CINTA DIBAYAR TUNAI

CINTA DIBAYAR TUNAI
Hika Atau Mihika


__ADS_3

Arka menyanggupi permintaan Johan untuk kembali ke perusahaan dan masih dengan egonya tidak ingin bertemu Mihika. 


Berita mengenai pernikahan Mihika Yodha ramai dibicarakan di grup chat perusahaan. Semua karena ulah Lela, Arka sangat geram dengan hal ini akhirnya memberikan sanksi dengan memindahkan Lela ke cabang lain. 


"Mana Pak Arka," ujar Lela saat dihalangi oleh Mae yang ingin masuk ke ruangan direktur. 


"Pak Arka sibuk, dia nggak ada urusan dengan kamu." 


"Pak Arka!" teriak Lela. Arka yang sedang menerima client terganggu dengan keributan di luar. 


"Ada apa ini?" 


"Arka, aku nggak terima dengan keputusan ini. Ayahku dipenjara dan aku dimutasi, kalian sungguh kejam." 


Arka menghela nafasnya. "Kejam mana dengan ulah ayah kamu merugikan perusahaan?  Kamu dimutasi karena ulah kamu sendiri, menghina pemilik perusahaan dan menyebarkan berita yang tidak benar." 


Lela bungkam karena yang dikatakan oleh Arka adalah benar. "Saya lebih memilih resign dibandingkan harus mutasi." 


"Oke, fine. Saya tunggu suratnya." 


"Pak Arka kok nggak tahan aku." 


"Untuk apa? Kita tidak ada kepentingan sampai saya harus menahan keberadaan kamu." 


"Pak Arka, tapi kita pernah ...."


"Just kiss dan itu kamu yang datang ke ruanganku. Kita tidak pernah ada pernyataan cinta  jadi jangan berpikir yang aneh dan terlalu jauh."


Sedangkan di tempat berbeda, Mihika berada di bawah arahan Johan mempelajari bagaimana membaca laporan keuangan juga pergerakan saham. Meskipun sesekali dia akan mengeluh tidak sanggup.   


...***...


Usia kehamilan Mihika sudah memasuki enam belas minggu, tentu saja perutnya sudah terlihat membuncit. Tidak mudah bagi Mihika melewati masa-masa awal kehamilan, bukan hanya karena morning sickness dan segala keluhan lainnya tapi yang paling menyiksa adalah rindu. Ya, rasa rindu pada Arka.


Entah karena mood ibu hamil atau memang bawaan bayi yang dikandungnya, setiap malam Mihika sangat merindukan kehadiran Arka. Tanpa Mihika ketahui dia sering mengigau memanggil-manggil Arka.


Saat ini Mihika duduk berselonjor di atas sofa ruangan Johan. “Sudah mengerti, jadi apa kesimpulanmu dengan saham hari ini?”

__ADS_1


Mihika yang sedang memegang tablet menyimak fluktuasi saham, menjawab dengan pengetahuannya. “Bener ‘kan? Mihika gitu loh,” sombong Mihika Johan.


“Hm. Jangan lupa nanti malam,” cecar Johan.


Mihika mendapatkan undangan pesta dari rekan bisnisnya, kembali  diingatkan oleh Johan. “Om Jo teman aku ya.”


“Hm.”


“Ham hem ham hem, bisa nggak sih jawab tuh yang benar.”


“Khawatir kamu lelah, aku sudah booking kamar jadi bisa menginap sekalian. Lagi pula besok weekend,” ujar Johan.


“Memang nggak bisa ya, Om Johan aja yang datang sendiri. Masa harus dengan  aku terus, aku malas Om.”


“Diusir malasnya, kamu ini pengganti Aditya Yodha. Wajar kalau orang penasaran dan berusaha dekat dan mengenal kamu.”


Mihika berdecak, lalu meletakan tabletnya di meja sofa. “Sudah waktunya istirahat ‘kan, aku rebahan dulu ya,” ujar Mihika lalu beranjak dan menuju kamar rahasia milik ayahnya.


Menjelang malam, Mihika sudah berganti gaun pesta termasuk make up dan tatanan rambutnya. Johan yang akan menemani Mihika pun sudah rapih. Setiba di tempat acara, Mihika yang menggandeng lengan Johan menemui rekan bisnis ayahnya. Selalu menunjukan wajah tersenyum dan berusaha menjawab setiap pertanyaan bahkan sesekali ikut terbawa diskusi dari kumpulan para pengusaha.


Arka yang juga mendapatkan undangan acara yang sama dengan Mihika sudah berada di lokasi sejak tadi. Melihat Johan, Arka pun mencari sosok lain. Ternyata tidak menemukannya, dia pun menghela nafasnya.


“Arka.”


Dalam hati Arka mengumpat, ketika yang ditemuinya malah wanita yang bukan dia cari.


