
Sejak kemaren malam perasaan Sellyn sangat tidak nyaman. Cepat atau lambat Ia harus membuat keputusan yang menguntungkan kedua pihak. Ia menuruni tangga menemui Papa dan Mama nya yang sudah berada di meja makan.
"Mah.. Pah.. Sellyn mau bertanya sesuatu"
"Pagi pagi anak mama kenapa kok cemberut begitu. Apa semalam tidurmu tidak nyenyak hmm? Kamu mau nanya apa sayang?"
"Apa jika Sellyn menikah dengan tuan Rain semua masalah nyonya Kirana akan selesai?" ucap Sellyn membuat mama papa nya terdiam sejenak melihat nanar ke arah nya.
Belum sempat berbicara tiba-tiba saja dua orang pembuat onar datang. Siapa lagi kalau bukan Viona dan adik nya yang senang sekali membuat kerusuhan dan kegaduhan di manapun mereka berada. Mereka berdua datang dengan wajah ceria dan senyuman yang licik. Tuan Eric dan Nyonya Sheila sudah tau akan kebiasaan adik-adiknya.
"Sudah sayang kamu tidak perlu repot-repot untuk setuju dengan perjodohan bodoh itu. Karna Semua harta milik Kirana si pelac*r itu sudah kami sita," ucap Viona sembari mengelus kepala Sellyn.
"Mmmaksud kalian berdua apa? harta siapa yang kalian sita?" hardik Sellyn melepas tangan Viona.
"yaaah siapa lagi kalau bukan si Kirana dan anak nya. Laki-laki bodoh seperti itu sangat tidak pantas bersanding dengan wanita yang cantik dan berkelas seperti mu sayang. Udah kamu jangan.... " belum selesai Viona berbicara tiba-tiba saja..
PLAKKKKKKK PLAKKKKK
Sellyn menampar kedua pipi tante nya dengan keras. Tuan Eric dan Nyonya Sheila mencoba menengahi. Namun Evelyn menarik tangan mereka. Sepertinya Evelyn juga menyayangkan sikap kedua tante nya yang bersikap arogan. Untuk saat ini Ia mendukung kakak nya.
"Aku sudah tak tahan dengan semua omong kosong tante ya. Tuan Rain tidak tahu apapun masa lalu ibunya. Ia hanya korban. Tidak sepatutnya kalian berdua bersikap menjijikkan seperti itu. Aku berani menikah dengan Tuan Rain sebab aku juga mencintai nya. Aku suka sama dia. Asal kalian tahu. Disaat semua meremehkan ku dan menjatuhkan kinerja ku. Acuh kepada hobi ku. Satu-satunya orang yang memberiku semangat setiap hari setiap waktu setiap detik Ialah tuan Rain. Bahkan papa mama ku sendiri tidak percaya dengan kinerja ku. Sampai pada akhir nya yang meyakinkan mereka selama ini juga tuan Rain. Kata terimakasih saja rasanya tidak cukup untuk membalas semua budi baik nya. Aku mencintai nya. Aku mencintai tuan Rain dan aku bersedia menikah dengan nya," tegas Sellyn dengan suaranya yang lantang dan bergetar Ia mengungkapkan semua kegundahan hati nya yang selama ini dipendam. Ia mengambil Dokumen yang berada ditangan Viona lalu menyobek nya.
PLAKKKKK PLAKKKKK
__ADS_1
Kini bergantian Viona menampar keras pipi kiri dan kanan Sellyn. Wajah keduanya terlihat sangat berapi-api. Makian umpatan keluar dari mulut mereka berdua kepada keluarga tuan Eric. "Dasar keluarga bod*h uang sembilan puluh sembilan milyar beserta bunga nya itu tidak sedikit tol*l. Cari uang ga mudah seperti membalikkan telapak tangan. Kalian semua jangan termakan omongan manis keluarga pelac*r itu. Sekali perusak hidup orang seterusnya mereka akan selalu merusak" hardik Viona tak Henti-henti nya terus mencemooh keluarga tuan Eric.
"Cukup!! Cukupppp aku minta kalian berdua pergi dari rumah ku sekarang. Jangan pernah menginjakkan kaki kalian lagi kesini sebelum kalian berubah menjadi orang baik. Ingat satu pesan ku. Satu persen pun kalian tidak punya hak untuk mencampuri urusan masa lalu Ayah. Pergi!!" bentak tuan Eric kepada kedua adik nya.
