CINTA DIBAYAR TUNAI

CINTA DIBAYAR TUNAI
Ayah Kenapa?


__ADS_3

"Bau apa?" Arka mengangkat kedua tangannya dan mengendus kedua ketiaknya. "Wangi kok. Ini pasti pencernaan kamu yang bermasalah." Arka kembali mendekat pada Mihika. 


Mihika yang sedang mengelap wajahnya, merasakan kembali gejolak pada perutnya karena Arka yang kembali berada di dekatnya. Wangi parfum yang dipakai Arka benar-benar membuat Mihika tidak nyaman. 


"Ihh, Pak Arka jangan kesini," rengek Mihika. "Aku mual lagi." 


Arka berdecak, "Ya sudah aku keluar." 


Mihika menghela nafas lega, sambil berusaha menahan mual. "Kamu masih bisa lanjut kerja nggak? Kalau nggak kita selesaikan di rumah," ujar Arka sudah kembali masuk ke toilet. 


"Pak Arka!" teriak Mihika. 


Arka mengangkat kedua tangannya ke atas, "Oke, aku keluar." 


...***...


Arka menatap center mirror di mobilnya memperhatikan wajah Mihika yang sedang memejamkan matanya. Mihika tidak ingin duduk berdampingan di samping Arka yang sedang mengemudi. Memilih duduk di kabin belakang, keduanya malah tampak seperti supir dan majikan.


"Kamu yakin nggak perlu ke dokter?" 


"Hm," jawab Mihika masih dengan mata terpejam.


"Aku pikir sebaiknya kamu diperiksa dokter. Sepertinya kamu mengidap penyakit langka, mual bahkan muntah karena berdekatan dengan suami bahkan aku yang wangi begini kamu bilang bau," tutur Arka. 


"Pak Arka, berisik banget. Aku nggak mau ke dokter. Lebih baik Pak Arka mengemudi lebih cepat, aku pengen rebahan." 


"Kamu nggak mau ganti panggilan ke aku?" 


"Terus panggil apa dong." 


Arka senyum-senyum sendiri membayangkan Mihika yang bermanja dan memanggilnya dengan sebutan berbeda, seperti bebz, honey, sayang, atau ….. Arka menghela nafasnya, sepertinya itu tidak mungkin. Mihika terlalu kaku, lebih menyukai panggilan formal seperti sekarang ini. Arka benar-benar merasa seperti atasan Mihika meskipun sudah berada di rumah.


“Sudah sampai, sayang. Mau turun atau mau aku gendong?”


Mihika membuka matanya melihat sekeliling dan ternyata sudah berada di basement apartemen. “Aku bisa sendiri,” jawab Mihika.


Lagi-lagi Arka dan Mihika berjalan berjauhan. Arka mengekor langkah Mihika, bahkan jika terlalu dekat akan membuat Mihika protes. “Apa kita harus naik lift terpisah?” tanya Arka yang berdiri dua meter di belakang Mihika.


Mihika menoleh dan menggelengkan kepalanya. Saat berada di lift, Arka berdiri di pojokan sedangkan Mihika persis di depan pintu. Untungnya hanya ada mereka berdua di lift itu.


Mihika kesulitan membuka akses pintu apartemen. “Pak Arka ganti aksesnya ya?”


“Nggak, coba lagi aja. Jangan buru-buru, aku jauh kok,” jawab Arka yang berdiri berjarak dengan Mihika. Ternyata berhasil, benar ucapan Arka kalau Mihika terburu-buru.

__ADS_1


“Arka,” panggil seseorang. “Ternyata benar kamu tinggal di lantai ini.”


Arka dan Mihika menoleh ke arah wanita yang berjalan mendekat pada Arka lalu memeluknya. “Kamu kenapa nggak ke club lagi? Aku tunggu banget loh, bahkan mampir ke unitku juga nggak,” ujar Cintia dengan memeluk lengan Arka.


Arka menatap Mihika yang sedang menatapnya lalu menurunkan tangan Cintia. “Maaf, aku harus masuk.”


“Oke, aku ikut ya,” ujar Cintia sambil melirik genit.


“Cintia, sepertinya kamu salah paham. Aku sudah menikah,” ungkap Arka.


Cintia tertawa mendengar pengakuan Arka. “Kamu tuh kalau bercanda nggak lucu tapi aku pengen ketawa. Seorang Arka menikah, apa kata dunia?”


“Peduli apa dengan kata dunia, Pak Arka memang sudah menikah,” ujar Mihika lalu meraih tangan Arka dan mengajaknya masuk.


“Tunggu, dia,” tunjuk Cintia pada Mihika.


“Istriku dan aku mencintainya.”


“Kamu nggak salah, aku yang wow begini kamu tolak tapi menikah dengan ….” Cintia menunjuk Mihika dengan kedua tangan menunjuk dari kepala sampai kaki.


