CEO-ku, Lautan Biruku

CEO-ku, Lautan Biruku
Episode 49- Pantun Sang Pangeran


__ADS_3

Yasmine mengetuk-ngetuk meja menggunakan kuku jari tangannya. Dia kali ini sedang pusing bin puyeng dengan proposal tawaran dari perusahaan C, sejatinya dia ingin bertanya pada pada tuan Bryan, namun saat Yasmine hendak masuk dia melihat ada seorang perempuan cantik yang sedang duduk dipangkuan tuan Bryan, Yasmine pikir itu mungkin istrinya, jadi tidak enak untuk masuk.


Drttt!


Yasmine melirik ponselnya yang tidak jauh dari iPad nya. Tertera dilayar sebuah nama Mr. Arrogant


Segera Yasmine mengambil ponselnya dan membuka pesan yang dikirimkan.


[Aku pulang]


Alis Yasmine berkerut melihat pesan yang dikirimkan oleh Raditya, kemudian dia kembali membalasnya.


^^^[Lalu?]^^^


[Aku merindukanmu]


^^^[Aku membencimu]^^^


[Tiga hari lagi kita menikah]


^^^[Percaya diri!]^^^


[Aku yakin tiga hari lagi kita benar-benar menikah]


^^^[Aku tidak yakin]^^^


[ikan hiu makan parit, yuk kita married 😘]

__ADS_1


^^^[🤮]^^^


Chat itu berakhir saat Yasmine yang dengan segera mematikan data seluler nya. Dia merasa mual melihat chat pantun yang dikirim oleh Raditya.


"Dia dapat pantun itu pasti dari internet" Ucap Yasmine.


*


*


Sementara Raditya wajahnya yang semulanya sedang senyum-senyum karena sedang melakukan obrolan chat seketika langsung murung saat melihat Yasmine yang sudah tidak aktif lagi.


"Muka mu kenapa? Seperti seorang bunglon yang berubah-ubah. Tadi senyum-senyum sekarang manyun-manyun" Pinta Fillia yang aneh melihat anaknya itu.


Raditya melirik mom Fillia yang sedang memangku Abi yang tertidur.


Fillia menaikkan satu alisnya, setahunya empat hari lalu kantor masih baik-baik saja dan tidak terjadi apapun. Fillia kemudian menduga-duga apakah ada yang korupsi atau jangan-jang-ada yang mengambil data perusahaan, pasalnya selama ini jika perusahaan ada masalah tidak pernah sekalipun Raditya mengeluh. Jika saat ini dia mengeluh itu artinya masalah nya sangat besar.


"Apakah sangat besar?" Tanya Fillia yang kini mulai serius.


Raditya menatap wajah mommy nya, kemudian mengangguk dengan sangat lesu dan lemas tidak bertenaga.


Fillia kini semakin yakin bahwa perusahaan sedang dalam masalah yang sangat besar.


"Kau tenanglah, mommy akan cari solusi untuk masalahmu" Ujar Fillia yang ingin menenangkan anaknya.


Raditya mengangguk lemah"Iya mom, bantu aku cari solusi, sekarang aku benar-benar merasa tidak memiliki tenaga, jantungku sudah tidak berdetak semenjak tadi"

__ADS_1


Fillia semakin melototkan matanya terkejut "Apa? Bagaimana bisa? Kenapa kau masih hidup sekarang?"


Raditya semakin lemas dibuatnya, dia memejamkan matanya sembari bahunya disenderkan dikursi"Tidak tahu mom, mungkin seseorang disana memberikan nafas buatan"


Fillia mengerutkan dahinya, tidak mengerti dengan perkataan Raditya"Maksutnya?"


"Ia, aku baru saja melakukan obrolan chat dengan calon menantumu, tapi entah kenapa setelah aku mengirimkan sebuah pantun dia tiba-tiba tidak aktif lagi. Jantungku telah diambil olehnya, mom tahu kan istilah -jantungku adalah jantungmu, jiwaku adalah jiwamu, dan separuh nafasku ada di kamu- "


dengan segera Fillia melempar sepatu hak nya pada baju anaknya itu, dia begitu teramat kesal. Dia fikir masalah besarnya adalah masalah serius diperusahaan.


"mom kenapa kau melemparku!" Ujar Raditya yang bahunya sakit terkena sepatu hak milik mommy.


"Kau adalah anak gila!" Pinta Fillia dengan penuh emosi.


Raditya membuka matanya, lalu mengangkat satu alisnya"Aku? Gila? Yeah...aku memang gila, tergila-gila padanya mom"


Fillia yang sudah geram kini berniat untuk melemparkan satu sepatunya lagi, namun gagal karena sudah lebih dulu Raditya tangkap.


"memang pantun apa yang kau berikan padanya?" Tanya Fillia yang tiba-tiba penasaran.


"Ikan hiu makan parit, yuk kita married!" Jawab Radit dengan tersenyum penuh bangga.


Fillia melototkan matanya"Pantas saja dia langsung off. Dia ilfill padamu, pantunmu juga terlihat sekali jika dari internet "


"Bagaimana mom tahu itu aku dapat dari internet?"


Fillia hanya diam tidak menanggapinya lagi, dia lebih memilih untuk tidur dengan memangku Abi.

__ADS_1


__ADS_2