CINTA DIBAYAR TUNAI

CINTA DIBAYAR TUNAI
Jangan Ikut Campur


__ADS_3

Mihika bisa tertawa puas karena berhasil menggoda Johan dan Mae. Johan masih berada di ruangan Arka sedangkan Mae sudah kembali ke mejanya sendiri.


“Ayo aku antar ke bawah,” ajak Arka pada istrinya. Mihika pulang lebih dulu, sedangkan Arka masih ada pertemuan dengan klien sore ini.


“Gendong,” pinta Mihika dengan manja.


Johan berdecak mendengar permintaan Mihika. “Apa! Sirik aja, cepat sana halalin Mae biar bisa gendong-gendongan.”


“Sayang, mulut kamu makin ekstrem aja. Kamu sedang hamil, jangan bicara sembarangan begini.”


Mihika dan Arka berjalan berdampingan, dimana tangan Mihika memeluk erat lengan Arka. “Bye Mae, hati-hati dengan Om Jo. Dia orangnya nggak sabaran dan galak.”


Mae mengernyitkan dahinya bingung mendengar ucapan atasannya.


Johan pun berniat kembali ke kantornya sendiri, berjalan meninggalkan ruangan dan berhenti tepat di depan meja Mae. Mae jadi salah tingkah, entah kesalahan apa yang dia perbuat sampai harus berinteraksi dengan pria dihadapannya yang saat ini menjadi pengganti Pak Aditya.


“Ada yang bisa saya bantu Pak?”


“Ada, pinjam ponselmu. Ponselku tidak ada pulsa, aku harus menghubungi supir.”


“Hah,” Mae menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Pak Johan bisa menggunakan telepon ini,” ujar Mae menunjuk pesawat telepon di mejanya. Menurutnya aneh, seorang CEO kehabisan pulsa.


“Pinjam ponselmu saja, aku akan ganti pulsanya berlipat-lipat,” titah Johan. Mae pun mengalah, mengambil ponselnya dan membuka kunci layar lalu menyerahkan pada Johan.


Entah apa yang dilakukan oleh Johan dengan ponsel Mae, tidak lama kemudian dia mengembalikan ponsel Mae. “Aku akan ganti pulsa kamu, tinggal sebut berapa jumlahnya.”


“Oh, tidak usah Pak.”


“Tidak perlu jawab sekarang, nanti saja.” Kalau perlu jawab dengan mahar yang kamu inginkan, batin Johan.

__ADS_1


Johan lalu meninggalkan Mae yang sedang bingung dengan sikap Johan.  Ternyata habis pulsa hanya alasan Johan, dia ingin mendapatkan kontak Mae tapi gengsi jika harus bertanya pada Mihika apalagi meminta langsung ke Mae. Yang ada dia menggunakan alasan yang malah tidak masuk akal.  


...***...


“Pak Arka.”


“Hm.” Mihika saat ini menyandarkan kepalanya pada bahu Arka. Keduanya baru saja melakukan hal yang menyenangkan. Mihika memainkan jarinya di atas dada bidang Arka. “Kayaknya Om Jo beneran suka Mae deh.”


“Lalu?”


“Ya, kita ‘kan nggak tahu Mae sendiri perasaannya gimana. Aku kasihan dengan Om Jo kalau nanti cintanya bertepuk sebelah tangan.”


“Sudahlah, itu urusan mereka. Jangan ikut campur, kita hanya bisa mengawasi dan mendukung kalau mereka saling menyukai.”


“Pak Arka ngantuk ya?”


“Ganti apa, aku udah nyaman begitu. Dari awal kenal memang panggilnya Pak Arka.”


“Iya, tapi sekarang aku suami kamu. Aku masih berasa seperti aku atasan kamu bawahan, padahal sekarang kamu atasan aku bawahan.”


Mihika berdecak, lalu beranjak duduk sambil memegangi selimut. “Jangan suka bawa-bawa hal itu, aku nggak suka.”


Arka terkekeh, “Ya udah, sekarang mau panggil apa?”


“Apa ya? Terserah aku ajalah.”


Sedangkan di tempat berbeda. Mae baru saja membaringkan tubuhnya setelah menyapu wajahnya dengan skin care yang biasa dipakai di malam hari. Ponsel yang disimpan di atas nakas bergetar, menimbulkan bunyi yang tidak biasa.


[Besok pagi akan ada yang jemput kamu, kita sarapan bersama sebagai ganti pulsa. Kalaupun ingin menuntut lebih saya siap saja]

__ADS_1


Mae mengernyitkan dahinya. “Ini sepertinya Om Johan deh. Oh my god, maksudnya apa ngajak aku sarapan. Tapi nggak apa-apa deh, rejeki nggak boleh ditolak. Dari pada aku diterima lamaran Mas Jono tukang bakso di kampung.”


Esok hari,yang kebetulan jadwal weekend. Pintu kamar Mae terdengar dikuti, Mae pun beranjak malas dan membukakan pintu. “Loh, ada apa MbaK?” salah satu asisten rumah tangga dari rumah kost tempat Mae tinggal berdiri di depan pintu kamar. “Itu Non, ada yang nyari di depan.”


Mae pun akhirnya keluar dan menghampiri orang yang dimaksud.


“Nona Maemunah?” tanya pria itu.


“Iya, saya Mae.”


“Bisa ikut saya? Nona sudah ditunggu.”


“Tunggu-tunggu, ini maksudnya di tunggu siapa?”


“Pak Johan, saya supir pribadi beliau.”


“Ahhh.” Mihika pun menganggukkan kepalanya. “Tapi maaf Pak, saya tidak ingin keluar. Ini hari libur saya jadi ingin menikmati tanpa gangguan.” Mae pun kembali ke kamar, setelah mengarahkan pria itu agar segera pergi.


Setelah hampir satu jam, pintu kamar Mae kembali diketuk. “Kenapa lagi Mbak?” tanya Mae saat membuka pintu kamar.


“Ada yang cari lagi, tapi beda orang..”


Mae menghela nafas sebelum menemui orang yang dimaksud. Mae sempat tidak yakin dengan pria yang mencarinya, meskipun sepintas dia sudah tahu siapa sosok itu.


“Pak Johan!”


 


\=\=\= Gercep deh

__ADS_1


__ADS_2