CINTA DIBAYAR TUNAI

CINTA DIBAYAR TUNAI
Dasar Suami ....


__ADS_3

“Selamat pagi, Pak Arka. Makin ganteng aja.” Arka dan Mihika yang sedang menunggu lift menoleh ke arah suara.


Mihika menoleh pada Arka ingin melihat tanggapan suaminya melihat Lela Gunawan yang sudah berdiri di samping Arka. Dengan setelan rok dan blazernya yang terlihat pas cenderung sempit membuat lekuk tubuh Lela semakin jelas. Arka hanya berdehem menjawab sapaan Lela, entah karena merasa tidak enak karena ada Mihika atau memang benar-benar tidak berminat dengan Lela.


“Pak Arka sudah sarapan belum?” tanya Lela dengan suara manja. “Kalau belum mau sarapan bareng Lela nggak?”


Arka tidak menjawab karena pintu lift terbuka, Mihika lebih dulu masuk dan bersandar di dinding lift. Arka awalnya berdiri di depan Mihika dan Lela yang langsung mengambil tempat di samping Arka. Melihat masih ada beberapa orang lagi yang ikut masuk ke dalam lift dan hampir penuh, Arka mundur dan kini berdiri di samping Mihika.


Lela menoleh dan terlihat kecewa, entah apa yang dipikirkan dan direncanakan oleh wanita itu. Tangan Arka meraih tangan Mihika dan menggenggamnya erat seakan membuktikan jika dia tidak ada hubungan dengan Lela atau tidak tertarik dengan Lela. Mihika hanya berdecak, merespon genggaman tangan Arka.


Akhirnya beberapa orang mulai keluar dari lift sesuai lantai yang dituju, termasuk Lela.


“Pak Arka aku duluan ya, aku siap dihubungi kapan aja,” ujar Lela lalu mengedipkan salah satu matanya.


“Hah, mau jadi perempuan siaga gitu,”gumam Mihika


“Bukan urusan kamu ya,” ujar Lela lalu keluar dari lift.


Mihika menoleh, “Memang Pak Arka sering hubungi Lela? Eh, nggak usah dijawab, malas juga dengarnya.”


Tangan Arka berpindah merangkul bahu Mihika, lebih memilih diam. Karena saat ini, apapun yang akan diucapkan Arka hanya akan membuat Mihika salah paham kembali mendengarkan sindiran dari Mihika. Arka juga menyadari jika istrinya ini lumayan cerdas dan pintar berkata-kata.


“Pak Arka ....”


“Sttt, sudah nanti lagi bahasnya, ini di kantor kita harus profesional.”


Mihika kembali berdecak. Pintu lift terbuka di lantai tujuan mereka, bergegas keluar mendahului Arka dan masuk ke ruang kerjanya.


“Selamat pagi, Pak. Pesanannya sudah saya siapkan di ruangan Bapak,” ujar Mae.


“Hm, panggil Hika.”


Arka duduk di sofa ruang kerjanya saat Mihika datang, seperti biasa tanpa mengetuk pintu. "Apaan sih Pak, aku sedang kerjakan yang Pak Arka minta kemarin. Lagian kalau banyak jalan, ini masih sakit," kesal Mihika. 


"Kamu kebiasaan, kalau masuk ketuk pintu dulu. Sini duduk, aku obati biar cepat sembuh. Duduklah!" 


Di meja sofa sudah ada dua box makanan dan plastik kecil brand apotik terkenal. “Nggak usah, biar aku obati sendiri.”

__ADS_1


"Duduk!" 


Mihika pun akhirnya duduk di samping Arka tapi berjarak. "Buka," perintahnya lagi sambil meraih plastik dan mengambil produk berbentuk tube. 


"Apanya yang dibuka?" 


"Rok kamu, aku mau oles ini. Katanya sakit," sahut Arka. 


"Iya tapi nggak disini juga dan aku bisa sendiri." Mihika merebut  tube cream yang dipegang Arka lalu menuju toilet. 


"Kemarilah!" titah Arka saat Mihika keluar dari toilet. "Makanlah, kalau tidak kamu yang akan aku makan." 


...***...


Arka meminta Mihika untuk mengambil dokumen dari ruang arsip sesuai list yang Arka buat. 


