
“Sampai kamu melewati pintu itu, aku pastikan kamu nggak akan bisa jalan dengan nyaman,” ancam Arka.
“Hahh.”
Arka tidak melanjutkan kalimatnya, terdengar ketukan pintu. Mihika yang memang sedang berada di dekat pintu langsung membukanya dan melihat Mae di sana dengan membawa beberapa map. “Pas banget, kamu lagi ditungguin Pak Arka tuh eh maksudnya dokumennya,” ucap Mihika.
Arka menghela nafas kesal karena Mihika ternyata berani melanggar perintahnya bahkan terlihat tidak takut dengan ancaman yang sudah diucapkan Arka. Bahkan saat sudah berada di depan pintu ruangan Arka Mihika sempat menjulurkan lidahnya seakan mengejek Arka.
Lihat saja kamu, akan aku balas batin Arka.
“Pak, ini dari divisi operasional sejak tadi telepon saya terus. Katanya kenapa bisa belum ada acc, sedangkan kegiatannya sudah mulai berjalan. Proposal yang mereka maksud untuk pencairan keuangan,” ujar Mae. “Pak Anjay juga sempat menanyakan hal yang sama.”
“Panggil ketua tim untuk segera datang ke sini, seharusnya mereka masih ada di kantor karena tadi pagi sedang briefing divisi.”
Selanjutnya Arka sibuk mengarahkan ketua tim project agar tidak mengganggu proses kegiatan perusahaan, tapi dengan anggaran yang disesuaikan dengan pengajuan awal. Tentu saja ini membuat heboh beberapa orang yang sebelumnya terlibat, termasuk Anjay Gunawan yang juga khawatir jika Pak Arka menindaklanjuti hal ini.
“Aku harus pikirkan ide yang tidak akan membuat Arka berpikir bahwa aku yang benar-benar berada di balik ini semua,” gumam Anjay.
...***...
Sudah lewat satu jam berakhirnya jam kerja, Arka pun mengajak Mihika pulang. Mihika yang juga terlihat sudah lelah, bahkan cepolan rambutnya sudah tidak serapi tadi pagi. Baru saja memasuki mobil dan memasang seatbelt, Mihika membuka ponselnya yang bergetar di kantong blazer. Membaca pesan masuk dari Om Johan yang meminta agar Mihika segera ke rumah sakit.
__ADS_1
“Pak Arka aku harus ke rumah sakit.”
Arka yang sudah mulai mengemudi, bahkan mobil sudah meninggalkan perusahaan menoleh sekilas kemudian kembali fokus pada kemudi. “Ayah kamu?”
“Hm.”
“Boleh aku ikut,” pinta Arka.
“Hm, belum waktunya Pak. Ayah masih dalam perawatan, mungkin nanti kalau situasinya sudah memungkinkan aku akan ajak Pak Arka bertemu beliau.”
Arka hanya menganggukan kepalanya, tidak ada curiga tapi yang dikatakan Mihika ada benarnya. Kondisi ayah mertua Arka sedang sakit bahkan mengizinkan pernikahan putrinya hanya lewat telepon, karena pernikahan mereka yang mendadak karena desakan warga.
Arka mengantarkan Mihika sampai depan lobby rumah sakit. “Jangan pulang terlalu malam,” ucap Arka sebelum Mihika membuka pintu.
“Lihat saja nanti hukuman yang akan kamu dapatkan,” gumam Arka saat Mihika sudah pergi.
Mihika berjalan dengan sedikit berlari menuju ruang perawatan Aditya. Ternyata Ayahnya sudah duduk pada sofa yang ada di ruangan itu, “Ayah, kok nggak berbaring?” tanya Mihika yang ikut duduk disebelahnya. "Om Johan mana?" tanya Mihika.
"Ada, Ayah sudah bisa pulang. Mungkin dia sedang mengurus administrasi."
"Beneran Yah, aku ikut pulang juga ya," jawab Mihika sambil memeluk ayahnya. Aditya mengusap punggung Mihika, putri satu-satunya bahkan terlihat banyak kemiripan dengan sang Ibu.
__ADS_1
"Kamu sebaiknya pulang, suamimu sudah menunggu."
Mihika pun mengurai pelukannya dan menatap wajah Aditya, "Tapi aku mau sama Ayah, please boleh ya," rengek Mihika.
Aditya hanya terkekeh, "Kamu itu sudah dewasa, sudah punya suami. Jangan manja gitu, manjalah dengan suamimu sendiri." Aditya berharap jika Arka dan Mihika bisa saling melengkapi dan berbahagia. Aditya juga yakin Arka pasti akan berubah dan menjadikan Mihika satu-satunya wanita yang dicintai.
Johan yang baru saja datang, melihat Mihika yang masih merangkul ayahnya, "Ayah kamu sementara hanya akan dirumah, semua urusan perusahaan aku yang urus. Kamu kapan selesaikan urusan kekacauan di cabang tempatmu?"
Mihika berdecak, "Sabar dong."
"Karena aku akan tarik Arka ke cabang lain dan yang disana bisa kamu urus sendiri. Aku juga sudah mengatur jadwal perawat yang mengurus Pak Aditya."
"Aku ikut pulang ya Om?"
"Nggak, urus saja suamimu. Jangan sampai dia cari kenyamanan lain."
"Om Johan apaan sih," sahut Mihika.
Karena terus dilarang oleh Aditya dan Johan, Mihika akhirnya pulang ke apartemen. Mihika menduga jika Arka berada di kamar, perlahan membuka pintu kamar dan melihat Arka sudah terbaring dengan mata terpejam.
"Aman," ucap Mihika lalu melangkah sambil berjinjit menuju toilet.
__ADS_1
Sedangkan Arka menyunggingkan senyumnya, masih dengan mata terpejam. Ternyata dia hanya pura-pura tertidur.
\=\=\=\=\=\= cie yang lagi nunggu unboxing. Sabar yaaa 🤣🤣