CEO-ku, Lautan Biruku

CEO-ku, Lautan Biruku
Episode 62-Pertanyaan Kejujuran


__ADS_3

"Abi, Tante minta maaf. Bukan, tidak ada niatan untuk Tante merebut ayahmu. Sungguh Tante benar-benar minta maaf..."


"Bukan Tante yang menginginkan pernikahan ini, ayahmu yang memaksa Tante. Jika Abi keberatan dengan semuanya, mungkin saja Tante akan meminta dengan paksa untuk berpisah dan kembali dengan bunda. Tapi tolong maafkan Tante"


Air mata Yasmine kini luruh jatuh kebawah hingga mengenai rambut Abi dan perlahan ke kulit kepala.


Abi dapat merasakan bahwa air mata Tante itu menetes diatas kepalanya. Kemudian ia mendongok melihat wajah Yasmine.


Yasmine melepas pelukannya dan langsung menghapus air mata yang keluar dari kelopak matanya "Maaf ya, Tante ini sangat cengeng. Hanya berbicara begitu saja sudah menangis" Ucap Yasmine dengan sedikit tertawa terpaksa karena malu dilihat oleh Abi.


"Tidak apa-apa, aku tau bukan salah Tante disini" Ucap Abi yang segera turun dari kasurnya lalu berjalan menuju meja belajar dan menaruh bingkai foto dengan gambar ibunya dimeja itu.


Yasmine dapat melihat apa yang Abi lakukan.


Setelahnya Abi kembali berjalan dan kembali menaiki kasurnya "Memang seharusnya seperti ini"


Yasmine justru dibuat bingung dengan penuturan dan pengucapan Abi. "Maksutnya? Seharusnya seperti ini?"


Abi dengan segera mengangguk "Iya, harusnya memang begini. Ayah dan bunda sebelumnya memang tidak pernah akur, sekalipun Abi selalu berbicara pada ayah agar mau mencintai bunda, tapi ayah tetap menutup hatinya dan memperlakukan bunda dengan tidak baik"


Yasmine mendengarkan dengan baik, menunggu kelanjutan cerita dari Abi.


"Ayah menutup hati untuk bunda dengan cara menyakiti bunda. Apapun yang bunda lakukan selalu salah Dimata ayah. Bunda membuatkan kopi, justru dibuang oleh ayah"


Degg..


Jantung Yasmine terpicu dengan cepat mendengar cerita dari Abi. Apakah Raditya benar-benar sekejam itu dengan wanita? Kenapa tega memperlakukan istrinya seperti itu.


"Bunda membawa makanan untuk ayah, tapi ditolak dengan membuang makanan itu asal. Hingga akhirnya bunda selalu menangis dengan sikap ayah yang begitu cuek dan dingin"

__ADS_1


Yasmine membeku mendengar ucapan Abi. Ia tidak bisa membayangkan betapa sulitnya menjadi seorang Kelly, setiap hari akan tersiksa batin dan fisik seperti itu dengan perlakuan Raditya.


"Aku tidak sedih karena bunda dan ayah berpisah lalu menikah dengan Tante. Aku hanya sedih karena bunda tidak pamit dan salam perpisahan dengan ku, atau kalau bisa aku juga mau ikut bunda saja pergi hiks.."


Yasmine yang mendengar Abi kembali menangis segera memeluk Abi kembali agar tenang lagi.


"Tenanglah, jangan menangis" Ujar Yasmine dengan mengelus-elus punggung Abi.


"Bagaimana jika aku tidak bisa bertemu bunda lagi? Bunda tidak ada kabar sama sekali. Bagaimana saat hari ulang tahunku tiba bunda tidak datang dan mengucapkan selamat ulang tahun? Bag-"


"Shtttt....jangan berbicara yang tidak-tidak. Kita berdoa akan bunda diberi keselamatan dan bisa kemari oke..."


Abi kembali menangis memikirkan jika bundanya tidak mau lagi kembali dan bertemu dengannya.


Beberapa saat kemudian, Yasmine dapat merasakan hembusan nafas Abi yang mulai beraturan. Walaupun masih ada sesekali suara Isak tangisnya. Yasmine yakin Abi pasti sudah tertidur dipelukannya.