"Ruang arsip sudah aku ganti passcode, tidak akan ada yang bisa masuk. Tapi kita tidak tahu siapa saja yang terlibat. Jadi kamu bawa dokumen dalam list ini, pindahkan ke tempat aman. Akan ada security yang bantu kamu dan dia orang kepercayaanku, karena dokumen yang dibawa cukup banyak jadi kamu gunakan trolley." 


Mihika membaca list yang Arka berikan, isinya nama proyek yang sudah selesai. Dia harus mencari draft, proposal dan laporan dari tiap proyek. 


"Lalu aku harus bawa kemana?" 


"Passcode-nya?" 


"Tanggal kita menikah." 


"Hahh." 


"Sudah sana, cepat kerjakan!' 


Mihika membenarkan letak kacamatanya yang melorot dari hidungnya, "Baiklah."


Apa yang dikatakan Arka ternyata benar, saat berdiri menunggu pintu lift terbuka. Mihika dikejutkan dengan Anjay dan dua orang paruh baya yang Mihika kenal sebagai petinggi di cabang itu juga. Mihika hanya mengangguk pada orang-orang itu, yang sudah pasti menuju ruangan Arka.


Sudah ada seorang security yang menunggu di depan ruang arsip. Mihika pun menekan kode untuk membuka pintu dan bergegas mencari dokumen yang ada di list dan memasukan ke dalam trolly. Tiba-tiba terdengar bunyi sensor pintu karena salah memasukkan kode.


“Cepat Bu Hika, sepertinya ada yang berusaha untuk masuk. Hanya Ibu dan Pak Arka yang mengetahui kode akses.”

__ADS_1


Mihika kembali fokus pada pencarian tapi dikejutkan dengan getaran ponselnya. “Halo,” ucap Mihika.


“Hika, kamu masih di ruang arsip?” tanya Arka di ujung telepon.


“Iya, sepertinya ada yang ingin masuk.”


“Lela dan staf lain, entah siapa namanya. Mereka akan mengambil dokumen yang sedang kamu kumpulkan, itu barang bukti kejahatan mereka.”


“Lalu, gimana dong?”


“Lanjutkan, aku sedang pantau lewat CCTV. Kamu keluar kalau kondisi sudah aman.”


...***...


Mihika berjalan cepat dengan troli yang didorong oleh security menuju mobil van yang terparkir di basement, entah mobil siapa. Setelah memastikan semua dokumen berpindah ke dalam mobil, termasuk trolly yang nanti digunakan untuk memindahkan ke dalam unit apartemen Arka.


“Hati-hati Bu, Pak Arka bilang harus ibu sendiri yang bawa mobil.”


Mihika hanya menganggukan kepalanya. Merasa gugup karena selangkah lagi dia akan mengungkap kejahatan yang terjadi di perusahaannya.


“Ayah, semua akan terungkap dan aku pastikan mereka akan mendapatkan balasan yang setimpal karena kejahatan mereka,” ujar Mihika seakan ayahnya mendengar apa yang dikatakan olehnya.


Mihika menghentikan mobilnya di parkiran basement apartemen. Khawatir jika dirinya diikuti, dia pun menunggu sesaat. Setelah dirasa situasi aman, Mihika bergegas menurunkan troli dan memindahkan kembali dokumen-dokumen yang dibawanya.


“Akhirnya,” ujar Mihika ketika sudah berada di ruang kerja Arka dalam apartemennya. “Aku pikir Pak Arka termasuk ke dalam tim yang terlibat ternyata tidak. Sepertinya aku harus minta maaf,” ujar Mihika lagi.


Mihika menuju dapur dan membuka lemari es, mengeluarkan botol air mineral dan meneguknya hampir setengah botol. Rupanya aksi mengamankan dokumen bukti kejahatan lumayan membuatnya lelah. Dia pun duduk di sofa dan mengirimkan pesan bahwa misi sudah dilaksanakan.


[Hm, istirahatlah. Pekerjaan kamu akan lanjut nanti malam.] balas Arka.


“Hah, maksudnya apaan? Masa, malam-malam kerja.” Mihika kembali mengirimkan pesan pada Arka.


[Maksudnya, nanti malam aku ke kantor?]


[Bukanlah, tapi kerja keras melayani aku] balas Arka.


“Dasar suami mesum,” gumam Mihika.

__ADS_1


\=\=\=\=\= yuhuuuu, selamat berlibur gaes 🥰


__ADS_2