CEO-ku, Lautan Biruku

CEO-ku, Lautan Biruku
Episode 48-Pulang


__ADS_3

Tiga hari kemudian....


Kini Raditya sudah menyiapkan kepulangan Abi setelah proses perceraian mom Fillia dan dad Hans.


Ya, mom Fillia memutuskan untuk bercerai dari dad Hans setelah kesepakatan bersama. Dengan syarat dirinya harus tetap menjadi pemimpin perusahaan milik dad Hans setelah pensiun nanti. Semua sepakat dengan syarat itu, ya kecuali istri kedua daddy.


"Raditya, kau sudah menghubungi Kelly untuk pulang?" Tanya Fillia.


Mereka saat ini sedang berjalan menuju ruangan Abi setelah baru saja pergi ke pengadilan agama.


Raditya mengangguk "Sudah, aku sudah memberitahukan lewat orang suruhan ku mom"


Fillia mengangguk.


Kini mereka memasuki lift menuju lantai dimana Abi berada.


"Ingat, jangan langsung beritahu Abi tentang apa yang terjadi. Beritahu secara perlahan. Dia masih kecil, jangan samakan perasannya seperti seorang yang sudah dewasa"


Raditya mengangguk "Iya mom"


"Ngomong-ngomong siapa calon istrimu? Apa dia yang pernah menjadi teman dansa mu itu?" Tanya Fillia penasaran.


"Mom tau?"


Fillia tersenyum kuda"Hanya sedikit, siapa namanya? Darimana dia berasal?"


Raditya menghela nafasnya, kemudian mulutnya bersiap untuk menjawab.


Fillia fokus pada pendengarannya. Tidak akan menyia-nyiakan ini, karena begitu penting.


"Namanya adalah......R-rahasia dong, nanti tiga hari lagi aku akan memberitahukan kepada mom"


Fillia mendengus kesal pada anaknya"Dasar!"


*


*


"Oma, kita pulang sekarang?" Tanya Abi dengan gembira.


Fillia yang sedang memakaikan sepatu untuk Abi pun menganggukkan kepalanya "Iya, apa cucu Oma senang?"

__ADS_1


Abi dengan cepat mengangguk "Bunda pasti menunggu ku kan Oma?"


Fillia tersenyum lebar"Iya, bunda sudah menunggu dirumah. Sekarang turun dan langsung ke atas. Kita akan pulang menggertakkan helikopter pribadi"


Dengan segera Abi turun dari branker yang tidak terlalu tinggi itu.


"Opa!" Pekik Abi dengan keras saat melihat Opa nya ada diambang pintu.


Fillia yang sedang membereskan tas nya pun segera berbalik, dia begitu sedikit terkejut melihat kedatangan mantan suaminya, walaupun belum resmi bercerai tapi dapat dipastikan akan menjadi mantan suami juga.


Abi berlari untuk memeluk Opa nya.


Dengan senang hati Hans memeluk cucunya, dia juga menggendong Abi dengan bahagia.


"Apa Opa akan akut dengan Abi juga?" Tanya Abi yang masih dalam gendongan Hans.


Hans tersenyum kemudian menatap Fillia. Fillia hanya mematung lalu segera mengalihkan pandangannya dan lebih memilih untuk membereskan barangnya kembali.


"Tidak"


Abi mengerucutkan bibirnya "kenapa?" Tanyanya dengan sedih.


Abi dengan pelan mengangguk "Aku akan merindukanmu"


"Opa juga.."


Raditya yang baru saja datang setelah ingin mengabarkan pada mommy bahwa helikopter sudah siap pun seketika terkejut saat didepan pintu ada daddy.


"Dad? Sedang apa disini?"


Hans segera berbalik dan menggeser tubuhnya agar Raditya bisa masuk"Hanya ingin salam perpisahan pada Abi saja"


Raditya mengangguk "Mom, helikopter sudah siap diatas"


Kemudian dia beralih pada Abi "Dad, aku pamit. Abi akan aku gendong"


Hans pun mengangguk dan menyerahkan Abi pada gendongan Raditya."Daddy ingin berbicara sebentar dengan mommy"


Raditya berfikir sebentar, dia bimbang antara mengizinkan atau tidak.


"Hanya sebentar saja. Tidak akan Daddy apa-apa kan" ucap Hans kembali.

__ADS_1


Raditya pun setuju"Hanya sebentar"


"Dada Opa!!!!" Abi melambaikan tangannya saat perlahan pandangannya mulai jauh dari sang Opa.


Hans hanya tersenyum kecil.


Pandangannya kemudian beralih pada perempuan yang saat ini sedang berada didalam ruangan dengannya. Istri yang selalu disakitinya itu.


"Fill" panggil Hans, dia kemudian mendekati Fillia yang masih membereskan barang-barangnya.


Fillia berusaha untuk tidak mendengar panggilan dari Hans, dia tetap berfokus pada barang-barang yang harus dikemas.


"Aku mint-"


"Tidak ada yang perlu dibicarakan" selanya saat mendengar Hans akan meminta maaf. Kemudian Fillia berbalik hingga saling berhadapan. "Semua selesai, semoga kau bahagia dengan istri tercinta mu" lanjutnya kemudian.


Tidak ingin lama-lama didalam ruangan bersama mantan suaminya itu, Fillia segera melangkahkan kakinya untuk keluar dari ruangan yang menurutnya cukup panas.


Namun, baru satu Langkan Fillia berjalan. Tangannya sudah lebih dulu dicekal oleh Hans.


"Lepaskan!" Dengan penuh kekasaran Fillia tepis tangan milik Hans.


"Aku tau aku telah banyak salah padamu, aku mengakui kesalahan ku. Maaf, selama aku menjadi suamimu telah banyak menyakiti hatimu, maafkan ibuku juga yang sudah keterlaluan dengan omongannya. Maaf, aku belum bisa menjadi suami yang baik"


Setelah mendengar kata-kata itu, kini Fillia tidak peduli lagi, entahlah sekarang seakan dirinya sudah mati rasa dengan semuanya. "Aku maafkan" Jawabnya kemudian, lalu segera pergi meninggalkan ruangan.


"Kita bisa kan menjadi teman yang baik?"


Langkan Fillia terhenti diambang pintu, dia menggeleng dengan posisi membelakangi Hans. "Tidak" Ucapnya kemudian, lalu perlahan telah jauh dari pandangan Hans.


Perlahan namun pasti, setiap Fillia melangkahkan kakinya air matanya tidak berhenti mengalir jatuh kebawah. Bagaimana pun dia adalah wanita biasa yang memiliki hati, disakiti sedikit saja sudah tergores. Siapa yang tidak sedih dengan perceraian ini? Dirinya yang berusaha mempertahankan tapi dirinya juga yang lebih dulu meminta bercerai.


Diatap rumah sakit, suara helikopter itu sudah terdengar begitu berising. Fillia sudah tidak lagi menangis.


Raditya sedang memasangkan alat telinga pada Abi agar nanti saat perjalanan suara helikopter itu tidak terlalu besar ditelinga Abi.


"Sudah siap?" Tanya Fillia yang kini sudah berada didekat Raditya dan Abi.


Raditya tidak mendongak karena sedang berfokus pada alat telinga itu"Sudah, tadi Daddy tidak berbicara aneh-aneh kan dengan mommy?"


"Tidak"

__ADS_1


__ADS_2