“Kenapa, karena aku tidak secantik kamu? Dari pada cantik tapi murahan, sampai nyamperin ke unit pria beristri.” Mihika kembali mengajak Arka masuk dan menutup pintunya.


“Sayang,” panggil Arka.


“Nggak Hika, sumpah. Kamu bisa cek ponsel aku nggak ada aku menyapa mereka duluan.”


Mihika melipat kedua tangan di dada dan melirik sinis pada Arka. “Mereka? Jadi banyak perempuan kayak tadi.”


Arka berdecak lalu duduk di sofa, dan menepuk tempat di sebelahnya agar Mihika juga duduk. Dengan malas Mihika pun duduk tidak jauh dari Arka, masih dengan mode wajah cemberut. Arka santai melepaskan jas dan dasi yang terasa mencekik lehernya, meskipun berusaha tenang tapi jantung Arka seakan berdetak tidak karuan. Khawatir jika Mihika benar-benar tidak percaya kalau dia sudah tidak ada hubungan dengan wanita manapun.


“Sudahlah Mihika, kita jalani saja saat ini. Sekarang, aku milikmu seutuhnya,” ucap Arka. “Karena kamu pemenangnya, kita sudah menikah dan kamu harus percaya aku.”


Mihika berdecak, “Menikahnya juga karena terpaksa. Pak Arka nggak romantis, masa sampai sekarang aku nggak dikasih cincin pernikahan, udah nikahnya pakai piyama doang. Boro-boro dekorasi dan gaun, ini malah di pelosok desa,” keluh Mihika sambil cemberut.


Arka terkekeh, “Nanti kita buat resepsi yang mewah, kamu maunya seperti apa?”


“Tau ah.”


Arka tersenyum lalu sambil mengikis jarak dan melu_mat bibir Mihika. Mihika tidak membalas apa yang dilakukan oleh Arka, membuat Arka gemas dan menggigit bibir Mihika. Lalu memagutnya sedikit kasar, Mihika bergerak untuk mengurai kedekatan mereka tapi Arka dengan sigap menahan tengkuk Mihika.


“Itu salah satu pembuktian kalau aku hanya milik kamu,” ujar Arka setelah melepaskan pagutannya.


Mihika yang masih terengah lalu berdiri, “Itu bukti kalau Pak Arka itu mesum,” ejek Mihika.

__ADS_1


“Kamu ….”


Mihika memilih bergegas menuju kamarnya.


...***...


Siang ini Mihika melewatkan makan siangnya, karena mual yang kembali melanda. Arka yang mendapat panggilan untuk memberikan kesaksian terhadap laporan dari Johan dan Aditya, berpesan pada Mae untuk memastikan Mihika makan.


“Hika, ayo makan dulu. Ini pesan Pak Arka, aku takut nanti dia marah,” ujar Mae.


“Kamu duluan aja, aku tadi sudah pesan jus buah.”


“Hika,” rengek Mae. “Kamu nggak pernah lihat Pak Arka marah sih,” ungkap Mae yang masih berdiri didepan meja Mihika.


“Memang kayak gimana, marahnya Pak Arka.” Memandang Mae dan menunggu jawabannya.


Ponsel Mihika bergetar, ternyata ada pesan masuk. Melihat pop up notifikasi, sepertinya pesan dari Johan. Mihika segera membuka layar ponselnya.


[Pulang sekarang, Ayahmu ingin bertemu.]


Mihika sedang mengetik untuk membalas pesan dari Johan, tetapi ada pesan baru.


[SEKARANG, jangan sampai kamu menyesal.]


“Om Johan kenapa sih? Atau Ayah drop lagi ya,” ujar Mihika.


“Ada apa?” tanya Mae.


“Aku pulang ya, Ayahku sakit. Jangan lupa ini memo dari Pak Arka untuk pencairan anggaran proyek tahap berikutnya. Sudah lengkap jumlah dan nama proyeknya.” Mihika menyerahkan beberapa lembar berkas pada Mae.


Mihika sudah berada di kediaman keluarganya, menggunakan taksi dari kantor sampai rumah. Bergegas menuju kamar ayahnya, ada Johan yang baru saja keluar dari kamar Aditya.


“Ayah kenapa, Om?”


Johan menghela nafasnya. “Kamu masuk aja, jangan diajak bicara masalah yang berat. Dia mau ketemu kamu,” tutur Johan.


“Ayah,” panggil Mihika lalu menghampiri ayahnya.


“Mihika, kemarilah Nak.”


Johan yang masih berada di tengah pintu memilih menutup pintu dan membiarkan keduanya menghabiskan waktu bersama yang mungkin tidak akan terulang lagi.


Mihika melepas kacamatanya dan meletakan di atas nakas lalu berbaring di samping Ayahnya dan memeluk erat tubuh yang sudah tidak bugar seperti sebelumnya. “Ayah kenapa?” 

__ADS_1


\=\=\=\= Hmm, ada apa gerangan ....


__ADS_2