
Saat baru memasuki gedung tersebut, semua pegawai yang ada disana dengan tertib melakukan tugasnya kesana kemari tanpa ada yang mengobrol atau menghosip, mereka sangat disiplin.
Yasmine kemudian mendatangi salah satu karyawan"Hello" Sapa Yasmine dengan menggunakan bahasa Inggris "Apakah kau tau dimana ruang Presdir?" Tanya Yasmine lagi dengan menggunakan bahasa Inggris.
"Maaf, tanyakan pada resepsionis, itu bukan tugas saya" Jawab karyawan tersebut kemudian langsung pergi meninggalkan Yasmine.
Yasmine kemudian melihat sekelilingnya, matanya tertuju pada anak panah dengan tulisan"Resepsionis" Yasmine kemudian langsung berjalan kearah kiri.
Sesampainya disana, ia segera bertanya pada Resepsionis tersebut"Hai, saya adalah Yasmine yang berasal dari Indonesia, bisakah anda memberitahu dimana ruangan Presdir?" Tanya Yasmine dengan sopan.
Pegawai itu pun mengangguk"Biar saya telepon petugas HRD dan direktur dahulu, nona boleh menunggu disana" Resepsionis tersebut menunjukkan kursi yang berbeda diseberang.
"Ah, saya akan menunggu disini saja" jawab Yasmine.
Beberapa menit berlalu, Yasmine masih menunggu sang resepsionis tersebut selesai berbicara.
"Baik tuan"
"Mari nona, biar saya antar, kebetulan direktur dan Presdir sudah menunggu" Ucap sang resepsionis.
Yasmine mengangguk tersenyum, kemudian mengikuti sang resepsionis tersebut.
Ting!
Sampaikanlah Yasmine pada lantai 199, Yasmine memandang sekitarnya, entah kenapa dia sekarang merasa gugup dan tidak percaya diri.
"Mari nona" Ucap sang resepsionis itu yang mengarahkan pintu kaca tersebut untuk masuk.
"Tenanglah Yasmine, percaya diri saja" Ucap Yasmine pada dirinya sendiri, mencoba memberikan semangat agar tidak gugup.
Sebelum masuk, tak lupa Yasmine menarik nafasnya dalam-dalam, merilekskan pikiran dan tubuhnya.
Resepsionis tersebut perlahan membuka pintu kaca tersebut dengan perlahan.
Yasmine menutup matanya.
__ADS_1
"Selamat pagi, Tuan yandex, Tuan Bryan, serta pemilik perusahaan ini Tuan besar Raditya"
Deg..!
Yasmine segera membuka matanya saat mendengar nama itu, menatap kedepan dimana ada tiga orang laki-laki, dua orang tersebut tidaklah Yasmine kenal, namun jika satu orang yang sedang memejamkan matanya sembari duduk di kursi sofa tunggal itu Yasmine kenal, bahkan sangat kenal.
Kemudian ia menggeser tubuhnya agar tertutup dengan badan resepsionis tersebut, supaya orang yang Yasmine kenal tidak melihatnya.
"Saya kemari mengantarkan nona Yasmine yang berasal dari Indonesia"
Deg...
Raditya segera membuka matanya saat mendengar nama yang ia kenal betul itu, namun beberapa saat Raditya melihat sekelilingnya tidak ada perempuan tersebut "Kemana?"
Resepsionis tersebut segera melihat kebelakang nya"Nona apa yang anda lakukan, tuan besar Raditya ingin melihat anda" Ucap resepsionis tersebut saat melihat Yasmine yang sedang bersembunyi dibelakang punggungnya, karena tinggi Yasmine hanya sedada saja hingga membuatnya tidak terlihat.
"Glek..."
"Ya tuhan, apa yang harus aku lakukan" Batik Yasmine.
Raditya terus memandang kedepan, menunggu orang yang disebut Yasmine itu muncul, ia begitu penasaran dengan pegawai baru yang akan menjadi sekretaris nya itu.
Deg!
Dua pasang mata indah itu saling berpandangan, berpandangan begitu lama, entah apa yang mereka rasakan yang jelas itu semua adalah pandangan rasa rindu dari Yasmine, rasa rindu serta kecewa yang mendalam dari hati Yasmine, hingga ia tak berani untuk memutuskan hubungan kontak mata itu.
