CINTA DIBAYAR TUNAI

CINTA DIBAYAR TUNAI
Rencana Mendapatkan Arka


__ADS_3

Arka mengurungkan niatnya untuk berangkat karena Mihika yang terbaring sakit. Mengambil persediaan obat penurun panas untuk diberikan pada Mihika, tapi menyadari jika Mihika harus makan terlebih dahulu.


Mencoba membuatkan bubur dengan panduan video dari yout*be. Sambil terus mengaduk bubur dan menunggu matang, Arka menghubungi Mae untuk mengarahkan apa yang darurat dan harus dilakukan olehnya.


Membawa semangkuk bubur ke kamar dan meletakkan di atas nakas. "Hika, bangunlah. Kamu harus makan dan minum obat," ujar Arka sambil pelan-pelan menggoyangkan tubuh Hika.


"Hm."


"Hika, bangunlah." Arka mengusap pipi Mihika, "Hika, bangun dan makan atau kamu yang aku makan."


"Pak Arka, kepalaku pusing. Aku cuti hari ini," sahut Mihika.


Arka berdecak, "Aku minta kamu bangun untuk makan bukan untuk kerja."


"Tumben Pak Arka baik atau ada udang dibalik bakwan," tutur Mihika.


"Kamu sakit, tapi mulut kamu tetap konsisten untuk menjawab ucapanku. Ayo bangun!" Arka menyibak selimut Mihika.


Mihika akhirnya mengerjapkan matanya, "Saya beneran sakit pak." Mihika bersandar pada head board. Arka mengambil mangkuk bubur dan menyerahkan ke pangkuan Mihika yang dilirik malas.


"Aku malas makan."


Arka kembali meraih mangkuknya lalu menyendokan isi mangkuk dan menyuapkan pada Mihika. Mihika enggan membuka mulutnya. "Buka mulutmu!" titah Arka.


Mihika menggelengkan kepalanya. Arka berdecak lalu menyuapkan sendok ke mulutnya sendiri. Mendekatkan wajahnya ke wajah Mihika. Kedua tangan Mihika menahan dada Arka. "Jangan bilang Pak Arka mau suapi aku dari mulut Pak Arka. Ya udah aku makan sendiri," sahut Mihika lalu mendorong wajah Arka agar menjauh dan meraih mangkuk yang dipegang Arka.

__ADS_1


"Habiskan, ini obatnya." Arka lalu keluar dari kamar.


"Aneh, tiba-tiba jadi baik. Nanti berubah lagi jadi galak. Gitu aja terus sampai aku nikah dengan Lee Min Ho."


"Lee Min Ho nggak mau nikah dengan istri orang," teriak Arka dari luar kamar.


"Mau kalau Pak Arka sudah ceraikan aku."


"Jangan berharap. Lebih baik habiskan makananmu dan minum obatnya atau ...."


Bruk.


Mihika beranjak turun dan menutup pintu kamar.


Mihika kembali merebahkan tubuhnya, berusaha untuk tertidur lagi. Sedangkan Arka berada di ruang kerjanya mengawasi dan mengarahkan pekerjaan dari rumah.


Menjelang siang, Arka kembali ke kamar untuk melihat kondisi Mihika. Menggelengkan kepalanya melihat kondisi tidur Mihika. Selimut yang sudah menjuntai ke lantai, bahkan posisi tidur yang jauh dari kata cantik. Untung saja Mihika mengenakan piyama. Bisa dibayangkan jika dia menggunakan gaun tidur, sudah pasti ....


"Hika, bangun. Kamu harus banyak minum, badan kamu masih panas. Baiknya kita ke dokter saja," ajak Arka.


Mihika malah merubah posisi tidurnya dengan berbaring miring. "Hika," panggil Arka.


"Berisik tau, kepala ku pusing. Boro-boro mau pijat kepala aku, ini malah teriak-teriak nggak jelas."


Arka akhirnya duduk di ujung ranjang, lebih tepatnya duduk di samping kepala Mihika. Memijat kepala wanita yang saat ini telah menjadi istrinya. Mihika sepertinya merasa nyaman dengan pijatan yang dilakukan oleh Arka.

__ADS_1


"Enak banget Pak, aku doakan makin ganteng deh," puji Mihika masih dengan mata terpejam.


"Aku juga bisa pijat pluus-pluus, mau bukti?"


“Eh, jangan macem-macem ya Pak. Aku sedang tidak ada tenaga untuk bertengkar apalagi berantem. Jauh-jauh sana,” usir Mihika.


“Ayo, kita ke Dokter. Aku sibuk jadi kamu tidak boleh sakit.”


“Apa hubungannya sama sakit aku, kalau Pak Arka mau kerja ya kerja aja. Aku juga bisa urus diri sendiri.”


“Ya pasti ada hubungannya dong. Kamu itu asisten aku, jadi kalau kamu sakit pekerjaan aku akan kacau,” jelas Arka.


Mihika berdecak, “Cari asisten baru aja sih. Kalau perlu Lela anaknya Pak Anjay tuh jadikan asisten. Biar bisa mesum terus.”


“Kamu kalau bicara pada suami itu dijaga jangan asal jeplak. Tapi ide kamu boleh juga, aku harus hubungi Lela,” ucap Arka sambil berjalan menjauh dari ranjang dimana Mihika masih berbaring nyaman di sana.


“Idih, dimana-mana laki-laki memang buaya darat.”


Mihika terus mengoceh mengejek Arka sedangkan orangnya malah menuju dapur untuk membuat kopi. Dia hanya bermaksud menggoda Mihika dengan mengatakan kalau idenya sangat brilian.


Sedangkan di tempat berbeda, Anjay sedang berbicara dengan Lela. “Coba kamu pikirkan bagaimana cara mendapatkan Arka. Dia bisa kita jadikan pijakan untuk merebut kepemimpinan.”


“Tapi aku benar suka dengan Arka.”


"Kita hanya perlu kuasanya, jadi jangan sampai kamu terlena."

__ADS_1


__ADS_2