
Telepon yang masuk dari orang kepercayaan Arka, yang memantau kondisi antek-antek Anjay Gunawan. Yang tidak terbukti secara langsung bersalah, akhirnya hanya mendapatkan pemecatan dari perusahaan.
Kondisi perusahaan sudah semakin stabil tinggal bagaimana mengelola agar semakin baik. Setelah kecurangan yang terjadi dan itu berada di bawah kepemimpinam Arka, dirinya merasa bertanggung jawab untuk mengembalikan kondisi perusahaan.
Sudah tiba di kantor dan siap menerima klien untuk rapat, Arka menghubungi Johan. "Halo," sapa Arka.
"Hm."
Arka berdecak, "Cuti resepsi pernikahan terpaksa harus aku percepat karena pernikahan kalian. Bahkan sekarang aku harus kerja sendiri dan mencari pengganti Mae."
"Karyawan di kantor cabang tempatmu itu ratusan orang, masa tidak ada kandidat yang bisa menggantikan Mae."
Arka belum sempat menjawab, terdengar suara Mae bertanya pada Johan diujung telepon. "Halo, Pak Arka," ucap Mae.
"Iya."
"Pak, maaf aku belum bisa masuk kerja. Untuk kegiatan hari ini berkas sudah siap, saya sudah menghubungi salah satu staf marketing untuk bantu Bapak, ruangan rapat pun sudah oke oleh OB yang bertugas dan ...."
"Mae," panggil Arka.
"Iya Pak."
"Sampaikan pada suamimu, aku susah cari pengganti kamu dalam waktu dekat."
"Pak Johan, diam dulu aku sedang bicara dengan Pak Arka," terdengar Mae yang terggangu oleh oleh Johan.
Arka menghela nafasnya, memaklumi ulah bujang lapuk yang sedang menikmati masa-masa indah pengantin baru.
__ADS_1
"Maaf Pak Arka, nanti saya sampaikan pada Pak Johan. Saya usahakan besok sudah kembali ke kantor," jawab Mae. Arka hanya menggelengkan kepalanya mendengar Johan keberatan dengan ucapan Mae.
"Ya sudahlah, urus dulu bayi besarmu." Arka pun mengakhiri panggilan. Bersamaan dengan pintu ruangannya diketuk dan masuklah seorang laki-laki. yang merupakan salah satu pegawai di perusahaan.
"Selamat pagi, Pak. Saya diminta oleh Nona May untuk mendampingi dan membantu pekerjaan Pak Arka selama beliau cuti."
Arka menghela nafasnya, Mae menugaskan Dio untuk membantunya. Padahal sebelumnya, Arka kurang suka dengan laki-laki yang saat ini ada dihadapannya. Menurutnya, Dio menyukai Mihika. Sebagai sesama laki-laki, Arka bisa membaca hal itu dari gesture tubuh dan sikap Dio saat berada dekat dengan Mihika.
"Hm," jawab Arka kemudian. Dia harus profesional untuk menerima Dio sebagai pengganti Mae sementara.
...***...
Hari yang cukup sibuk itu telah terlewati. Agenda hari ini berjalan dengan baik dihandle oleh Dio. Arka yang mengira akan berlangsung kacau, ternyata hasil kerja Dio cukup memuaskan.
Berbeda dengan Johan yang kesal karena sebentar-bentar Mae fokus pada ponselnya mengarahkan Dio.
"Nggak usah cemberut begitu, nggak keren tau nggak. Biasa sangar sekarang menye-menye," ejek Mae untuk Johan.
"Kita ini sedang cuti, kamu ngapain malah sibuk ngurusin kantor."
"Idih, mulai pikun ya. Itu kantor tanggung jawab siapa? Pak Johan juga 'kan? Ini tuh proses kalau aku mau resign. Please deh nggak usah lebay kayak anak ABG yang ngambek sama pacarnya."
Johan berdecak mendengar ejekan Mae. "Ayo makan dulu," titah Mae. Johan berjalan malas menghampiri meja makan, meskipun memasang wajah cemberut tapi dia mengekor kemana pun Mae bergerak.
"Udah deh nggak usah cemberut, atau nggak ada jatah malam in," ancam Mae.
"Ck, baru juga beberap kali diasah udah mau stop lagi. Nggak ada, pokoknya malam ini giliran aku lembur kerja."
__ADS_1
"Lembur apa?" tanya Mae.
"Lembur ngerjain kamu," jawab Johan sambil mengerlingkan matanya.
Sedangkan dikediaman Yodha. Mihika baru saja tiba di rumah, tidak lama kemudian Arka pun tiba.
"Kamu juga baru sampai?" Mihika menganggukan kepalanya. Arka mengecup kening Mihika lalu menunduk untuk mencium perut Mihika.
"Jangan capek-capek dong, kamu ada asisten nggak?" tanya Arka sambil merangkul pundak Mihika dan berjalan bersama masuk ke dalam rumah.
"Ada, tapi tetep aja agak sibuk, Om Jo belum ada ke kantor."
"Bujang lapuk itu lagi menikmati masa-masa enaknya."
Mihika memukul lengan Arka. "Kayak kamu nggak gitu aja, waktu pertama berhasil jebol perempuan juga pasti sikap kamu mirip Om Jo."
"Ya nggaklah, sebelumnya aku berbuat karena nafs* tapi sekarang sama kamu karena cinta."
"Halahh gombal."
Arka hanya terkekeh. "Kita mandi bareng ya."
"Nggak ah, nanti badan aku di sentuh-sentuh lagi."
"Ya ampun Mihika, kita suami istri wajar kalau aku sentuh kamu sana sini. Orang sudah halal dan hak aku dong," tutur Arka.
"Gantian aja deh, nanti malah kelamaan kalau mandi bareng."
__ADS_1
"Ya gak apa dong, lagian siapa yang tahan punya istri seksih begini," ujar Arka
\=\=\=\=\=