
Kini Raditya dan Fillia telah sampai dirumah sakit, jangan tanya helikopter nya dimana. Raditya memarkirkan helikopter tersebut diatap rumah sakit ini, karena sebelumnya dia memang sudah meminta izin kepada sang pemiliknya yaitu temannya sendiri.
Dengan sepat mereka pergi ke ruangan dimana Abi dirawat, yaitu lantai paling atas.
Fillia dan Raditya dapat melihat beberapa orang penjaga diluar ruangan Abi.
Beberapa penjaga yang melihat kedatangan nyonya Fillia dan juga anaknya segera mempersilahkan untuk masuk.
Dengan cepat Fillia dan Raditya memasuki ruangan tersebut, Fillia melihat ada pelayan yang sedang berusaha untuk menyiapkan makanan untuk Abi namun selalu ditolaknya.
"Oma! Ayah!" Ucapnya dengan gembira saat mereka datang.
Pelayan pun segera mundur beberapa langkah karena terlihat Fillia yang ingin berbicara dengan Abi.
"Kau boleh pergi" Perintah Fillia kepada pelayan tersebut, yang dimana diangguki olehnya.
Setelah melihat pelayan itu pergi, Fillia segera mendekati cucunya "Apa yang terjadi?"
Abi hanya menggeleng lemah, melihat ayahnya yang hanya menatap datar dirinya dibelakang Oma.
Fillia mengelus kepala cucunya itu"Pelayan bilang kau tidak mau makan, benar?"
Abi tidak berani menjawabnya, ekspresi wajahnya seolah menyembunyikan sesuatu kepada ayah dan Oma nya. Dan tentu saja Fillia dan Raditya dapat melihat dan mengetahuinya.
__ADS_1
Kemudian Fillia pun hanya menarik nafasnya "Ya sudah, kalau begitu kau makan dulu"
"No!"
Fillia yang sedang mengambil buah-buahan pun terhenti dan menatap Abi"Kalau tidak makan, cucu Oma akan sakit"
Abi lagi lagi menggeleng "No! No! No!" Tolaknya lagi.
Fillia kemudian melihat anaknya yang hanya berdiri dengan wajah datar sembari tangannya dimasukkan kedalam kantong.
"Abi, makanlah. Jangan membuat orang lain repot dengan sakitmu itu" Ucap Raditya yang akhirnya menasehati anaknya.
Abi terus menggeleng tanda tetap tidak mau makan."Dimana Bunda? Aku tidak akan pernah mau makan jika bunda tidak ada di sampingku" Ya. Memang sedari Abi memperhatikan pintu masuk berharap bundanya datang untuk menemaninya, namun lama ia menunggu bunda tidak kunjung datang dan itu membuat Abi merasa sedih.
Fillia menghela nafasnya berat"Bunda tidak ikut kemari"
Seketika Fillia terdiam membeku dengan ucapan cucunya. Ia telah memberikan harapan palsu pada sang cucu dengan berkata Raditya dan Kelly berbaikan, namun nyatanya justru sebaliknya. Ia tak berani menjawab, ia bingung harus berkata apa dan bagaimana.
"Bunda sedang ada pekerjaan yang tidak bisa ditunda Abi, sekarang makanlah atau jika bunda tau kau tidak mau makan dia akan marah" Jelas Raditya yang akhirnya hanya itulah ancaman satu-satunya, karena ia tahu betapa anaknya sangat menyayangi Kelly dan tidak ingin jika Kelly marah.
Abi memberanikan menatap mata ayahnya, ia takut jika ayahnya itu berbohong padanya. Kemudian Abi mengangguk dan percaya apa yang dikatakan oleh ayahnya itu"Baiklah, tapi ayah yang menyuapi aku"
Raditya pun mengangguk, segera Fillia bergeser agar Raditya bisa menyuapi Abi.
__ADS_1
.
.
.
"Mom, mungkin aku akan menikah"
Ucapan Raditya barusan mampu membuat seorang Fillia menatap tajam anaknya. Kali ini mereka sedang berada diluar ruangan Abi dan duduk di kursi rumah sakit, tentu Raditya yang ingin mengajak mom Fillia untuk berbicara.
"Mom tidak akan pernah setuju!"
"Aku tidak butuh persetujuan darimu" Jawab Raditya dengan datar, sudah cukup kemarin-kemarin saja dirinya diatur ini dan itu hingga masa mudanya yang seharusnya bahagia kini sebaliknya. Dan kali ini ia tidak mau jika harus diatur-atur lagi, terlebih tentang soal percintaannya.
ia ingin cerita cintanya sama seperti beberapa rekan kerja yang menceritakan betapa bahagianya memiliki keluarga yang harmonis dan romantis dengan pasangan yang kita cintai, dan Raditya hanya bahagia bersama cinta pertanya yaitu Yasmine. Walaupun ia tahu, memulai dari awal dengan Yasmine akan sangat susah untuk kembali menaklukkan hatinya lagi.
Fillia menatap anaknya, bukan lagi dengan tatapan tajam, melainkan dengan tatapan penuh kekecewaan, matanya kini berkaca-kaca. Entah kenapa ucapan anak laki-laki yang ia sayangi sedari dulu ini mampu membuat hatinya tergores."Jadi selama ini kau merasa tertekan dengan semua aturan mom? Kau merasa berat dengan semuanya?"
Raditya yang melihat mata mommy yang berkaca-kaca dan akan menangis pun menjadi merasa bersalah dengan semua kata-kata yang ia lontarkan. Namun, bukan maksutnya menyakiti hati mom Fillia, hanya saja ia ingin hidupnya bahagia dengan apa adanya bersama orang yang ia cintai "Mo-m" Kata-katanya tercekat kala mom Fillia kembali lagi berbicara.
"Jika memang begitu, mom minta maaf padamu Raditya, maaf jika sikap mom telah membuatmu tersiksa. Tapi percayalah, dibalik sikap mom, itu semua untuk kebaikanmu dan kebaikan kita semua. Tidak perlu bertanya kebaikan untuk apa, yang jelas disetiap mom menekan dan memaksamu untuk melakukan ini itu, itu tidak lebih untuk kebaikanmu nantinya..." Sambungnya, percayalah sekuat dan setegar apapun seorang ibu, namun bila perkataan anaknya yang tidak seberapa itu mampu membuat hatinya terluka.
Fillia berdiri, ia dengan segera meninggalkan Raditya yang mematung ditempat duduk.
__ADS_1
Raditya melihat tangannya yang baru saja terkena tetesan air mata. Ya, Raditya sangat yakin itu adalah air mata mom Fillia kala mom Fillia berjalan melewatinya, dan air matanya tidak sengaja jatuh ditangan kekarnya itu.
"Apa yang dirimu sembunyikan sebenarnya dariku mom" Lirih Raditya, ia kemudian mengusap air yang menetes ditangannya tadi. "Baru pertama kali aku melihatmu menitihkan air mata, aku pikir mom Fillia adalah wanita terkuat dan ter-egois yang tidak pernah menangis. Tapi nyatanya, aku begitu yakin dibalik sikapmu yang tegas, kau menyimpan rahasia yang begitu besar dariku" Sambungnya kemudian.