"Itu yang bayar ya sir!" Ucap Yasmine sembari menunjuk seseorang yang berjalan kearah kemari.
Kini pada hari dimana Abi berulang tahun. Yasmine Asilal berhasil mengalihkan semua rasa sedih pada seorang anak sambungnya yang dibilang menyedihkan, broken home.
Mereka seharian menghabiskan waktu untuk bermain dan bersenang-senang di gedung perbelanjaan dan permainan. Dari mulai bermain permainan, berbelanja baju dan segera pakaian yang mereka sukai, menonton bioskop dan makan siang direstoran ala-ala Japan.
"Huek!" Yasmine segera memuntahkan makanan itu ke tisu kering dan membuangnya ke tong sampah. Niat hati ingin bergaya memakan sushi ternyata lidah nya yang orang Indonesia tidak cocok.
"Apa kamu baik-baik saja?" Tanya Raditya dengan khawatir.
"Jangan-jangan Mama hamil"
"Uhuk..uhuk...uhuk..." Ucapan Abi mampu membuat sepasangan suami istri yang baru saja menikah 1 Minggu itu batuk secara bersamaan.
__ADS_1
"Kenapa kalian batuk? Benar kan Mama hamil?" Tanya Abi bingung saat melihat Ayah dan Mama nya sama-sama terbatuk.
Yasmine dan Raditya hanya mampu saling berpandangan tanpa mengucapkan sepatah katapun. Bagaima bisa hamil, sedangkan dia dan Raditya saja setelah menikah belum pernah anu.