Mereka berdua pergi meninggalkan kan perkataan bahwa kedua nya akan membalas semua perbuatan keluarga tuan Eric. Nyonya Sheila mendekati kedua putrinya disusul tuan Eric. Keluarga kecil itu kini berpelukan. Suasana haru di rumah itu sangat terasa. Tak henti-henti nya air mata sellyn terus mengalir membanjiri pipinya. Bagaimana tidak menangis tersedu-sedu karena baru kali Ia merasakan kehangatan keluarga yang didapat.
...----------------...
"Maaf kan Ibumu ini nak. Ini semua salah Ibu. Jika Ibu... "
"Ssstttt sudah bu jangan dibahas lagi. Sekarang kita coba telepon Veronika siapa tau dia bisa bantu kita"
Terlihat anak dan seorang ibu sedang duduk di bangku taman. Kedua nya kini sudah tidak tinggal dirumah peninggalan Almarhum Ayah nya. Nasib mereka malang melintang. Luntang lantung tak tentu arah. Tuan Rain merasa tidak berguna sebagai anak. Ia tidak bisa berpikir jernih lagi setelah kejadian yang baru saja terjadi dirumah nya.
"Veronika kembali ke apartemen ya kak, bu. Kakak tolong jaga ibu Baik-baik ya. Kalau ada apa-apa jangan lupa kabari aku"
"Gausah diberitahu. Lagian kalau Ibu bersamaku pasti aman. Kamu disana hati-hati jaga diri baik-baik. Kerja ya kerja jangan aneh-aneh. Kalau bisa setiap weekend kamu pulang biar bisa kumpul bersama kami ya" ucap tuan Rain sembari mengelus rambut adik nya. Nyonya Kirana hanya tersenyum melihat tingkah anak-anak nya.
Deggghhhh
Mendengar ucapan kakak nya Veronika merasa amat bersalah. Lekas ia menggubris semua pikiran nya dan berpamitan kepada ibu dan tuan Rain. Mereka bertiga berjalan menuju depan.
Tuan Rain dan Nyonya Kirana mengantarkan Veronika hanya sampai pintu depan. Setelah itu mereka melanjutkan sarapan pagi di ruang makan. Belum semenit mereka melanjutkan sarapan tiba-tiba....
__ADS_1
TOK TOK TOK TOK TOK!!
TOK TOK TOK
Tiga orang berpakaian preman mengetuk kediaman tuan Rain. Ketiga preman itu terlihat sangar. Tuan Rain dan Nyonya Kirana tergesa-gesa menuju pintu depan. Setelah pintu terbuka nampak sekali wajah dari preman itu menyeramkan. Tiga preman itu masuk nyelonong ke dalam rumah tanpa aba-aba.
"Kalian siapa? kenapa tiba-tiba lancang masuk ke dalam rumah saya. Tolong bersikap lah yang sopan... "
Brugghhhhhh
"Banyak bacotttt!! Silahkan kemasin barang kalian dan tinggalkan rumah ini sekarang juga. Ini surat perintah dari bos kami"
Tuan Rain dan Nyonya Kirana saling bertatap muka. Mereka berdua kini paham dan mengerti jika preman itu datang karena perintah dari Nyonya Viona dan adiknya. Melihat kedua nya hanya terdiam membuat ketiga preman itu melayangkan pukulan ke wajah tuan Rain.
Buggghhh
"Raiiiinnnn... Lepaskan anak saya. Jangan berani lagi kalian bertiga menyentuh anak saya lagi. Kami akan pergi dari sini. Beri kami waktu untuk merapikan pakaian kami"
Nyonya Kirana tidak terima melihat anak tersayang nya dipukul habis-habisan oleh preman itu. "Bu apa benar kita harus meninggal kan rumah yang penuh dengan sejuta kenangan ini? Rain ada sedikit tabungan bu. Seperti nya cukup membayar bunganya saja. Yang terpenting bagiku ialah Ibu dan rumah peninggalan Ayah ini bu. Ini semua kerja keras Ayah bukan?"
Nyonya Kirana hanya tertegun mendengar perkataan tuan Rain...
Bersambung....
__ADS_1