
“Ayah kenapa?”
“Ayah baik-baik saja,” jawabnya sambil mengelus kepala Mihika. “Johan selalu mengajak Ayah ke Rumah sakit, Ayah lelah dan tidak suka dengan situasi rumah sakit,” jawabnya. “Bagaimana kabarmu sayang?”
“Hm, seperti yang Ayah lihat.”
“Kamu sudah jujur dengan Arka, mengenai siapa dirimu?”
Mihika menggelengkan kepalanya.
“Jujurlah, Ayah ingin bertemu dengannya sebagai menantu bukan sebagai orang kepercayaan Ayah.”
“Aku bingung untuk memulainya, Yah.”
"Kamu sangat mirip dengan Ibumu. Hidung, mata bahkan kalau merajuk ... seakan Ayah melihat orang yang sama."
Mihika mendongakkan wajahnya menatap wajah Ayahnya. Pandangan ayahnya lurus menatap langit-langit kamar, "Alasan Ayah tidak ingin menikah lagi seperti permintaan kamu, karena Ayah tidak ingin fokus ayah untuk kamu juga perusahaan harus terbagi. Apalagi perasaan untuk Ibumu, tetap ada disini." Aditya meraba dada sebelah kiri dimana jantungnya berada. "Sekarang fungsinya sudah berkurang, sering bermasalah. Mungkin sudah waktunya Ayah bertemu dengan Ibumu."
Mihika mengeratkan pelukannya. "Ayah bicara apa sih, pokoknya Ayah harus sehat. Aku akan minta Om Johan cari Rumah sakit terbaik untuk pengobatan Ayah. Aku dan Pak Arka akan kasih Ayah cucu yang banyak."
Aditya terkekeh, "Kamu bahagia, Nak?"
Mihika menganggukkan kepalanya.
"Kamu perempuan, sehebat apapun peran kamu di luar, tempatmu di rumah adalah sebagai seorang istri dan menjadi seorang Ibu."
"Iya, aku tahu."
"Kelola perusahaan dengan baik, Johan dan Arka bisa diandalkan. Jangan sampai mengorbankan karyawan, kita bisa sukses karena ada mereka. Ribuan orang pekerja menggantungkan harapan dan masa depannya pada Perusahaan. Buatlah sistem yang sama-sama menguntungkan semua pihak."
"Hm."
__ADS_1
Mihika mendengarkan nasihat Ayahnya seperti mendengarkan alunan lagu. Lama-lama dia mengantuk, apalagi kepalanya terus mendapat belaian dari tangan Ayahnya.
Entah berapa lama Mihika tertidur. Dia mengerjapkan matanya dan menyadari sedang berada di kamar sang Ayah. Teringat dia belum mengabari Arka kalau dia tidak pulang.
Menurunkan kedua kakinya dari ranjang dan melihat obat yang rutin harus diminum Ayahnya sebelum tidur juga gelas air di atas nakas. "Ayah belum minum obat." Mihika pun kembali naik ke ranjang, "Ayah, minum obat dulu."
Tidak ada jawaban.
"Ayah ...." Mihika merasa ada yang aneh dengan posisi tidur Ayahnya. Mencoba menepis perasaan dan prasangka negatifnya.
"Ayah," panggil Mihika dengan air mata yang sudah menetes di pipinya. Tangan Mihika menyentuh dada Ayahnya. Dingin dan tidak terasa detakan, "Ayah," teriak Mihika lagi dengan tangisnya.
"Ayah bangun." Mihika menjatuhkan tubuhnya di atas tubuh Aditya, meraung dan terus memanggil ayahnya.
Brak.
Pintu terbuka, Johan yang datang bergegas karena mendengar teriakan Mihika, dengan tubuh lemas mendekat ke arah ranjang.
"Om Johan, ayo bawa Ayah ke rumah sakit. Ayah pingsan, dia hanya pingsan," jerit Mihika.
"Mihika," panggil Johan.
"Ayah masih bisa sehat, aku janji akan berikan Ayah banyak cucu. Ayah jahat kalau harus pergi sekarang. Om Jo, cepat! Kita bawa Ayah ke Rumah sakit."
"Mihika," panggil Johan sambil meraih kedua tangan Mihika yang berada di atas dada Aditya. "Ikhlaskan, biarkan Ayahmu tenang."
Mihika menangis sambil menggelengkan kepalanya. "Ayah, Om Jo ... ayah...."
Kamar Aditya sudah ramai dengan para pekerja di rumahnya yang bersedih dan menangis melihat Aditya yang sudah tiada. "Bik, bawa Mihika," titah Johan.
Bibi dan ART wanita lainnya membawa Mihika yang masih histeris keluar dari kamar Ayahnya.
__ADS_1
Beberapa jam kemudian, Aditya sudah berada di ruang duka dengan pengkondisian jenazah sesuai kepercayaannya.
Johan sudah menghubungi Arka mengenai kematian Aditya selaku pemilik perusahaan. Mengenakan kemeja hitam dan celana hitam, Arka telah tiba di kediaman Aditya, meskipun dia masih bimbang karena belum berhasil menghubungi istrinya.
Beberapa petinggi perusahaan keluarga Yodha sudah ramai berdatangan meskipun saat ini sudah lewat tengah malam bahkan menjelang subuh.
"Pak Arka, sudah ditunggu Pak Johan," ujar Pak Ujang supir keluarga Yodha.
Arka terkejut saat berada di ruang kerja Aditya. Melihat banyak foto Hika istrinya tergantung di dinding, dengan pose cantik bahkan ada pose bersama Aditya dan seorang wanita yang wajahnya sangat mirip dengan Hika.
"Duduklah," titah Johan menyadarkan lamunan Arka. Keduanya duduk berhadapan di sofa, terlihat wajah lelah Johan.
"Seharusnya Mihika sendiri yang menyampaikan ini termasuk alasannya. Tapi situasi tidak memungkinkan dan untuk detailnya kalian bahas nanti saja. Istrimu adalah putri Pak Aditya, kami sengaja menyembunyikan identitas juga penampilannya yang berbeda ketika berada di kantor untuk membantu kami dan ternyata kalian berdua kompak menemukan akar dan sumber masalah. Mihika terpuruk, sejak tadi histeris bahkan sempat pingsan. Hanya Pak Aditiya keluarganya, cepat temui dia." Johan berlalu meninggalkan Arka sambil menepuk bahunya.
Seluruh tubuh Arka seakan lemas mengetahui siapa istrinya meskipun ada gurat kecewa dalam hati karena di bohongi. Mengingat saat hari dimana dia menikah, Ayah Mihika mengijinkan pernikahan tersebut lewat telepon dan menyebutkan nama lengkap Hika dengan Mihika Yodha.
"Aditya Yodha dan Mihika Yodha, kenapa aku tidak kepikiran sampai sana."
Arka menaiki tangga menuju lantai dua dimana kamar Mihika berada. Tepat berada di depan pintu kamar yang terbuka.
Dua orang wanita paruh baya yang menemani dan menenangkan Mihika, beranjak keluar kamar saat Arka masuk ke kamar.
"Mihika," panggil Arka.
Mihika duduk diranjang dengan kaki ditekuk dan wajah menempel pada kedua lututnya, tubuhnya berguncang karena tangisnya.
"Mihika," panggil Arka lagi. Mihika menengadahkan wajahnya.
"Pak Arka."
\=\=\=\=\=\= agak mellow ngetiknya 🥲
__ADS_1