
Mihika seakan enggan melepaskan makhluk kecil yang berada dalam gendongannya. Meskipun sesekali dia masih meringis menahan tidak nyaman pada area sekitar luka sayat. Setelah dua puluh empat jam, Mihika baru bisa turun dari ranjang dan langsung memaksa ingin menggendong dan memeluk putranya.
Arka terlihat sigap di samping Mihika khawatir jika tiba-tiba Mihika ingin mengakhiri gendongannya. “Sudah sayang, kamu juga belum kuat. Biar aku baringkan lagi di box bayi.”
“Nanti dulu, aku seneng banget loh. Kemarin dia masih ada ditubuh aku sekarang sudah bisa aku peluk.” Mihika mendekatkan wajah putranya dan menempelkan pada pipinya sendiri.
“Iya tapi dia lagi tidur, kasihan nanti malah terbangun.”
Mihika berdecak dan menampakan wajah cemberut. “Kalau sudah pulang kamu akan sepuasnya mengurus dia,” tutur Arka lalu meraih bayi mereka dan kembali menidurkannya. Mihika menatap sendu ke arah box bayinya, dengan kedua mata yang mengembun.
Kalau ayah masih ada, dia pasti ikut bahagia. Aku sudah bisa beri dia cucu, batin Mihika.
Arka mengusap kepala Mihika. “Makan dulu ya, lalu minum obatnya. Selang infus kamu sudah dicabut, jadi ada obat yang harus diminum,” ujar Arka. Benar-benar menjadi suami siaga, langsung mengambil nampan berisi makanan milik Mihika. “Aku suapi,” titahnya lagi.
...***...
Sudah tiga hari perawatan pasca proses melahirkan, Mihika akhirnya diperbolehkan pulang. Saat keluar dari mobil, asisten rumah tangga mereka menyambut kedatangan cucu dari Aditya. Maemunah sudah berada di kediaman Mihika, bahkan membantu merapikan dan membersihkan kamar bayi Arka dan Mihika.
Kamar yang terhubung dengan connection door. “Hai Baby, kamu sudah pulang. Gumush deh,” ujar Mae sambil menggendong Arka junior karena Mihika sedang memposisikan tubuhnya duduk dan bersandar pada headboard.
“Kamu namanya siapa sih?” tanya Mae sambil menggoda Arka junior yang berada dalam pelukannya. Mihika menoleh ke arah Arka yang juga sedang menatapnya, baru menyadari mereka belum membicarakannya.
“Elo, namanya Elo Aksa Rocio,” tutur Arka.
“Owh, kamu Baby Elo.”
“Mae, anakku jangan digendong terus dong,” keluh Mihika.
“Lucu banget tau, ih gemes. Jadi pengen cepet punya.”
Arka berdecak mendengar ucapan Mae, “Bentar lagi juga punya, di dalam perut kamu sudah jadi kecambah ‘kan? Hebat juga Pak Johan, semangat empat lima,” ejek Arka lalu menghilang di balik pintu penghubung kamar mereka.
“Dia pikir lagi tanam kacang polong, pake jadi kecambah,” keluh Mae.
Mihika hanya tertawa mendengar interaksi Mae dan suaminya. Arka kembali datang mendorong box bayi. “Loh, kok di bawa sini?”
“Masih kecil sayang, nggak mungkin sudah terpisah. Lagi pula nanti kamu capek bolak-balik ke sana, sementara di sini aja.”
__ADS_1
“Ayo baby Elo, kamu bobo lagi ya,” tutur Mae sambil kembali membaringkan Elo.
...***...
Arka sudah kembali beraktifitas, lebih tenang meninggalkan Mihika dan bayi mereka karena para asisten rumah tangga yang bisa dipercaya yang terlihat sangat menyayangi Mihika. Sejak kecil ditinggal oleh Ibunya, apalagi Ayahnya sibuk membuat Mihika lebih dekat dengan para pekerja di rumahnya.
“Apa yang mendesak?” tanya Arka pada Dio.
“Sementara belum ada Pak, hanya dokumen itu menunggu,” tunjuk Dio. “Meeting internal sementara dipending, tinggal menunggu arahan Bapak untuk saya jadwal ulang.”
“Jadwalkan besok kalau tidak ada kegiatan, sekalian membahas beberapa project baru,” titah Arka.
“Siap.” Belum berakhir, diskusi Arka dengan Dio yang menggantikan selama beberapa hari ini karena Mihika melahirkan, tiba-tiba pintu ruangan dibuka dari luar. Atensi Arka dan Dio tentu saja mengarah kesana, dimana berjalan masuk seorang wanita.
Dio bergegas menghampiri wanita itu. “Anda jangan sembarangan masuk kesini, apalagi tidak ada janji sebelumnya," larang Dio pada Lela.
