
"Kalau begitu lunasi semua hutangmu dalam waktu satu Minggu saja! Jika dalam satu Minggu kau tidak bisa melunasinya, maka kau harus terima jika menjadi istri kedua ku dan ibu untuk anakku!" Ancamannya dengan wajah datar dan dinginnya, ia kemudian pergi.
Yasmine menghentikan langkahnya dan berbalik arah menatap kepergian Raditya yang mulai menjauh, ia begitu sangat tidak menyangka akan menjadi seperti itu. Dan apa?! Satu Minggu? Hutang sebanyak itu mana mungkin ia kumpulkan dalam waktu satu Minggu, jika menggunakan tabungannya saja mungkin hanya punya 25 persennya dari hutang itu.
Yasmine memijat pelipisnya yang mulai berdenyut denyut seperti seseorang yang sedang jatuh hutang ya bukan jatuh cintol!.
"Darimana aku dapat uang sebanyak itu?" Ucapnya dengan frustasi. Ia kemudian terbelak karena tiba-tiba suatu ide muncul dipikirannya "Apa aku open bo saja ya? Melayani om-om yang ganteng, kaya raya itu?" Pasrah Yasmine yang memang sudah benar-benar kehilangan akal sehatnya.
.
.
.
"Loh Yas, calon suami mu mana?" Tanya Winda dengan bingung karena tidak melihat adanya Raditya.
Yasmine menggeleng "Dia bukan calon ku!" Ujar Yasmine sembari meletakkan plastik yang berisi salad buah itu, tadi sebelum ia kemari ia sempatkan untuk kekantin dan membeli salad buah untuk ibunya.
Winda kemudian berusaha untuk duduk, Yasmine segera menahan ibunya untuk tidak bangun dari tidurnya "Bu, Yasmine sudah berapa kali mengatakan untuk jangan banyak bergerak, apalagi duduk. Luka operasi ibu masih basah, aku takut dia akan kembali terbuka jahitannya" Ucap Yasmine dengan cerewet namun itu semua ia lakukan karena perhatian dan sayang pada ibu.
"Iya ibu lupa, maaf Yas. Jangan nangis dong, cengeng ih anak ibu" Ledek Winda yang melihat anaknya menangis dengan sesugukan.
Yasmine segera mengusap air matanya"Ya ibu sii... Jangan membuatku sedih harusnya "
Winda tersenyum"Iya maaf Yas..ibu janji akan ingat dengan kata-kata mu itu"
Yasmine pun membuka plastik yang ia taruh dimeja, kemudian mengambil salad buah yang ia beli"Kalau begitu ibu makan salad nya dulu"
Yasmine pun segera menguapkan salad buah itu pada ibunya, sesekali mereka saling bercanda hingga menimbulkan suara tawa diruangan itu.
"Yas, jadi itu pacarmu atau bukan?"
__ADS_1
Yasmine menggeleng"Bukan" Jawabnya singkat, karena memang ia malas membahas bos gila itu."Dia itu memang gila" Sambungnya dengan begitu judes.
"Lah, jadi selama beberapa hari dia kemari membawakan ibu buah-buahan dan mengaku pacarmu itu hanya bohong?" Tanya Winda.
Yasmine menghentikan menyuapi ibu"Apa? Jadi ini bukan pertama kali dia kesini?"
Winda menggeleng"Sudah tiga kali dia kesini Yas,"
Yasmine berfikir, pantas saja saat setelah makan siang bosnya menghilang, ternyata minggatnya kemari.
"Tapi bagaimana dia bisa tahu segalanya tentangmu?"
Yasmine mengerutkan dahinya"Maksutnya Bu?" Tanya Yasmine sembari menyuapkan salad itu.
"Ya dia tahu tentang makanan kesukaan mu, hobimu, apa saja yang tidak kamu sukai, mata pelajaran yang paling kau benci dan lain-lain "
Yasmine terdiam"Tentu saja dia tahu. Seandainya ibu tahu satu hal, dia adalah orang yang pernah menjadi bagian dari hidupku untuk terus bertahan dalam keadaanku yang lemah karena ekonomi kita dan dia juga yang membuatku hampir gila dan menyerah soal hidup ini, dia juga adalah orang yang membuat aku merasa menjadi wanita paling kotor"
"Yas, kok bengong" Ucap Winda yang melihat anaknya terdiam.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Yasmine menjambak rambutnya sendiri, ia kali ini sedang berada ditaman rumah sakit setelah Helen kembali dan menawarkan untuk menjaga ibu malam ini, biar dirinya yang istirahat di apartemen.
"Apa yang harus aku lakukan ya tuhan...Tidak mungkin kan jika aku harus Open Bo, alias jual diri.." Ucapannya dengan sangat frustasi, bahkan soal hutan-pihutang itu ibu sama sekali tidak tahu, dia tidak ingin ibu akan menambah pusing dengan semuanya. Dan yang tahu soal ini hanyalah Helen.
Sungguh, memikirkan ini sendirian rasanya seperti ingin stres dan gila. Dia membutuhkan orang untuk teman cerita dan bersandar.
Setelah melihat jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam, Yasmine segera berdiri untuk pulang menuju apartemen.
Didalam taxi, tiba-tiba ia sangat tidak tahan untuk pipis, ia pun berbicara pada sopir taxi untuk berhenti didepan restoran itu." Pak, berhenti direstoran itu ya, saya ingin BAK"
Sopir tersebut mengangguk dan membelokkan mobilnya menuju restoran.
"Tunggu sebentar saja ya pak"
.
.
.
Yasmine mengelus dadanya, merasa lega karena air kencingnya itu sudah dibuang ketempat yang memang seharusnya dibuang disitu.
Ia pun berkaca sebentar ditoilet itu, merapikan rambutnya yang berantakan akibat ia jambak-jambak.
Setelah selesai, segera Yasmine keluar dari toilet tersebut, namun seseorang laki-laki tiba-tiba bertabrakan dengannya.
Bruk!
"Astaga, maaf-maaf tuan. Saya tidak sengaja" Yasmine menatap lelaki yang menggunakan jas biru tua itu. Terlihat tampan dan gagah. Namun bukan itu yang ia pikirkan, ia mengamati wajah lelaki itu yang seperti mirip dengan teman yang sudah lama tidak dilihat nya tiga hari ini."Benar! Dia seperti inces!"
"Ince-" Ucapannya terpotong saat lelaki itu pergi begitu saja melewatinya dan masuk kedalam toilet pria."Ah, mungkin hanya perasaanku saja. Tidak mungkin jika itu inces, dia kan sleyy dan anggunly" Lanjutnya dalam hati yang merasa sangat tidak mungkin. Ia pun melanjutkan jalannya, karena takut jika pak taxi itu menunggunya terlalu lama didepan.
__ADS_1
...****************...
😵