"Kenapa kau memandangiku dengan begitu lama Raditya? Seharusnya kau putuskan kontak mataku agar aku puas"
"Ehem!"
Deheman dari Bryan itu mampu membuat kontak mata Raditya dan Yasmine pun terputus, Yasmine kemudian menundukkan kepalanya, ia lebih memilih memandangi lantai.
"Presdir Raditya, dia adalah nona Yasmine, yang akan menjadi sekretaris pribadi anda, saya yakin anda sangat tertarik, seperti yang saya bilang sebelumnya bahwa nona Yasmine ini memiliki public speaking yang bagus dan nilai sarjana tertinggi" Jelas Bryan pada Raditya yang hanya dibalas dengan anggukan.
"Jadi Presdir?" Tanya Yandex.
__ADS_1
"Untuk beberapa saat kedepan aku menerimanya, jadi keluarlah" Jawab Raditya dengan wajah dinginnya.
Yandex dan Bryan saling berpandangan mereka seakan saling mengkode bahwa sang Presdir ini sedikit aneh, karena jika biasanya jawab ia atau tidak, tapi kali ini Raditya menjawab "beberapa saat" tapi walaupun begitu mereka menuruti perkataan dari Raditya untuk segera keluar dari ruangan dan kembali bekerja.
Sedangkan Yasmine, ia sedari tadi menunduk sembari memejamkan matanya, meremas bajunya hingga kusut karena gugup.
"Ehem!"
Saat Raditya ber dehem Yasmine segera membuka matanya, tetapi pandangannya masih kebawah.
"Sudah tau tugasmu?"
Yasmine mengangguk"Iya, tadi malam sudah diberitahu lewat email" Jawab Yasmine dengan pelan namun masih bisa didengar oleh Raditya.
Raditya mengangguk"Baiklah, atur jadwalku, tempatmu berada disana" Tunjuk Raditya pada meja dan kursi yang tak jauh dari tempat kebesarannya "Kau boleh mulai bekerja" Ucap Raditya kemudian ia segera berdiri dari sofa tunggal tersebut dan berjalan melewati Yasmine menuju meja dan kursi kebesarannya.
Saat Raditya melewatinya itu dimana membuat wangi maskulin masuk dalam Indra penciuman Yasmine "Kenapa wanginya masih sama! Arghh aku benci wangi ini!" Teriak Yasmine dalam hatinya.
Kemudian Yasmine segera melihat tempat kerjanya, ia melototkan matanya "Kita satu ruangan Radi~ emm maksutku Tuan?" Tanya Yasmine.
Raditya menghentakkan langkahnya"Apa kau keberatan?"
"Tentu saja iya, emm tidak maksudnya" Jawab Yasmine dengan terbata.
"Tidak apa?" Tanya Raditya yang masih mematung ditempatnya.
"T-tidak keberatan"
Setelah mendengar jawaban dari Yasmine, Raditya segera berjalan kembali menuju tempatnya untuk mengecek beberapa berkas pentingnya.
Sementara Yasmine pun segera menjalankan kakinya menuju tempat kerjanya yang jaraknya tak jauh dari tempat kerja Raditya.
Yasmine meletakkan tasnya dimeja dengan perasaan kesal"Padahal aku sudah berharap pergi ke negara ini untuk bisa melupakannya dan memulai hidup baru dengan bule bule tampan, tapi kenapa harus bertemu dengan yang aku benci!" Gumam Yasmine pelan tak lupa dengan kekesalannya.
Ia pun duduk di kursi dan mulai membuka tap yang sebelumnya sudah disiapkan"Kenapa tap ini tidak bisa dibuka?" Yasmine mengamati tap itu dengan teliti sudah beberapa kali ia hidupkan namun tidak juga hidup."Oh ternyata memang dimatikan" gumam Yasmine lalu segera membuat jadwal yang sudah dikirimkan lewat email laptop.
__ADS_1
Yasmine bisa menggunakan benda tersebut karena di kuliah ia mengambil jurusan Manajemen keuangan jadi ya sedikit lebih tau walaupun hanya se uprit.
Raditya yang sedari tadi mencari pandang apa yang dilakukan Yasmine pun menggelengkan kepalanya"Konyol"