Arka hanya menghela pelan, “Dio biarkan saja. Ada apa Lela, aku sibuk,” ujar Arka kembali fokus pada dokumen di hadapannya.
“Minggir,” cetus Lela sambil mendorong tubuh Dio.
Dio tetap berada di samping Lela, tidak ingin wanita itu mengacau di ruangan Arka.
“Kamu seharusnya bersyukur karena kamu tidak menuntut kamu,” ujar Arka sambil menatap Lela. “Mihika masih pakai hati menangani masalah ini,” ungkap Arka.
“Apa salah saya, itu hanya tuduhan. Memang ada yang membuktikan kalau saya menyakiti Mihika?”
“Tidak ada, di dalam toilet itu memang tidak bisa membuktikan apapun. Tapi CCTV di luar toilet bisa dijadikan bahan untuk menyatakan kamu bersalah. Jelas-jelas kamu keluar dari sana tergesa, tidak lama MIhika berteriak minta tolong karena seseorang menyakitinya. Sedangkan baru saja kamu keluar dari toilet itu, lain kali pakai otak kamu.”
“Anda bisa pergi sekarang atau saya panggil keamanan untuk menyeret anda,” titah Dio.
Lela berdecak sambil menghentakan kakinya karena kesal. “Hidupku berantakan begini karena Mihika,” teriaknya.
“Bukan,” jawab Arka. “Karena kamu dan Ayahmu serakah dan sombong.”
“Keluar,” titah Dio.
Akhirnya Lela keluar dari ruangan Arka meskipun dengan terus berteriak. Dio mengatakan pada bagian keamanan agar tidak memperbolehkan Lela masuk ke dalam gedung. Foto Lela termasuk ke dalam kumpulan orang yang tidak diperbolehkan menginjakan kakinya di perusahaan.
__ADS_1
Seharian Arka fokus dengan pekerjaannya. Memilih pulang tepat waktu karena ingin segera bertemu dengan istri dan anaknya.
Arka tersenyum saat masuk ke kamar Mihika sedang memberikan putra mereka sumber kehidupannya. Memilih bergegas masuk ke dalam toilet untuk membersihkan diri, tidak sabar ingin segera menyapa sang anak.
Telah mengenakan pakaian rumah, Arka duduk di samping Mihika. Sebelumnya mendaratkan bibir pada kening MIhika. “Hay boy,” sapa Arka sambil mengusap pipi Elo, sedangkan bibir mungilnya asyik menghissap air yang sangat dibutuhkan oleh tubuhnya dari tubuh Mihika.
Arka berdecak, “Padahal itu daerah kekuasaanku.” Mihika tertawa, mendengar keluhan Arka.
“Papih apaan sih, masa nggak mau ngalah sama anak sendiri.”
“Justru aku mengalah sayang, berapa lama dia akan menguasai milik kamu?”
Mihika menggelengkan kepalanya sambil terkekeh. “Boy, sudahlah. Kalau ngantuk lepaskan bibirmu.”
Elo menggeliat pelan seakan merespon apa yang diucapkan oleh Arka. “Tuh dia terusik, Papih nih berisik aja,” keluh Mihika. Kemudian memindahkan Elo, untuk berpindah posisi.
Arka semakin leluasa mengusap kepala putranya dan sesekali mendaratkan bibirnya di kepala Elo. “Ngeliatin kamu begini, Papih jadi kepengin.” Arka beranjak berdiri.
“Kepingin apa?”
“Makan orang.”
Mihika terkekeh, “Sudah sana, makan dulu. Pasti belum makan malam, tapi aku nggak bisa temani.”
“Hm. Kalau sudah tidurkan saja, lalu kamu istirahat.”
Sedangkan di apartemen dimana Johan dan Mae tinggal, Johan baru saja pulang dan tidak menemukan Mae menyambutnya pulang.
“Sayang,” panggil Johan ketika masuk ke kamar dan melihat Mae terbaring di sana. “Kamu kenapa?” tanyanya.
Mae menggeliat pelan. “Pak Jo aku nggak masak lagi, perut aku mual dan kepalaku pening.”
Johan menghela nafas pelan. Memang Mae sering terlihat tidak nyaman dengan awal kehamilannya tapi hal ini memang harus mereka lewati demi kehadiran sang buah hati. “Bisa nggak sih, langsung seperti Mihika dapat baby tanpa harus melewati masa begini?”
“Sabar sayang,” sahut Johan sambil mengusap kepala Mae. “Semoga saja anak kita kembar, dua kali melahirkan kita sudah dapat empat anak,” oceh Johan yang langsung mendapat cubitan dari Mae.
... Betsambung
__ADS_1
yuhuuuu, sambil nunggu kelanjutannya, mampir yuks ke karya rekan author. Ceritanya nggak kalah seru loh.