CINTA DIBAYAR TUNAI

CINTA DIBAYAR TUNAI
Makin Penasaran


__ADS_3

"Sayang, pakaikan dasi aku," titah Arka. Mihika yang baru saja keluar dari kamar mandi dan hanya mengenakan bathrobe pun menghampiri suaminya. 


Arka sedikit menunduk agar Mihika mudah memasangkan dasi di leher Arka. Tangan Arka malah sibuk dengan meraba punggung bahkan meremmas bokong Mihika. "Tangan kamu iseng banget sih." 


"Gemesh." 


Saat ini keduanya sudah berada di rumah peninggalan Ayah Mihika. Memutuskan tinggal disini karena Mihika satu-satunya putri Aditya dan rumah itu memiliki banyak kenangan Mihika dengan Ayah dan Ibunya dulu. Arka menghargai hal itu dan siap bersama dengan istrinya menetap di rumah yang terlihat sangat luas.


"Aku berangkat ya, ada meeting pagi. Kamu hati-hati dan kemanapun harus selalu diantar supir." Nasihat Arka, lalu mencium wajah Mihika mulai dari kedua pipi, dahi dan berakhir di bibir.


“Pak Arka.” Mihika mengingatkan Arka, karena kalau kelamaan yang ada suaminya malah membangunkan has_ratnya.


Arka terkekeh, “Iya, aku berangkat.”


Padahal siang ini Mihika memang akan berkunjung ke cabang tempat Arka berada, termasuk Johan. Untuk mengevaluasi kondisi perusahaan pasca beberapa orang sudah lengser bahkan ada yang masih dalam tahanan.


Arka yang sudah tiba di kantor di sapa oleh Mae yang memang sudah siap sebelum Arka datang. “Sudah pastikan semua laporan yang akan kita bahas dengan Pimpinan?”


“Sudah Pak. Ini dokumennya,” tunjuk Mae pada tumpukan berkas di mejanya.


“Baiklah.” Arka pun menuju ruang kerjanya. Setelah melepaskan jas dan menggantungnya, Arka fokus pada layar komputernya membaca laporan yang dimaksud Mae dan saat ini wanita itu sudah berada di ruangan Arka dan membacakan jadwal Arka untuk hari ini.


“Pak Arka,” ucap Mae dengan ragu-ragu.


“Hm.”

__ADS_1


“Apa Pak Johan hari ini ikut meeting?”


Arka menghentikan tangannya yang sedang menggerakan mouse lalu duduk bersandar menatap Mae. “Memang kenapa kalau Pak Jo datang atau tidak?”


“Ya, ‘kan beda Pak. Kalau Nona Mihika saya sudah tahu karakter beliau seperti apa, tapi kalau Pak Jo belum. Kalau tiba-tiba laporan kita ternyata salah, bukan seperti itu yang diinginkan gimana?”


“Tinggal kamu dekati aja supaya melunak, kadang bujang lapuk itu galak dan telitinya melebihi Pak Aditya,” tambah Arka lalu kembali fokus pada layarnya.


“Dekati gimana maksudnya?”


“Ya deket aja, masa kamu nggak ngerti. Siapa tahu kalian cocok,” tutur  Arka.


Mae berdecak, “Pak Arka ada-ada aja, masa aku disuruh dekat dengan Pak Jo. Menegur beliau aja saya takut Pak.”


Arka terkekeh. “Sudahlah, kamu tidak usah khawatir. Mihika yang akan datang, kalau Pak Johan saya kurang tahu beliau akan datang atau tidak.”


“Nona Mihika,” panggil seseorang, Mihika pun menoleh. Ternyata Dio yang memanggilnya, “Hai, apa kabar?” sapa Mihika.


Dio tersenyum lebar kemudian wajahnya menatap heran pada Mihika, terutama saat memandang perut Mihika. Mihika tersenyum, “Nggak usah bingung begitu, aku sudah menikah. Jadi wajar dong kalau sekarang sedang hamil.”


“Hah, menikah? Jadi isu kamu sudah menikah itu benar?”


Mihika menganggukkan kepalanya, terlihat raut wajah kecewa Dio. Keduanya masih terlibat obrolan sampai seseorang mengawasi keduanya. Aura kecemburuan pun terlihat, Arka yang baru saja tiba setelah makan siang menghampiri Mihika lalu merangkulnya.


“Sudah datang, tahu gitu kita makan siang bareng.”

__ADS_1


Dio kembali terkejut melihat kedekatan kedua orang dihadapannya. Pak Arka kenapa dekat dan mesra dengan Mihika ya. Benar-benar mengejutkan, aku baru tahu kalau Mihika sudah menikah dan sepertinya menikah dengan Pak Arka. kirain masih ada peluang tahunya zonk, batin Dio.


Mihika melambaikan tangannya pada Dio, karena Arka mengajaknya ke ruangan. Bahkan tanpa melepaskan rangkulan di tubuhnya. Bukan hanya Dio yang terkejut melihat Arka yang mesra dengan Mihika, pada pegawai yang berpapasan dengan mereka pun sama.


Bahkan terdengar bisikan mereka membicarakan hal tersebut dan sudah pasti akan menjadi bahan gosip di grup chat para pegawai.


Mihika, Arka dan beberapa orang lainnya sudah hadir di ruang meeting termasuk Mae. Bahkan sudah dimulai, dan sedang ada penjelasan oleh Arka mengenai kondisi perusahaan. Mihika fokus pada dokumen dan mendengarkan laporan yang dijelaskan oleh Arka.


Tiba-tiba pintu ruangan terbuka. “Maaf, terlambat.” Membuat penjelasan Arka terjeda dan semua menatap sosok yang baru saja tiba. Pria dengan wajah datar dan aura arrogant serta tegas, siapa lagi kalau bukan Johan. Duduk di samping Mihika, lalu meraih dokumen di hadapannya. Mendengarkan apa yang dijelaskan Arka, tidak sengaja tatapannya terpaut dengan tatapan Mae. Wanita itu langsung menundukkan wajahnya karena kedapatan mencuri pandang pada Johan.


Ampun deh, auranya kok nyeremin gitu ya, batin Mae.


“Cantik ya Om?” bisik Mihika.


“Iya.”


“Masih single loh,” bisik Mihika Lagi.


“Masa?” tanya Johan lalu kembali menatap Mae.


“Hm. Penasaran ‘kan?”


Johan berdecak lalu kembali fokus mendengarkan penjelasan Arka.


 

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=


 


__ADS_2