CINTA DIBAYAR TUNAI

CINTA DIBAYAR TUNAI
Selesaikan Dengan Baik


__ADS_3

“Semuanya sehat ya bu, detak jantungnya juga normal. Usianya sekarang … sudah delapan minggu ya. Dijaga kesehatannya bu, jangan terlalu banyak pikiran. Kehamilan pertama ya,” ujar Dokter Obgyn. Mihika hanya tersenyum dan menganggukan kepalanya mendengar nasihat dan masukan mengenai kehamilannya.


Ada hal yang memang membuatnya sedih, berharap saat pemeriksaan kehamilannya ini bisa ditemani oleh Arka, sepertinya Mihika harus bersabar. Arka tidak bisa dihubungi bahkan, saat Mihika memberanikan diri ke apartemen tidak menemukan Arka disana.


Mihika sudah kembali ke kantor. “Nona Mihika ini dokumennya,” ujar Mae saat Mihika melewati mejanya. Kembali fokus pada urusan perusahaan, setelah kejadian Anjay dan beberapa rekannya dibawa oleh kepolisian.


Tiba-tiba, bruk.


“Aku bilang Nona Mihika sedang sibuk,” ujar Mae mencoba menahan Lela yang sudah merangsek masuk ke dalam ruangan.


“Ada apa? Kamu tahu ini jam kerja, kenapa membuat gaduh dan bukan fokus pada pekerjaanmu.”


Lela tertawa, “Lo pikir lo keren bertingkah begini. Gue tahu lo nggak mampu jadi direktur, gue berdoa semoga perusahaan ini bangkrut dan lo jatuh miskin,” teriak Lela. Tidak lama kemudian datang dua orang petugas keamanan yang sudah dihubungi oleh Mae.


“Bawa dia, Pak,” titah Mae.


Mihika menghela nafasnya dan kembali fokus pada layar komputer sedangkan Lela berontak diajak keluar oleh petugas keamanan.


“Dasar perempuan murahan, lo menikah karena ketahuan berbuat asusila ‘kan,” teriak Lela. Mihika menghentikan tangannya yang sedang menggerakkan mouse.


“Nona Mihika,” ujar Mae setelah Lela berhasil dibawa keluar.


“Keluarlah,” pinta Mihika. Mae pun akhirnya keluar dan menutup pintu ruangan.

__ADS_1


Tangis Mihika akhirnya pecah, mengingat kembali bagaimana dia menikah dengan Arka dan yang menjadi masalahnya saat ini dia hamil tanpa Arka di sampingnya.


“Ayah, tolong aku. Aku tidak sanggup menghadapi semuanya sendiri."


...***...


Sudah lewat jam kerja berakhir. Mihika akan pulang, ditemani Mae sampai ke lobby. Tidak ada obrolan di antara keduanya. "Hati-hati Bu," ujar Mae ketika Mihika akan masuk ke mobil. Supir yang mengantar jemputnya sudah membukakan pintu.


"Tuh dia orangnya, putri keluarga Yodha yang terkenal dan kaya raya menikah karena digrebek warga," teriak Lela lalu terbahak.


Para pegawai Mihika yang ada disana menatap Mihika dengan tatapan aneh, biasanya mereka akan ramah dan menyapanya tapi kali ini tidak.


Ternyata Mihika tidak langsung pulang, dia menuju kantor pusat dimana Johan berada.


"Wow, ada apa ke sini nggak ngabarin. Bisa aku yang ke sana," ujar Johan yang baru saja keluar dari ruangan rapat. Mihika tidak menjawab pertanyaan Johan, lebih memilih menuju ruangan Ayahnya yang saat ini menjadi ruang kerja Johan.


Tanpa banyak tanya, Johan akhirnya menyanggupi apa yang diminta oleh Mihika. Sebenarnya dia sudah mengerahkan orang untuk mencari dan mengawasi Arka. Saat ini adalah waktu yang tepat bagi Johan untuk menemui pria itu.


Memasuki area dengan lampu temaram dan musik yang memekakan telinga. Kadang Johan harus memiringkan tubuhnya agar tidak bersenggolan dengan orang lain. Dia berada di salah satu klub yang menurut orang kepercayaannya Arka sering ke sana.


Johan menatap sekeliling dan mencari sosok yang dia cari. Merasa menemukan target, Johan pun menghampiri salah satu meja.


"Bisa kita bicara," teriak Johan.

__ADS_1


Arka menoleh, menaruh gelas yang tadi dia pegang. Dua rekannya menatap bergantian Arka dan Johan seakan bertanya ada masalah apa.


"Kita bicara diluar," jawab Arka.


“Oke, katakan,” ujar Arka sambil melipat kedua tangan di dada. Saat ini mereka sudah berada di area parkir.


Johan berdiri sambil memasukan tangannya ke kantong celana, menatap Arka. “Kami butuh bantuanmu, Mihika menyerah dia tidak sanggup menggantikan posisimu. Tidak usah khawatir, jika memang kalian tidak ingin bertemu, Mihika siap tidak mengurusi cabang.”


Arka tampak berpikir. “Aku sudah memberikan surat resign.”


“Arka, come on. Kamu tahu perusahaan ini hampir kolaps tidak mungkin aku berikan kepada orang lain.”


“Aku pikir-pikir dulu,” jawab Arka.


“Mulai besok, aku tidak memberikan penawaran tapi perintah.”


Johan melangkah mendekat pada Arka. “Untuk masalahmu dengan Mihika, selesaikanlah. Kalian bukan anak kecil jangan sampai kamu menyesal. Saat ini Mihika sedang ….” Johan menghentikan ucapannya, sepertinya tidak elok jika harus dia yang memberitahu kondisi Mihika yang sedang mengandung.


“Kenapa, ada apa dengan Tuan putri?”


Johan berdecak, “ Kalau kamu memang menganggapnya tuan Putri maka perlakukan wanita itu layaknya tuan putri.”


Arka terbahak.

__ADS_1


“Kalau kau ingin mengakhirinya, maka selesaikan dengan baik."


\=\=\=\=\=\=\=


__ADS_2