Perlahan Yasmine menidurkan Abi di bantal, ia begitu hati-hati agar nanti Abi tidak terbangun.


Ia kemudian melangkahkan kakinya menuju kamarnya dan Raditya. Menanyakan sesuatu yang memang seharusnya ia tanyakan sedari dulu.


Ceklek..


Suara pintu itu terbuka.


Matanya sedikit Yasmine lebarkan saat Raditya sedang memakai CD dan belum menggunakan apa-apa yang membelakanginya."M-maaf T-tidak se-ngaja" Pinta Yasmine dengan terbata karena gugup. Dengan segera Yasmine tutup kembali.


Ia mengelus dadanya yang ternyata berdebar kencang "Huftt..." Setelah hampir lima menit berdiri didepan pintu, segera Yasmine buka kembali pintunya.


Dan benar saja, Raditya sudah berbaring diatas kasur dengan hanya menggunakan celana boxer dan kaos dalam putih saja. Ganteng sih, tapi sekarang yang Yasmine harus lakukan adalah bertanya dulu.

__ADS_1


Yasmine perlahan berjalan mendekati Raditya yang sepertinya sudah tidur, padahal baru lima menit.


Tidak ingin menunggu, akhirnya ia pun mengguncang tubuh Raditya dengan memanggil namanya"Raditya bangun, ada yang ingin aku bicarakan" Ujarnya yang masih mengguncang tubuh Raditya.


Setelah hampir 1 menit, akhirnya ada efek juga. Raditya mulai menggeliat dalam tidurnya.


Yasmine berdecak pinggang "Bangun! Aku mau berbicara sesuatu padamu!"


Raditya menggeliat, perlahan ia mulai membuka matanya yang sudah terlihat merah itu, ia duduk dan menatap Yasmine yang sedang memasang muka serius."Ada apa? Apa Abi baik-baik saja?"


Yasmine mengangguk"Aku ingin berbicara serius denganmu"


Raditya menepuk-nepuk kasur yang ada disebelahnya guna menyuruh Yasmine duduk disitu.


Yasmine pun menurutinya, ia duduk.


Sesaat mereka saling diam sebelum akhirnya Yasmine membuka mulutnya.


"Raditya, aku ingin bertanya padamu. Aku harap kamu jujur dan jangan ada yang disembunyikan sama sekali"


Raditya mengerutkan dahinya mendengar ucapan Yasmine "Jujur apa?"


"Katakan, kenapa kamu dulu meninggalkanku? Apa alasannya? Aku tau dulu kamu masih mencintaiku, terlihat dari sorot matamu yang seperti terpaksa menyudahi hubungan kita, tapi aku tutup semua kemungkinan karena kamu meninggalkan aku disaat setelah kejadian malam panas. Kupikir kamu jijik denganku karena telah menjadi wanita murahan"


Raditya hanya terdiam, tidak berani menjawab sama sekali tentang pertanyaan yang ditanyakan oleh Yasmine.


"Jawab" Ucap Yasmine saat melihat Raditya yang hanya diam saja.


Raditya mengalihkan pandangannya ketempat lain"Aku akan menjawabnya, tapi setelahnya kamu janji untuk memaafkan ku dan memulai hubungan ini dari awal lagi" Kemudian netra matanya kembali pada Yasmine.

__ADS_1


Sesaat mereka saling tatap, jarak yang sebelumnya memang sudah dekat yang hanya menyisakan 30 centi saja, kini perlahan Raditya dekatkan. Ia raih tangan Yasmine dan menggenggamnya erat.


Sedari dulu sampai sekarang, hanya satu nama dihatinya. Yasmine Asilal, itulah nama perempuan yang sedari dulu Raditya cintai. Hanya Yasmine yang mampu membuat jantungnya berdebar, berdetak dengan cepat. Hanya Yasmine yang mampu meluluhkan hatinya yang sedingin es. Hanya Yasmine yang bisa membuat seorang Raditya jatuh cinta sedalam-dalamnya, sekalipun lima tahun berpisah. Bukannya rasa cinta itu berkurang, justru bertambah semakin besar.


__ADS_2