
Mihika mengira Arka benar-benar tertidur. Sengaja berlama di kamar mandi, bahkan dia berendam air hangat di bathtub tidak lupa dengan aroma terapi untuk merilekskan tubuhnya. Hanya mengenakan bathrobe dengan rambut yang belum mengering sempurna dililit dengan handuk kecil, Mihika akhirnya keluar dari kamar mandi.
Aroma sabun menguar ketika pintu kamar mandi terbuka.
Grap.
“Aaaa,” teriak Mihika karena tubuhnya direngkuh oleh Arka dalam gendongan direbahkan di atas ranjang. “Pak Arka bukannya sudah tidur?” tanya Mihika dengan kedua tangan menahan dada Arka karena saat ini sudah berada di bawah tubuh Arka yang semakin merapatkan tubuhnya.
“Siapa bilang aku tidur?”
"Pak Arka mau ngapain?" Lirih Mihika bertanya, meskipun dia paham apa yang diinginkan oleh Arka.
"Hari ini kamu berani melawanku bahkan tidak sungkan mengejek, jadi aku harus menghukum kamu."
"Tapi pak, saya ...."
"Sttt, cukup diam dan nikmati."
Arka menarik simpul tali bathrobe Mihika lalu menyibaknya menampilkan tubuh polos Mihika. Menatap dengan tatapan sendu dengan diliputi rasa untuk berkunjung yang cukup menggebu dan Arka menyadari jika Mihika sangat gugup.
Shitt, kenapa dia gugup sekali, aku makin penasaran. Apalagi dia belum pernah tersentuh.
“Pak Arka, saya … takut,” keluh Mihika sambil menahan tangan Arka yang mulai meraba kedua aset kembarnya.
“Tenang sayang, aku akan lakukan dengan pelan.”
Mihika benar-benar sangat gugup dan takut, bahkan debaran jantungnya bagai irama musik remix yang sedang viral di aplikasi tok tok. Tubuhnya meremang saat hela nafas Arka terasa di kulit lehernya saat Arka membenamkan wajah di ceruk leher Mihika.
Aroma maskulin dari tubuh Arka terasa menggelitik di hidung Mihika tetapi terasa sangat nyaman. Mihika harus pasrah karena Arka akan mengambil haknya. Apa yang sudah dia jaga selama ini harus dia lepaskan. Meskipun Mihika masih ragu apakah Arka adalah orang yang tepat yang dia cintai, tapi dia harus relakan karena Arka adalah suaminya.
__ADS_1
Mihika menggigit bibirnya merasakan sapuan bibir Arka yang bermain di leher meninggalkan jejak cinta di sana, lalu berpindah menatap wajah Mihika. Semakin mengikis jarak, Arka menempelkan bibirnya pada kening Mihika. Kemudian berpindah lagi pada kedua pipi dan dagu serta berakhir di bibir tipis nan ranum wanita halalnya, menyatukannya hingga mempertemukan indra perasa mereka yang beradu dan membelit mesra.
Arka sempat melepas dan menjauhkan bibirnya karena Mihika terengah seakan kehabisan oksigen, sedangkan dirinya dengan nafas memburu berpindah pada kedua aset tubuh bagian depan yang terlihat menantang. Memainkan bergantian kiri dan kanan dengan mulut dan tangannya. Mihika hanya bisa pasrah bahkan saat ini kedua tangannya berada di bahu Arka.
Apa yang dilakukan Arka menimbulkan perasaan luar biasa dan pengalaman yang belum pernah dirasakan oleh Mihika. Seakan begitu memabukkan hingga melayang dengan suara de sah. “Pak … Arka,” panggil Mihika dengan lirih dan suara yang berat.
Arka menghentikan aksinya, “Kenapa?”
Mihika hanya menggelengkan kepalanya, bingung dengan perasaan dan keinginannya sendiri. Sedangkan Arka memilih berpindah ke bawah sana dan melepaskan semua penutup tubuhnya. Mihika hanya dapat membelalakkan matanya melihat bagian bawah tubuh Arka yang terlihak tegak sempurna. Mihika berpikir apakah milik Arka akan muat di dalam tubuhnya nanti.
