CINTA DIBAYAR TUNAI

CINTA DIBAYAR TUNAI
Mencintamu


__ADS_3

"Kamu kangen aku nggak?" tanya Arka. 


"Nggak, aku benci Pak Arka." Mihika semakin mengeratkan pelukannya. Arka terkekeh mendengar pengakuan Mihika, mulut dan sikapnya bertolak belakang. 


"Sepertinya pelukan kita akan semakin terhalang perut kamu." Arka mengurai pelukan mereka, menangkup wajah Mihika dan menatapnya. Mengikis jarak diantara mereka karena wajah Arka yang semakin dekat bahkan hembusan nafasnya sangat terasa. Mihika yang paham dengan maksud Arka berusaha terbuka menerimanya. 


Arka pun melummat bibir Mihika yang dibalas dengan pagutan dalam. Keduanya hanyut dalam kerinduan meskipun hanya lewat pagutan bisa terlihat kesungguhan, kerinduan bahkan posesif keduanya. 


Melepaskan bibirnya karena pukulan yang diterima Arka oleh Mihika yang seakan kehabisan oksigen. 


"Kamu kok makin cantik sih?"


"Gombal, gak mempan di aku." 


Arka tersenyum, "Ini serius, kamu tuh makin argh,  seksi dan bikin gumush." Arka menatap keliling kamar, "Kamu mau menginap di sini?" 


"Hm, karena Om Jo khawatir aku lelah jadi visa langsung istirahat." Mihika kembali duduk di tepi ranjang. "Tapi tadi baru juga sebentar di pesta udah ketemu sama pasangan yang nyebelin." 


Arka ikut duduk di samping Mihika. "Pasangan? Ini lagi bahas aku lagi? Serius sayang, aku nggak bareng Cintia. Ketemunya juga baru tadi aja." 


"Masa sih." 

__ADS_1


Arka merangkul bahu Mihika. "Aku bisa buktikan kalau selama ini aku tidak berhubungan dengan wanita manapun." 


"Gimana buktikan, memang ada CCTV yang terus menerus mengawasi. Pak Arka mah ngaco," ejek Mihika. 


"Nggak percaya, ayo kita buktikan." Arka melepaskan jas dan dasinya kemudian membuka kancing kemejanya. 


"Pak Arka mau ngapain?" 


"Melepas rindu sekaligus membuktikan aku nggak ada main dengan perempuan lain.”


Mihika tidak menyangka jika Arka benar-benar serius dengan ucapannya. Membuka semua penutup tubuhnya hanya menyisakan boxer yang sudah menampakan isinya yang menonjol. (apaan kali).


“Ini sih bukan mau bikin aku percaya, tapi bikin aku enak,” ejek Mihika, spontan membuat Arka terbahak.


“Sama-sama enak, ayolah sayang. Aku rindu, benar-benar merindu.” Arka kembali mengikis jarak dan melakukan pertemuan bibir, bahkan lebih panas dari yang sebelumnya. Tangannya aktif berusaha melepaskan dress yang dikenakan Mihika.


Tubuh Mihika sudah polos dan berada di bawah kungkungan tubuh Arka dengan tatapan liar dan penuh g@irah. Arka mengusap pelun Mihika dan menciumnya, seakan benda yang sangat berharga. Lama terpisah dengan Mihika membuat Arka benar-benar semangat mengakses tubuh yang sudah lama tidak disentuh.


Meraba, mengusap, bahkan menciumi hampir di seluruh bagian tubuh Mihika membuat pemilik tubuh itu menggeliat kegelian. Bahkan saat Arka bermain di bawah sana dan Mihika tidak dapat melihat karena terhalang perutnya hanya bisa mendessah pelan dan meremmas sprei yang berada di bawah tangannya.


“Pak Arka.”

__ADS_1


“Hm.”


“Jangan … aku nggak tahan.”


Arka tersenyum, berhasil membuat istrinya mengeerang nikmat. Akhirnya  menu utama pun mereka nikmati. Serasa dibawa melayang dan terbang karena ulah memabukkan Arka. Kerinduan membuat keduanya saling sambut dan terpaut dalam penyatuan diri dan sentuhan yang menyentuh raga bahkan sampai kejiwa terasa nikmat.


Ada sensasi yang tidak biasa dirasakan oleh Mihika, dari titik yang disentuh lalu merambat ke perut bahkan ke seluruh aliran darah dalam tubuh. Dengan tubuhnya saat ini dia tidak bisa mengeksplorasi lebih jauh. Hanya bisa menerima gerakan pinggul Arka tanpa bisa membalas dengan gerakan yang membuat pergu_mulan mereka lebih panas.


 "Pak Ar-ka, aku ...." Tubuh Mihika mengencang kemudian mendessah panjang. Arka tersenyum tanpa menjeda gerakannya. Kemudian menyusul dengan eraangan sambil meneriakan nama istrinya. Nafas keduanya masih menderu, Arka menahan tubuhnya agar tidak menimpa perut Mihika.


"Sayang," panggil Arka yang berbaring miring menghadap Mihika. Menghapus titik keringatbdi leher dan dahi Mihika.


"Hm." Mihika sudah memejamkan matanya sepertinya sudah mulai terlelap.


"Aku masih mau lanjut, tapi kamunya tidur." Arka memeluk Mihika. "Aku sayang kamu, Hika. Bahkan tanpa Identitas seorang Yodha aku tetap mencintaimu."


Arka mengeratkan selimut yang menutupi tubuhnya juga tubuh Mihika.


Johan berada di depan pintu kamar Mihika, akan menekan bel tapi urung mengingat Arka yang menanyakan kamar Mihika. "Yang ada aku hanya mengganggu aktifitas mereka."


\=\=\=\=\= Lanjut malam yaaa 🙂😅

__ADS_1


__ADS_2