CEO-ku, Lautan Biruku

CEO-ku, Lautan Biruku
Episode 61-Kini Abi Tau


__ADS_3

Di dalam mobil, Abi sekarang duduk didepan sebelah ayahnya.


Ia kadang melirik ayahnya untuk meminta jawaban kenapa ada Tante yang namanya belum Abi ketahui itu.


Abi merasa curiga dengan apa yang terjadi. Karena selama ini ayahnya tidak pernah membawa seorang perempuan sekalipun itu bunda.


Pada akhirnya didalam mobil itu Abi hanya mampu diam saja. Mungkin saat sampai rumah dia akan menanyakan nya pada Oma.


*


Makan siang pun tiba. Kini seluruh keluarga yang ada di Mension Agavi itu keluar dengan Fillia dan Winda yang sedang mengobrol ringan dimeja makan setelah selesai memasak bersama.


Sedangkan Raditya yang sedang diruang kerjanya untuk menyelesaikan beberapa hal penting itu langsung keluar dari ruangan karena sudah waktunya makan siang.


Begitupun dengan Yasmine setelah beberapa menit lalu ibunya mengirim pesan lewat wa bahwa makan siang.


Mereka kini telah berkumpul diruang makan, hanya tinggal menunggu Abi saja.


Beberapa saat kemudian...


Abi turun dari kamarnya yang diikuti oleh pelayan yang sedari tadi mengurusi Abi untuk berganti pakaian.


Abi terhenti ditangga terakhir, dia menatap aneh meja makan yang biasanya hanya diisi oleh dua atau tiga orang saja. Mereka siapa? Tanya bocah yang hampir lima tahun itu.


"Abi kemarilah" Panggil Fillia pada sang cucu.


Winda tersenyum melihat cucu baru yang sangat tampan itu, walaupun hanya cucu tiri tapi tetap saja dia akan menyayanginya dan menganggap Abi sebagai cucunya juga.


Abi perlahan berjalan mendekat, dia kemudian memilih duduk disebelah Oma nya.


Sesaat Abi menatap bergantian wajah Tante yang tadi, lalu wajah yang seumuran dengan Oma nya. Didalam pikiran bocah itu terus bertanya-tanya kira-kira mereka siapa dan kenapa berada dirumahnya.

__ADS_1


"Abi, ayo makan" Ucap Fillia yang baru saja mengambilkan cucunya makan.


Abi tidak menggubrisnya, dia justru ingin bertanya pada Oma nya"Oma, mereka siapa?" Tanya Abi dengan bingung.


Yasmine menelan ludahnya sendiri, dia betul-betul panas dingin sekarang. Ia hanya mampu memejamkan matanya, menunggu siapa saja yang menjawab tentang dirinya dan ibunya itu siapa sekarang.


"Dia pengganti bundamu, dia adalah bunda barumu" Bukan Fillia yang menjawab, melainkan ayahnya yaitu Raditya.


Deggg....


Semua yang ada dimeja makan itu kaget mendengar penuturan Raditya yang langsung pada intinya, tidak dengan lemah lembut dan pelan-pelan.


"Astaga, dia berbicara seolah dengan orang dewasa. Kenapa tidak memikirkan perasaan anaknya akan sesakit apa" Batin Yasmine dalam hatinya. Dia benar-benar tidak menyangka Raditya akan dengan cepat menjawabnya.


Sementara Fillia menatap tajam anaknya. Tidak memikirkan perasaan Abi sama sekali.


Winda juga terlihat kaget dengan jawaban menantunya itu, walaupun itu benar adanya. namun setidaknya pelan-pelan memberitahu anak kecil agar tidak sedih dan sakit hati nantinya.


Sementara Abi langsung membeku ditempatnya setelah mendengar jawaban dari ayah"M-ma-mak-sut-tnya Ayah berpisah dari bunda? Lalu menikah dengan Tante itu?" Pinta Abi dengan bibir yang gemetaran. Jadi ibunya bukan pergi berlibur sebentar? Jadi ibunya pergi untuk selamanya dari sini? Kenapa bunda tidak bilang?


Abi menundukkan kepalanya, menyembunyikan kesedihannya pada semua yang ada dimeja.


"Abi, Tante-" Ucapan Yasmine terpotong saat Abi yang langsung pergi meninggalkan meja makannya.


Ia berjalan cepat menaiki tangganya menuju kamar untuk menumpahkan segala kesedihannya dikamar. Sendirian.