Saat Arka mulai bermain di bagian pusat tubuh Mihika, membuat pemilik tubuh itu menggelinjang dan mengeluarkan desa han karena sensasi rasa yang cukup membuatnya terlena.
Melihat Mihika yang sudah nyaman dengan sentuhan dan permainannya, Arka mengarahkan miliknya yang sudah seperti belalai persis di depan sarangnya. Tubuh Mihika bergetar kaget saat sesuatu terasa memaksa masuk ke dalam tubuhnya membuat Mihika memekik dan berusaha mendorong tubuh Arka menjauh dan melepaskannya.
“Sa-kit banget Pak Arka,” rintihnya. Arka akhirnya menghentikan aksi yang tadinya dia ingin mendorong lebih kencang agar segera terjadi penya_tuan tubuh mereka.
“Sabar, sakitnya hanya diawal. Berikutnya kamu pasti suka dengan rasanya. Bahkan nanti bisa jadi kamu sangat mendamba dan memohon untuk dikunjungi.”
"Maaf, sayang." Tidak menyangka jika seorang gadis akan tersiksa seperti itu saat miliknya disentuh untuk pertama kali.
Arka kembali melahap bibir lembut Mihika dan membuat gadis yang saat ini telah menjadi wanita sempurna dan berada di bawah tubuhnya kembali melayang karena perlakuan dan sentuhan Arka.
"Aku bergerak lagi ya?"
Mihika hanya menganggukan kepalanya. Sesuai dengan janjinya Arka akan melakukannya dengan pelan. Arka bergerak perlahan menyesuaikan ritme dan kenyamanan mereka berdua. Mihika tampaknya sudah mulai nyaman dan rasa sakit yang awalnya dirasakan sudah berganti nikmat. Suara yang keluar dari bibir Mihika menjadi rasa semangat yang seakan memicu Arka untuk terus menggerakan dan mengerahkan kemampuannya membawa mereka meraih kenikmatan dunia.
"Pak ... Arka. Pelan-pelan," cecar Mihika karena Arka sepertinya hanyut dalam puncak kenikma_tannya.
"Maaf sayang, kamu memabuk kan. Sepertinya pesona dan rasa tubuhmu cukup melenakan." Entah berapa lama mereka berada dalam gerakan dan ritme yang membuat keduanya terhanyut, melayang dan akhirnya sampai pada peleppasan pertama.
__ADS_1
Arka yang masih berada di atas tubuh Mihika tersenyum karena berhasil membuat istrinya terengah dengan nafas yang tersengal karena penya_tuan halal mereka.
"Terima kasih sayang, kamu makin cantik kalau sedang ...."
Bugh.
Mihika memukul bahu Arka, tidak ingin mendengar lanjutan kalimat dari bibir suaminya yang pasti akan membuatnya malu.
Arka tertawa, Mihika berdecak. "Pak Arka, geser dong."
"Sebentar cantik, aku masih menikmati." Arka mengeraang saat melepaskan dirinya.
"Cantik? Katanya aku bo doh dan buruk sekarang cantik. Yang benar yang mana," ujar Mihika.
Arka mendengar sindiran Mihika akhirnya terdiam, teringat bagaimana dia memaki dan mengejek Mihika. "Maaf sayang." Arka memeluk Mihika dari samping, "Mulai saat ini aku akan buat kamu senang dan bahagia terus."
"Gombal. Eh, Pak Arka mau ngapain?"
"Kita lanjut lagi."
"Nggak ada ya, ini aku masih sakit."
"Nanti juga sakitnya hilang. Tadi aja kamu mende sah terus.
"Pak Arka!!" teriak Mihika.
Entah berapa kali Arka membuat keduanya mencapai kepuasan dan kenikmatan dunia. Bahkan saat ini Mihika sudah terlelap karena kelelahan. Hanya gumaman yang keluar dari mulut Mihika saat Arka menggoda dan memujinya.
Arka membenarkan letak selimut yang menutupi tubuh polos mereka. "Terima kasih, Hika," ucap Arka setelah mencium kening wanita yang sudah terbuai mimpi.
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=