
Mihika menyimak penjelasan Arka dengan salah satu tangan menyangga wajahnya bertumpu pada meja. Mengakui jika Arka memang pria idaman, bukan hanya paras tapi postur tubuh yang membuat penampilannya semakin sempurna.
Johan mempersilahkan Mihika menyampaikan pendapat dan masukan dari penjelasan keadaan perusahaan saat ini. Berbekal ilmu yang sudah dipelajari selama kuliah dan pendampingan Johan akhir-akhir ini, Mihika memberikan pendapat menurut keyakinannya kemudian diperkuat dengan saran dari Johan.
Rapat pun berakhir. Mihika yang berada dalam rangkulan Arka menuju ruangannya di ikuti Mae. Wanita itu tidak mengerti dengan hubungan kedua orang dihadapannya. Johan pun mengekor menuju ruangan Arka.
Mihika duduk di sofa sedangkan Arka menuju kursinya. Mae menunjuk map yang berada di atas meja Arka agar segera diberikan approval. “Mae, kamu nggak usah bingung. Pak Arka dan aku sudah menikah, bahkan sekarang ada Arka junior di sini,” ujar Mihika dengan bangga sambil mengusap perutnya.
“Wah, benarkah. Aku nggak tahu, ternyata Pak Arka tahu aja mana produk orisinil mana yang imitasi,” sahut Mae.
Arka berdecak, “Kalian berdua itu sama ya, mulutnya nggak bisa dijaga. Apa maksud dari produk orisinil dan imitasi.”
Johan yang baru saja tiba,duduk di sofa tidak jauh dari Mihika, menatap Mae dari ujung rambut sampai ujung kaki. Wanita itu memang terlihat cantik, cantik khas perempuan Indonesia. Berbeda dengan Mihika yang masih ada keturunan asia dari keluarga ibunya.
“Om Jo,” panggil Mihika menyadarkan dari lamunan pria yang sudah berkepala empat itu. Mihika terkekeh melihat tingkah Johan dan Mae yang takut karena mendapat tatapan menelisik dari Johan.
“Antarkan berkas ini dan kembali lagi ke sini,” titah Arka.
“Baik Pak.”
__ADS_1
Setelah Mae menghilang dibalik pintu, Mihika kembali menggoda Johan. “Cie, kayaknya tertarik tuh sama Mae. Perasaan dari tadi dipandang terus.”
“Kamu yang mulai, bikin orang penasaran aja.”
Arka ikut duduk di samping Mihika. “Sayang, aku sudah sampaikan pada Pak Johan kita akan mengadakan resepsi. Kamu mau ‘kan?”
“Resepsi? Pak Arka serius?”
Arka menganggukkan kepalanya. “Nanti kamu ditemani Mae pilih mau konsep, tema termasuk lokasinya. Diskusi saja dengan Mae, aku dan Pak Johan masih ada yang perlu dibicarakan.”
“Oke, Om Jo nggak ingin sekalian. Jadi kita di pelaminan dua pasangan gitu. Kayaknya seru deh.”
Arka hanya menggelengkan kepalanya mendengar ide yang disampaikan Mihika.
“Mae, temani istriku memilih konsep resepsi pernikahan termasuk embel-embelnya.” Arka menyerahkan tablet untuk Mae menunjukan tema pesta, dekorasi dan segala macam kelengkapannya. Johan sempat melirik Mae yang tadi berdiri di samping meja Arka.
Untuk ukuran seorang wanita, Mae cukup matang secara fisik dan penampilan. Meskipun Johan tahu umur Mae tidak jauh beda dengan Mihika. “Baik Pak,” jawab Mae.
“Kamu temani disini saja. Di luar berbahaya, bisa-bisa aku ketemu saingan,” ucap Arka.
__ADS_1
Cukup lama Mae dan Mihika berkutat dengan tabletnya. “Ini sudah saya list yang diminta Nona Mihika, sebelum dikirim bisa dicek lagi.”
“Kalau kamu mau konsep pernikahan seperti apa?” tanya Mihika.
“Hm, gimana ya. Saya tuh ingin tema pernikahan outdoor, macam pesta kebun gitu. Gaun yang dipakai ya sederhana saja.”
“Om Jo, dengar nggak keinginan Mae tadi?” tanya Mihika dengan suara sedikit berteriak.
“Nona Mihika, kenapa ditanyakan ke Pak Johan,” lirih Mae khawatir jika pria yang dimaksud menduga kalau dirinya memanfaatkan situasi dan kondisi.
“Dengar,” jawab Johan. Arka terkekeh mendengar jawaban Johan.
“Terus gimana nih Om, mau lanjut atau nggak?”
“Nona Mihika,” seru Mae.
Johan menghela nafasnya, “Kamu mulai aneh ya, jelas-jelas aku dan suamimu sedang memikirkan bagaimana caranya kantor ini bisa teta eksis. Ini malah jadi mak comblang. Kalau dianya mau, gasss terus," tutur Johan.
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\= ehemmmm