“Kamu kemana saja? Aku dengar sudah tidak tinggal di apartemen?”


“Hm,” Arka mengambil gelas minuman yang dibawa pelayan lalu meneguk habis isinya.


“Kamu nggak rindu aku?” tanya Cintia lagi, bahkan saat ini sudah memeluk lengan Arka.


“Maaf, aku harus ke belakang.” Arka ingin menghindari wanita itu dengan beralasan ingin ke toilet, ternyata wanita itu tidak ingin kehilangan Arka dan memilih meng ekornya. “Cintia lepaskan tangan kamu.” Keduanya terlibat perdebatan di koridor menuju toilet.


Mihika yang baru saja keluar dari toilet perempuan terkejut melihat Arka. Terpaku di tempatnya, karena kerinduannya cukup terobati setelah melihat wajah yang setiap malam membuatnya menangis. “Pak Arka,” gumamnya.


“Cintia minggir dulu, bagaimana ....” kalimat yang diucapkan Arka terhenti menyadari wanita yang berdiri di hadapannya adalah Mihika. Menatap tanpa berkedip wanita yang statusnya masih sebagai istri halalnya. Arka mengerutkan dahinya melihat ada perbedaan dari tubuh Mihika, terutama di bagian perutnya.

__ADS_1


Sedangkan Mihika memandang wanita yang menempel pada tubuh Arka. Menghela nafasnya, “Permisi,” ujar Mihika agar keduanya bergeser memberi jalan untuknya.


Cintia pun menggeser tubuhnya dengan semakin merapatkan pelukannya pada Arka. “Malam ini kamu nggak akan bisa pergi dari aku, Arka,” tutur Cintia saat Mihika melewatinya.


“Mihika,” gumam Arka. Dia berdecak, lalu menghempaskan tangan Cintia. “Maaf, aku tidak ingin kasar pada wanita tapi kamu benar-benar … argg.” Arka bergegas menyusul Mihika. Memandang sekeliling area pesta tapi tidak menemukan sosok Mihika. Dia penasaran dan ingin memastikan sesuatu. Menurunkan egonya dengan menghampiri Johan.


“Pak Johan,” sapa Arka. Johan pun menoleh, “Oh, Pak Arka, anda disini juga?”


“Dimana Mihika, tadi aku melihatnya.”


Johan mengedikkan bahunya, “Sudah ke kamar mungkin. Tadi dia bilang lelah.”


“Kamar? Dia menginap disini?”


“Hm.”


“Aku harus bertemu dengannya,” ucap Arka.


Johan mengajaknya Arka menjauh dari rekan-rekannya. “Untuk apa? Selama ini bahkan kamu tidak pernah menemuinya.”


Arka berdecak, “Come on, katakan nomor kamarnya!”


“Kalau hanya ingin mengatakan kamu ingin berpisah, sampaikan padaku. Jangan buat dia sedih dan terpuruk dengan menemui hanya untuk berpisah.”


Arka mengusap wajahnya, karena kesal. “Nomor kamarnya?” Johan menggelengkan kepala sambil melipat kedua tangan didada, berpikir jika Arka benar-benar akan mengakhiri hubungannya dengan Mihika dia sedang bertindak seakan orangtua yang sedang melindungi anaknya.


“Sumpah, aku sangat ingin memukulmu. Aku ingin bertemu Mihika, memastikan sesuatu bahkan dia tadi salah sangka dengan yang dilihatnya,” jelas Arka.  Akhirnya Johan menyebutkan nomor kamar Mihika dan tanpa permisi Arka meninggalkan Johan.


Arka kembali geram karena lift ramai bahkan dia harus rela menunggu lift lainnya. Sedikit berlari di koridor lantai tujuannya mencari nomor kamar yang disebutkan Johan. “Tujuh dua tiga,” ujar Arka memastikan nomor kamar yang tertera pada pintu dihadapannya.


Dia menekan bel juga mengetuk pintu kamar tersebut. Pintu kamar pun terbuka menampilkan sosok yang sejak tadi membuatnya penasaran dan tidak karuan. “Pak Arka!”


“Pak Arka,” ucap Mihika. Arka kembali memandang wajah Mihika lalu pandangannya turun ke perut wanita itu. Dress yang dikenakan Mihika memang khusus untuk ibu hamil. Kerutan di bawah dadanya membuat perut Mihika terlihat jelas sudah sedikit membuncit.


Mihika melangkah mundur saat Arka merangsek maju. “Hika atau Mihika,” ujar Arka semakin mengikis jarak dengan tatapan tajam. Dengan kakinya dia menutup pintu kamar karena memandang Mihika. 


\=\=\=\=\= eng ing engg, cie ketemu lagi sama Arka

__ADS_1


__ADS_2