
"Sebentar, sepertinya ada yang harus diluruskan. Saya tidak pernah deklarasi kalau saya mencintai atau menyukai Lela, jadi ...."
"Sudahlah Pak Arka, kita ini laki-laki dewasa. Semua bisa terjadi meskipun tanpa cinta. Anak saya suka dengan Pak Arka dan kita juga bisa kerja sama yang menguntungkan. Jadi atas perut dan bawah perut sama-sama terpenuhi. Saya yakin, lama-lama Pak Arka juga cinta dengan anak saya."
"Maaf, tapi kita tidak bisa lanjutkan pembahasan ini. Saya dan Pak Anjay sudah memiliki perbedaan dalam menghadapi persoalan dan perlu Pak Anjay ketahui saya sudah menikah."
"Lalu masalah saya, gimana?" tanya Anjay.
"Saya tidak bisa memutuskan, seperti Pak Anjay bilang kalau kita sama-sama kerja. Jadi keputusan ada di tangan pemilik perusahaan."
Anjay meninggalkan Arka dengan raut wajah garang, rencananya gagal. Dia memutuskan mencari cara lain untuk menangani masalahnya.
...***...
Dua bulan kemudian.
Arka dan Mihika semakin tidak dapat terpisahkan, tentu saja itu ketika di rumah. Di kantor keduanya masih bersikap sebagai direktur dan asisten pribadi (atasan dan bawahan, lagi-lagi di bawah, π€£π€£).
Arka dan Mihika semakin sibuk karena Johan sudah membuat laporan terkait kecurangan anggaran. Bahkan sudah ada nama-nama yang dipanggil oleh kepolisian terkait masalah ini. Membuat suasana kantor semakin panas dan saling tuduh. Beberapa pekerjaan mulai terbengkalai, akhirnya Mae dan Mihika mendapatkan peran lebih banyak untuk mengatasi hal ini.
__ADS_1
"Pak Arka minggir," ujar Mihika. Keduanya sedang duduk berdampingan di sofa, mengecek laporan progres proyek yang sedang berjalan. Tapi Arka mulai nakal, memeluk bahkan tangannya asyik menyentuh bagian sensitif tubuh Mihika.
"Sayang, kamu terlihat makin seksi. Makin banyak yang bisa dipegang," bisik Arka.
Mihika memicingkan matanya, "Bilang aja aku gendutan. Pake muji kalau aku seksi segala."
"Serius sayang, kita main bentar ya di sini."
"Pak Arka jangan aneh-aneh deh, ini di kantor dan aku lagi konsen dengan ini," tunjuk Mihika pada dokumen-dokumen dihadapannya. "Lagian kalau ada yang masuk gimana?"
Arka tersenyum nakal mendengar jawaban istrinya. Menolak tapi khawatir dengan situasi. "Aku sudah kunci pintunya. Mae sedang ke kantor pusat, ada berkas yang ditunggu Pak Johan. Tidak akan ada yang curiga kalau Mae yang ke sana dan tidak ada yang berani masuk tiba-tiba," tutur Arka sambil tangannya bergerilya di tubuh Mihika.
Arka meraih lembaran kertas yang ada ditangan Mihika dan meletakannya di meja. Lalu merebahkan tubuh istrinya pada sofa yang mereka duduki.
"Pak Arka."
"Sttt." Menyingkap rok yang dikenakan istrinya. Mihika hanya bisa pasrah menuruti keinginan Arka. Selanjutnya Mihika hanya bisa mendessah lirih menikmati sentuhan dan penyatuan diri yang dilakukan oleh Arka.
"Oh sayang, aku ... akan sampai." Keduanya bergantian mendapatkan puncak kenikmatan, disela kesibukannya.
__ADS_1
"Sepertinya kita harus sering melakukan disini, sensasinya berbeda," ujar Arka sambil memperbaiki pakaiannya. Mihika tidak bersuara, wajahnya menunjukan ada yang tidak nyaman dengan tubuhnya.
Mengendus blouse yang dikenakan dengan mengangkat tangannya. Lalu mendekatkan wajahnya pada tubuh Arka.
"Kenapa? Mau lagi?"
"Ishh, Pak Arka ganti parfum ya? Kok wanginya beda," ujar Mihika sambil menggeser posisi duduknya dan menutup hidung.
"Nggak, ini parfum yang biasa. Masih wangi, atau kurang wangi?"
"Wangi apaan, nggak enak gini. Baunya beda," keluh Mihika.
"Ya sudah, nanti aku ganti parfum. Kamu pilihkan saja yang mana, pasti aku pakai." Arka kembali membaca lembaran yang tertunda.
Alih-alih konsentrasi, Mihika merasakan gejolak di perutnya. Bergegas menuju toilet dan mengeluarkan isi perutnya. Arka yang khawatir, menyusul Mihika. "Kamu kenapa?" Sambil memijat tengkuk Mihika.
"Pak Arka minggir, parfum Pak Arka baunya nggak enak. Aku mual."
"Hahh."
__ADS_1
\=\=\=\=\=\= besok-besok ganti minyak angin aja yesss, jangan pake parfum π π π