
Menjelang tengah malam, Johan terbangun. Perutnya terasa berteriak minta diisi, melewatkan makan malam dan telah menguras tenaga karena pertempuran ranjang bersama istrinya. Sejak tadi siang tiba di apartemen, Johan langsung mengeksekusi istrinya. Entah berapa kali, bahkan Mae tidak diberikan waktu jeda terlalu lama.
Menikah dengan umur yang lebih dari matang membuat Johan sangat bersemangat. Tidak membuang waktu, bahkan tanpa mengadakan lamaran Johan langsung menikahi Maemunah. Resepsi pernikahan sudah dia serahkan sepenuhnya kepada istri tercinta.
Berbaring miring menghadap Mae yang terlelap karena kelelahan, Johan perlahan bergerak mendekati wajah Mae dan mencium keningnya. Johan lalu beranjak bangun, mengenakan boxernya lalu merapatkan selimut yang menutupi tubuh Mae.
Setelah membersihkan diri dan mengenakan piyama, Johan duduk bersandar di sofa kamarnya. Membuka ponsel dan mengecek pesan atau panggilan yang masuk. Terlihat dia melakukan panggilan telepon, “Hm. Lakukan sesuai arahanku sebelumnya, urus segera pernikahanku. Termasuk rekening dan lain-lain untuknya,” ujar Johan sambil melirik Mae yang masih terbaring di ranjang tempat mereka mema_du kasih.
[Maemunah bisa resign setelah aku mendapatkan pengganti yang benar-benar kompeten]
“Hah, benar-benar anak tidak tahu diri,” hardik Johan setelah membaca pesan yang dikirimkan Arka. “istrinya saja dibatasi geraknya, sekarang istriku pun dia atur seenaknya. Jelas-jelas jabatanku lebih tinggi darinya.” Johan meletakan ponselnya di atas meja dan ikut berpikir mencari pengganti Mae sebagai sekretaris Arka.
Atensi Johan beralih pada sosok tubuh yang sedang menggeliat, kedua kaki terjulur melewati selimut. Tubuh Johan kembali meremang hanya karena melihat telapak kaki Mae, bahkan dia harus menelan saliva ketika betis putih mulus itu terlihat menggoda.
“Shitt, kenapa bisa begini, Apa karena masih baru atau memang aku sudah candu?”
Johan melangkah mendekati ranjang dan duduk di tepinya. Ingin menggoda Mae agar tidurnya terusik dan dia bisa melakukan hal yang menyenangkan kembali tapi melihat wajah lelah Mae rasanya tidak mungkin dia memaksakan kehendaknya.
“Sayang ,” panggil Johan sambil mengusap kepala Mae.
“Hm.”
“Kamu tidak lapar? Kita melewati makan malam.”
Mae bergeming, masih terbuai dalam mimpinya. “Mae,” panggil Johan lagi.
“Hm, Pak Johan aku masih ngantuk. Bisa nggak minta cuti lagi sama Pak Arka,” gumam Mae.
Johan berdecak mendengar Mae masih saja memikirkan masalah kerja. Entah apa yang terjadi kalau Mae tetap berkarir. Mungkin ada masa dimana Mae lebih sibuk dibandingkan Johan dan bisa-bisa komunikasi dan hubungan mereka terganggu.
__ADS_1
Johan menggelengkan kepalanya seakan mengusir bayangan dimana dia tidak bisa mendapatkan kehangatan keluarga karena kesibukan sang Istri.
“Sayang,” panggil Johan.
Mae membuka matanya. “Kita makan malam dulu ya, aku takut kamu sakit. Kita tadi ….”
“Aku rasanya nggak sanggup harus berjalan keluar, makannya order aja ya Pak,” pinta Mae.
“Tenang saja, spesial untuk saat ini aku akan suapi kamu di sini.”
“Ck, ya nggak gitu juga. Aku cuma belum sanggup harus keluar apartemen.”
Johan terkekeh, “Bahkan ke toilet pun aku yakin kamu tidak akan sanggup.”
“Kalau ke toilet sih aku masih sangguplah.” Mae beranjak duduk, masih memegangi selimut agar tidak melorot dan menampakkan tubuhnya yang polos. Tiba-tiba Johan menarik selimut dan menyingkapnya, membuat Mae menjerit.
“Pak Johan kenapa ….”
“Menutupi malu, tuh lihat banyak banget hasil karya Pak Johan. “
“Halahh, yang penting sama-sama enak.”
“Enak apaan, orang pada sakit begini.”
Johan berdecak mendengar keluhan Mae. “Sakit tapi mendessah. Pak Johan, ahhhhh,” ejek Johan sambil menirukan suara Mae.
“Terserah. Geser dong, aku mau ke kamar mandi. Ini pada lengket badan aku,” ujar Mae.
Johan bergeser sedikit. Mae sudah menurunkan kedua kakinya masih terbalut selimut tipis lalu perlahan berdiri dan saat melangkah Mae memekik sambil kembali duduk.
__ADS_1
“Kenapa sayang?”
“Ini aku kok masih sakit,” rengek Mae.
“Aku tadi sudah bilang, kamu nggak akan sanggup ke toilet sendiri.”
“Gara-gara Pak Johan terlalu n*fsu.”
“Bukan n*fsu tapi perkasa. Buktinya kamu klepek-klepek.” Johan kembali menyibak selimut tipis yang menutupi tubuh istrinya lalu mengangkat tubuh itu dan menggendong ala bridal. Membawanya ke toilet dan didudukan di atas kloset yang tertutup.
Johan menghidupkan shower dan mengatur air hangat yang mengalir. “Sudah, ayo cepat mandi. Mau aku sabuni atau ….”
“Nggak, aku bisa sendiri. Pak Johan lebih baik keluar,” titah Mae.
“Aku hanya ingin bantu biar kamu lebih cepat.”
“Ini sih bukan lebih cepat tapi malah lebih lambat. Sudah bisa terbayang, Pak Johan akan bikin aku gimana di dalam toilet.”
“Wajar dong, namanya juga pengantin baru. Lagi pula nggak mungkin aku anggurin tubuh kamu yang menggoda.”
“Pak Johan, keluar atau kita nggak akan ada honeymoon atau apalah itu.”
“Okey, aku keluar. Kita lanjut yang tadi di ranjang aja ya,” ungkap Johan sambil mengerlingkan matanya.
“Pak Johannnn!!!”
\=\=\=\=\=\=\= ehemmm, Gaesss, beberapa episode menjelang tamat ya.
__ADS_1
Ayo pindah ke lapak Nana sama Kyra,,, nggak kalah seru lohhh