CINTA DIBAYAR TUNAI

CINTA DIBAYAR TUNAI
Cari Gara-gara


__ADS_3

“Arka, apa kabar?”


Mihika dan Arka menoleh ke arah suara. Seorang wanita yang mengenakan gaun cukup seksi dan terlihat sangat menggoda menatap Arka dengan penuh senyuman.


“Baik. Kamu sendiri apa kabar?” tanya Arka pada Helen.


Mihika mengernyitkan dahinya setelah memandang wanita itu dari kepala sampai kaki. Helen, wanita itu adalah Helen. Bahkan Mihika pernah menyaksikan Arka dan Helen dalam satu selimut saat dia masih bekerja sebagai asisten dengan identitas Hika.


“Seperti yang kamu lihat. Tidak menyangka kita bisa bertemu disini,” ujar Helen.


Mihika yang memeluk lengan Arka, menarik ujung lengan suit yang dikenakan Arka membuatnya menoleh. Melihat wajah Mihika yang tidak bersahabat, Arka tidak ingin ada salah paham dan membuat Helen menduga Arka merespon dirinya.


“Permisi, kami sapa yang lain dulu,” ujar Arka.


“Tunggu, aku ingin bicara,” pinta Helen memegang lemgan Arka.


“Apa anda tidak dengar kalau Arka akan menyapa tamu lainnya,” sahut Mihika.


Arka mengusap tangan Mihika yang sedang memeluknya, agar tidak terlalu emosi mengingat saat ini mereka adalah tuan rumah.


Helen berdecak, “Apa urusanmu, aku hendak bicara dengan Arka bukan denganmu.”


“Helen ….” ucapan Arka disela oleh Mihika.


“Tentu saja jadi urusanku, Arka itu suamiku dan dia akan menemaniku menyapa para tamu. Lagi pula siapa yang mengundangmu di acara ini, sepertinya kehadiranmu di sini hanya mencari mangsa para pria mapan.”


“Sayang, sudahlah. Tidak enak dilihat tamu lain,” bisik Arka.


Johan yang kebetulan berada tidak jauh dari Mihika dan Arka melihat ada  interaksi  yang aneh dari ketiga orang itu lalu menghampiri. “Apa apa ini?”


“Om Jo, aku nggak ngerti wanita ini perwakilan dari mana. Berani-beraninya menggoda suamiku,” tutur Mihika.

__ADS_1


“Sudah, biar aku yang urus. Arka ajak Mihika menyapa yang lain,” titah Johan.


“Tunggu,” ujar Helen ingin menahan Arka dan Mihika tapi ditahan oleh Johan. Johan juga memanggil keamanan yang mengenakan suit layaknya seorang bodyguard. “Cek undangan Nona ini, jika tidak ada di dalam list jangan biarkan dia berada di sini.”


“Tunggu dulu,” ujar Helen pada Johan. “Apa benar Arka sudah menikah dengan wanita yang tadi?”


“Iya dan wanita tadi itu adalah Mihika Yodha. Penerus bisnis keluarga Yodha, tuan rumah acara ini,” terang Johan. Membuat Helen terperangah.


“Nona mari ikut kami,” ujar bagian keamanan yang tadi dipanggil oleh Johan.


“Hey, aku  punya undangan acara ini,” jawab Helen.


“Baik Nona, mari ikut kami ke meja pemeriksaan untuk pengecekan. Mohon maaf atas ketidaknyamanan."


“Kalian tidak  tahu siapa aku?”


“Tidak Nona, maka dari itu mari ikut kami.”


Sedangkan Mihika dan Arka sudah mulai menyapa para tamu dan saat ini acara sudah dimulai. Duduk pada meja khusus keluarga Yodha. Bukan hanya ada Arka, Mihika, Johan dan Mae yang ada di meja yang sama tapi beberapa orang kepercayaan Aditya yang saat ini juga menjadi orang kepercayaan Johan dan Mihika.


Mihika dan Johan yang berada di atas panggung mengucapkan terima kasih dan melakukan bow sebagai penutup acara, disambut riuh tepuk tangan. Bukan hanya tamu undangan saja, tapi sebagian yang hadir adalah karyawan Intiland Property perwakilan dari beberapa cabang dan bagian.


Arka melihat Mihika sudah cukup lelah segera menyambutnya saat menuruni tangga. Bahkan saat tamu undangan sudah mulai bubar, Aka berjongkok untuk melepaskan heels yang dikenakan Mihika.


“Papih jangan begitu,” ujar Mihika saat Arka memijat telapak kakinya.


“Aku tahu ini rasanya pasti sangat pegal. Cukup tinggi dan sejak tadi kamu berjalan dan berdiri terus.”


“Iya, tapi rasanya aku jadi kurang ajar pada suami.”


“Kalau aku rela, tidak masalah. Ini adalah bagian dari rasa sayangku.”

__ADS_1


“Uhhh, so sweet,” ujar Mihika lalu terkekeh.


Mae yang duduk tidak jauh dari Mihika menatap sekeliling mencari keberadaan Johan. Sejak tiba di ballroom, Mae hanya duduk atau ke toilet. Perutnya yang sudah cukup membola membuatnya sulit beraktifitas berat.


“Pak Johan kemana sih?”


“Masih sibuklah, dia lebih sibuk dibandingkan sek_si sibuk.”


Mae berdecak, “Kalian mesra banget sih, aku jadi iri,” seru Mae.


Arka sudah beranjak duduk di samping Mihika, merangkul bahu istrinya. “Bagus deh kalau iri, kalian juga begitu waktu Mihika melahirkan. Tanpa rasa bersalah, mesra-mesraan di depan kita, iya ‘kan sayang?” tanya Arka.


Mihika hanya mengangguk kemudian terkekeh. Mae menghubungi Johan.


“Pak Johan dimana sih?” tanya Mae saat panggilannya sudah dijawab.


“Aku diluar sayang, sebentar lagi aku masuk.”


“Di luar mana? Masuk kemana?”


“Ambigu banget sih,” keluh Mihika yang mendengar ucapan Mae.


“Sebentar lagi aku ke sana.”


“Cepetan,” titah Mae.


“Kamu semenjak menikah dengan Pak Johan kenapa jadi manja begini?”


“Ya nggak masalah dong Pak, manja dengan suami sendiri. Kecuali manjanya ke Pak Arka,” sahut Mae.


“Kalau itu namanya cari gara-gara,” ujar Mihika.

__ADS_1


Arka tertawa melihat Mae dan Mihika berdebat. “Siapa yang cari gara-gara?” tanya Johan.


 "Tuh," tunjuk Mihika ke arah Mae.


__ADS_2