
Yasmine semakin khawatir dan panik saat sudah menggoyang-goyangkan bahunya namun Raditya tidak juga membuka matanya. Tidak mungkin kan hanya karna masalah seperti ini harus memanggil damkar alias pemadam kebakaran?
Tidak mungkin juga jika dirinya harus keluar dari kamarnya lalu meminta bantuan pada ibu atau mom Fillia, akan sangat memalukan sekali jika benar seperti itu.
Lalu, jika iya? Lalu mereka bertanya kenapa Raditya bisa seperti itu? Dia harus menjawab apa?
"Apakah aku seberat itu?" Gumam Yasmine yang kini merasa insinyur dengan tubuhnya yang terasa lebih gemuk.
"Apakah harus aku yang mengangkat nya?" Usul Yasmine pada dirinya sendiri. Tapi setelahnya dia menggelengkan kepalanya, teringat saat tadi dia jatuh di bathtub dan memegang sesuatu yang ia yakini itu benda pusaka milik Raditya.
"Kenapa anu nya semakin besar ya?" Pikirannya Yasmine kini melayang kemana-mana, entahlah kenapa disaat genting seperti ini dia justru sedang membayangkan yang kotor-kotor.
Lima menit berlalu, Yasmine masih stay ditempatnya, tidak berpindah. Justru Yasmine sekarang sedang duduk sembari terus memantau Raditya apakah sadar atau belum. Walaupun bajunya sudah basah tapi tidak masalah.
Samar-samar Raditya mulai membuka matanya secara perlahan dengan kepalanya yang masih terasa pusing.
Sedangkan Yasmine dia begitu antusias saat Raditya membuka matanya"Raditya, kau bangun?" Tanya Yasmine yang seharusnya tidak perlu ditanyakan, pada dasarnya dia juga tau jika Raditya sudah sadar dengan membuka matanya. Tapi tidak apa-apa dia kan hanya ingin menunjukkan bahwa dia perhatian dan merasa bersalah dengan tadi.
Raditya kembali memegangi perutnya yang masih terasa sedikit sakit"Shhh.." Ringis nya.
"Kenapa? Katakan, apa anu mu sakit karena ku pegang tadi?" Tanya Yasmine dengan khawatir, karena ia pernah membaca suatu artikel jika harta dan bagian organ paling fatal dan lemah di laki-laki adalah alat vitalnya atau mungkin alat tempur juga bisa disebutnya.
Raditya melirik Yasmine dengan wajah pucat dan menahan sakitnya.
Dan Yasmine baru pertama kali melihat Raditya yang sangat mengenaskan seperti itu, lemas tak berdaya. Mungkin jika bencinya masih besar seperti awal-awal dia ditinggalkan begitu saja sekarang juga dia akan membunuh Raditya karna sedang tidak berdaya. Tapi, entahlah sekarang yang dipikiran Yasmine merasa kasihan.
"Maksutmu anu apa?" Tanya Raditya.
"Anu lah"
"Apa?"
__ADS_1
"Ya anu'
"Ya anu itu banyak, apa?"
"Ish anu lo"
"Iya anu apanya?"
Otor: Pertengkaran inipun dilanjut hingga tujuh hari tujuh malam, hanya karna anu🙂
Yasmine yang sudah kesal pun langsung saja menjawabnya nya"Alat paling berharga milikmu, bentuknya seperti sosis, warnanya ada yang hitan, coklat dan mungkin kuning langsat. Kadang berdiri kadang tidur, letaknya dibawah perut, namanya ad-"
Bibir Yasmine dibungkam dengan satu jari telunjuk milik Raditya.
Yasmine pun hanya bisa terdiam.
"Ya, tidak perlu dijelaskan" Ucap Raditya kemudian. "Bantu aku berdiri"
"Arghh!!" Pekiknya yang segera melapaskan tarikan tangannya. Yasmine menutup matanya lalu segera berlari setelah melihat benda milik Raditya.
Sementara Raditya, dia justru tersenyum senang. Dengan badan yang telanjang, Raditya segera melangkahkan kakinya keluar dari bathtub dan segera membasuh tubuhnya dengan air bersih.
*
*
*
"Bu, ini beneran Yasmine di usir?" Tanya Yasmine dengan wajah yang berkaca-kaca. Dia sungguh tidak ingin berpisah dari ibu, berpisah dengan ibu adalah hal pertama yang belum pernah Yasmine lakukan.
Saat ini dia sedang berada diambang pintu dan bersiap untuk pergi kerumah milik Raditya bersama dengan mom Fillia juga yang sudah lebih dulu turun kebawah untuk membeli sesuatu di minimarket terdekat.
__ADS_1
Winda hanya mampu mengelus punggung anaknya dengan air mata yang terus keluar dari matanya"Ibu akan selalu mendoakan yang terbaik untukmu. ingat untuk jangan membatah ucapan suamimu, selalu menuruti apa yang dia perintahkan selagi itu baik"
Yasmine mengangguk penuh sedih. Padahal dalam hatinya "Tapi aku tidak janji menuruti semua perintahnya"
Winda kemudian memeluk tubuh anaknya dengan sayang"Jaga dirimu baik-baik ya"
Yasmine membalas pelukan ibunya"Ia Bu, ibu juga jaga diri baik-baik. Kabari Yasmine jika membutuhkan sesuatu, apalagi saat ini Helen sedang pulang ke negaranya jadi tidak bisa menemani ibu"
Winda mengangguk.
Pelukan antara ibu dan anak itupun akhirnya terlepas.
Sementara Raditya, dia hanya bisa menghela nafasnya saat melihat drama yang sangat hebat.
Drama? Kita lihat saja nanti.
Dengan sangat terpaksa, perlahan namun pasti. Yasmine mulai berjalan menjauh menuju lift dengan air mata yang berderai.
"Cepatlah sedikit, lamban sekali!" Ucap Raditya yang dongkol melihat jalan lanban Yasmine. Bayangkan saja, sudah dua menit dia menunggu didalam lift dengan tetap berjaga-jaga agar lift tidak tertutup.
"Kau ini, tidak tau orang sedih!" Dengan segera Yasmine memasuki lift.
Ting!
Yasmine berjalan lebih dulu dengan perasaan yang kesal karena tadi Raditya mengatainya lamban.
Raditya justru berjalan dengan santai sembari menarik koper yang lumayan besar milik Yasmine.
Dugh!
"Pfft..." Ia menahan tawanya saat perempuan dengan status istrinya itu terbentur pintu kaca. Dengan pura-pura tidak kenal agar orang tidak curiga, Raditya membuka pintu kaca dan berjalan mendahului Yasmine.
__ADS_1
Sementara orang yang baru saja terjeduk pintu itu mengusap keningnya"Sial! Aku sial!" Gumam Yasmine yang segera membuka pintu kacanya juga.