"Raditya, kenapa kau tidak memikirkan perasaan Abi sama sekali" Ucap Fillia setelah melihat kepergian cucunya, ia tau Abi pastinya sangat kecewa dengan jawaban dari sang ayah. Terlepas selama ini cucunya itu selalu berdoa agar ibu dan ayahnya kembali bersama agar hidup bahagia bertiga, namun itu semua sirna saat mengetahui bahwa ayahnya sudah berpisah dengan sang bunda.


Raditya hanya diam saja dan melanjutkan makannya.


Sementara Yasmine yang tidak tega melihat kesedihan seorang anak kecil, apalagi itu adalah anak sambungnya, ia segera beranjak dan menyusul Abi ke atas.

__ADS_1


Tidak ada yang berkomentar saat Yasmine menyusul, karena apa yang dia lakukan sudah benar.


Yasmine perlahan melangkahkan kakinya satu persatu menaiki tangga menuju kamar anak sambungnya itu. Ia menggerutu dalam hatinya, bisa-bisanya Raditya tidak berpikir akan perasaan anaknya, tidak tau apa nantinya jika trauma? Seharusnya pelan-pelan dan beritahu baik-baik. Walaupun dia tidak suka anak kecil, tapi tau akan perasaan anak kecil yang mudah sekali cengeng.


Yasmine menghentikan langkahnya pada ruangan tertutup itu, itu adalah kamar Abi.


Sebelum membukanya, lebih dulu Yasmine menarik nafasnya dalam-dalam merilekskan pikiran dan hati untuk nantinya meminta maaf pada Abi.


Setelah dirasa semuanya sudah rileks termasuk otaknya, Fillia langsung memegang gagang pintu, dan perlahan membukanya.


Yasmine sedikit bersyukur saat ternyata pintunya tidak dikunci. Perlahan matanya melihat sosok yang dicarinya sedang duduk membelakanginya. Yasmine tau betul apa yang sedang Abi lakukan.


Abi sedang menangis tersedu-sedu tanpa suara. Ia tau, menangis dengan menahan suara agar tidak keluar itu jauh lebih sakit dari apapun. Nafasnya, dadanya dan pikirannya semua sesak saat kita menahan tangisan agar tidak keluar.


Tanpa disadari, perlahan Yasmine juga meneteskan air matanya, ia menjadi merasa bersalah telah menjadi orang ketiga dalam keluarga ini. Seandainya dulu saat tau dia bekerja di perusahaan Raditya Yasmine langsung mengundurkan diri pasti semuanya tidak akan seperti ini, ia tidak akan merebut kebahagiaan seorang anak laki-laki tampan berusia lima tahun itu.


Perlahan Yasmine melangkahkan kakinya masuk. Mungkin sedikit menenangkan Abi kalau dia bisa.


"Abi" Panggil Yasmine yang berjalan mendekati Abi.


Abi yang tau itu suara siapa, dia tidak menggubrisnya sama sekali, dia tetap dengan pikirannya sendiri dengan tangannya yang memeluk foto bunda, dan menahan suara agar tangisannya tidak keluar.


Tanpa menunggu lama, Yasmine menyepatkan jalannya dan langsung berhambur memeluk Abi dengan erat. Mungkin dengan pelukan anak sambungnya akan sedikit tenang.


Abi tidak memberontak sama sekali. Dia justru tidak menahan lagi suara tangisannya dan menangis dengan kencang saat ada yang memeluknya seperti ini. Wajahnya Abi tenggelam kan didada milik yang begitu nyaman.


Yasmine masih memeluk Abi dengan tangannya yang juga mengelus punggung Abi "Menangislah Bi, jangan ditahan. Itu membuatmu sakit jika menahan suara tangisanmu"


"Hiks...hiks...hiks..." Abi menurutinya dengan menangis sejadi-jadinya. Dia masih belum terima jika bunda pergi meninggalkan dia tanpa pamit dan selama perpisahan. Pantas saja waktu itu wajah bunda terlihat pucat dengan mata bengkak.


1 menit, 5 menit, 10 menit, 15 menit, dan 20 menit telah berlalu. Yasmine masih membiarkan Abi untuk menangis dengan puas diperlukannya, biarkan hingga puas dan itu akan menjadi tenang.

__ADS_1


Tangisan Abi semakin lama sudah mulai reda, hanya isak tangis saja yang kini terdengar oleh Yasmine.


Yasmine pun memberanikan diri untuk berbicara setelah melihat Abi sudah lumayan tenang.


__ADS_2