CINTA DIBAYAR TUNAI

CINTA DIBAYAR TUNAI
Tak Sadarkan Diri


__ADS_3

“Pak Arka sendiri ngapain di dalam sini, katanya hanya keluarga yang boleh masuk ke sini.”


“Kamu tidak perlu tahu, cepat keluar!”


“Stt, Pak Arka jangan berisik. Saya penasaran sama putrinya Pak Aditya, beruntung banget dia menjadi pewaris keluarga Yodha. Coba saya yang ada di posisi dia, berasa kayak tuan putri.”


“Tapi sayangnya kamu nggak beradiadi posisi itu. Ayo keluar!” Arka meraih tangan Lela dan mengajaknya keluar menuju ruang duka.


“Ih Pak Arka jangan kasar dong.”


“Ada apa ini?” tanya Johan melihat Arka membawa seorang wanita yang berontak tidak jelas.


“Putri Pak Anjay, menyelinap masuk.”


Johan menatap Lela dari rambut sampai kaki, “Pak Anjay sudah pamit setelah pemakaman, kamu masih di sini?”


Waduh, gawat. Aku harus bilang apa ya, padahal tadi Ayah yang minta aku cari tahu siapa putri Pak Aditya, batin Lela.


“Iya, mau cari toilet eh salah masuk ruangan,” Lela menjelaskan dengan suara manja.


Arka menatap heran pada Lela yang beralasan berbeda dengan sebelumnya. “Dasar tidak jelas,” ujar Arka lalu meninggalkan Lela.


“Permisi Pak,” pamit Lela pada Johan lalu mengejar Arka. “Pak Arka, tunggu.”


Lela sedikit berlari mensejajari langkah Arka. “Pak Arka kok masih di sini, padahal yang lain sudah pulang?” Arka tidak menjawab, menuju buffet tempat makanan dan minuman. Sejak pagi dia belum mengkonsumsi apapun, karena membantu Johan menemui pelayat.

__ADS_1


“Pak Arka kenal nggak dengan putrinya Pak Aditya, aku tanya yang bekerja di rumah ini katanya sudah menikah tapi diam-diam. Katanya terjebak sedang berbuat asusila gitu, bener nggak ya Pak?”


Uhuk uhuk, Arka tersedak makanannya sampai terbatuk mendengar ucapan Lela. Lela dengan sigap mengambilkan air mineral, "Makannya pelan-pelan aja Pak."


"Tapi bener Pak, yang saya bilang tadi. Menikah karena tindakan asusila?"


Arka menghela nafasnya, "Jangan ikut campur urusan orang lain."


...***...


Beberapa hari kemudian. Mihika terbaring di ranjangnya, bukan hanya karena kepergian sang Ayah tapi Mihika merasa semakin tidak nyaman dengan tubuhnya.


"Masih pusing, Non?" tanya Bibi yang membawakan makan siang.


"Iya," jawabnya dengan suara parau.


"Bik, aku nggak nafsu makan, mulut rasanya pahit dan mual."


"Paksakan makan Non," nasihat bibi.


"Ini bawa apa, kok baunya nggak enak." Mihika menutup wajahnya dengan selimut.


"Sup ayam jamur kesukaan Non Mihika."


"Aku nggak mau, bawa aja ke belakang."

__ADS_1


"Mau diganti menu apa, biar Bibi buatkan."


Mihika menggelengkan kepalanya. Akhirnya, makanan untuk Mihika dibawa kembali, karena penolakan dari Mihika. Arka yang baru saja masuk kamar, mendengar apa yang dibicarakan oleh istrinya dan asisten rumah tangga.


Berdiri menatap istrnya yang sudah beranjak duduk. Arka melipat kedua tangan di dada, "Mihika, cobalah bersikap dewasa. Semua orang mengkhawatirkan kamu, tapi lihat ... makan pun kamu enggan. Ini bukan hanya menyiksa diri kamu sendiri tapi menyulitkan orang lain."


"Tapi memang aku mual. Pak Arka juga sibuk terus, nggak peduli sama aku."


"Di perusahaan sedang crawded, karena urusan tuntutan dan segala persoalannya. Kalau aku tetap disini, keadaan akan semakin kacau, Pak Johan sudah sangat sibuk," tutur Arka.


"Kamu jangan manja begini, apa memang ini sifat asli kamu. Karena Hika yang aku kenal, wanita mandiri bahkan tidak mudah ditindas. Aku lebih mengenal Hika dibandingkan Mihika."


"Pak Arka, aku memang salah karena tidak jujur dengan identitasku tapi Pak Arka sudah tahu alasannya. Bahkan setelah kita menikahpun aku masih ragu dengan keberpihakan Pak Arka."


Arka tertawa sinis, "Jadi, kamu menduga aku terlibat dengan semua kejahatan perusahaan. Kamu tidak percaya denganku, suamimu?"


"Khawatir pak Arka lupa, pernikahan kita terjadi karena terjebak situasi. Bahkan dengan jelas Pak Arka mengatakan tidak akan bersikap layaknya seorang suami karena aku bukan wanita idamanmu." Pernyatan Mihika sepertinya terbawa emosi karena kalimat-kalimat Arka.


"Oke. Saat ini aku hanya bawahanmu Nona Mihika Yodha dan sebagai seorang suami aku bertanya apakah Hika akan ikut denganku mengarungi bahtera rumah tangga. Tidak usah dijawab, cukup dengan ikut denganku sebagai jawaban." Arka lalu meninggalkan Mihika.


"Pak Arka," panggil Mihika lalu berusaha turun dari ranjang meskipun tubuhnya terasa lemas.


Saat berdiri dan melangkah, Mihika merasakan sekelilingnya berputar lalu gelap dan dia pun tak sadarkan diri.


Arka berdiri di luar kamar Mihika, berharap Mihika akan keluar dan mengatakan siap melanjutkan rumah tangganya. Tapi Mihika tidak kunjung keluar, Arka pun melanjutkan langkahnya meninggalkan kediaman Yodha.

__ADS_1


\=\=\=\=\= uhhh Arka nggak asyik ahhh,, 😑


__ADS_2