
Johan menggenggam tangan Mae setelah turun dari mobil menuju UGD. Tidak menemukan Arka dan tidak diperbolehkan masuk, Johan pun menghubungi Arka.
"Bagaimana kondisi Mihika, aku di depan UGD."
"Hah, udah sampai Jakarta? Tau dari mana kalau ...."
"Halahh, cepat keluar dulu," titah Johan.
Arka pun menemui Johan dan Mae. "Bagaimana Mihika?" tanya Joham tampak begitu cemas karena lamanya mengabdi pada keluarga Yodha membuat Johan merasa sangat dekat dengan Mihika, sudah dianggap adik, keponakan atau anak sendiri.
"Sedang istirahat, kalau dalam tiga jam tidak ada tanda melahirkan sudah boleh pulang."
Johan nampak berpikir dengan mengusap dagunya. "Lalu insiden ...."
"Kita bicarakan di rumah saja," sahut Arka.
"Jadi benar karena urusan dengan James?"
"Bukan James masalahnya tapi asistennya."
Johan menghela nafasnya, "Terus kabari aku kondisi Mihika," ujar Johan.
"Hm."
...***...
Mihika sedang fokus pada layar televisi yang menanyangkan drama, dengan bersandar pada headboard. Arka yang masuk ke kamar membawakan sepiring irisan buah memberikan pada Mihika lalu berbaring disamping Mihika.
"Hey boy," panggil Arka sambil mengusap perut Mihika. Terasa kedutan saat Arka menyentuh perut itu. "Sayang, dia merespon."
__ADS_1
"Hm." Mihika masih konsen pada drama yang sedang dia tonton.
"Pak Jo bilang kamu sudah bisa cuti, biar urusan perusahaan dia yang urus termasuk masalah James."
"Hm."
Arka menoleh menatap Mihika lalu mengambil remote dan mematikan layar TV.
"Papih, apaan sih. Aku lagi nonton."
"Habiskan buah kamu lalu kita tidur. Kamu harus banyak istirahat bukan banyak tidur," titah Arka.
"Tapi ....."
"Enggak ada tapi," sela Arka lalu menyuapi Mihika dengan buah yang tadi dia bawa.
"Masalah Lela gimana? Dia 'kan sudah mencoba menyakiti aku."
Arka menunduk menciumi perut Mihika dan kembali menyapa bayi dalam perut Mihika. Mihika mengusap kepala Arka. Hatinya berdesir melihat Arka yang terlihat sangat bahagia dan antusias dengan kehamilan Mihika. Padahal awal pertemuan mereka termasuk awal hubungan mereka sangat tidak baik.
Mihika pun akhirnya terlelap. Arka beranjak dari ranjang tempat mereka berada menuju ruang kerja yang sebelumnya dipergunakan Ayah Mihika.
Menghubungi Johan untuk membicarakan detail urusan James yang tadi siang sudah diurus oleh Johan.
"Dimana Mihika?" tanya Johan.
"Tidur. Jadi bagaimana?" tanya Arka.
"James masih bisa bekerja sama dengan kita kalau dia lepaskan Lela. Bagaimana pun urusan ini personal Lela dan Mihika, jadi kita cari jalan yang sama-sama menguntungkan," ujar Johan di ujung telepon.
__ADS_1
Cukup lama pembicaraan mereka yang awalnya membahas urusan Lela dan urusan lainnya terkait perusahaan, sampai Arka memutuskan mengakhiri panggilan.
Terdengar pintu ruangan di ketuk lalu pintu di buka. "Tuan Arka, Non Mihika ...."
"Mihika kenapa?"
"Itu, ayo lihat saja, Bibi bingung menjelaskannya."
Arka berjalan cepat bahkan cenderung lari menghampiri Mihika yang duduk di lantai, di luar kamarnya ditemani salah satu ART.
"Sayang, kamu kenapa di sini."
"Aku mau cari Papih, tapi tiba-tiba perut aku sakit," ujar Mihika sambil meringis. Arka bergegas menggendong Mihika dan merebahkannya ke ranjang.
"Bagaimana rasa sakitnya? Apa tanda melahirkan?"
Mihika masih meringis sambil menggelengkan kepalanya. "Apa sudah ada cairan yang keluar Non?" tanya Bibi.
"Aku nggak tahu."
Arka duduk disamping kaki Mihika lalu menyingkap gaun tidur yang dikenakan Mihika dan membuka sedikit kedua paha istrinya.
Arka memgernyitkan dahinya lalu menoleh ke arah Bibi, "Siapkan mobil dan perlengkapan Mihika," titah Arka.
"Kita mau kemana?"
"Junior sudah mau lounching."
\=\=\= tbc
__ADS_1
yuhuuu mampir yukk ke karya rekan Author, Judulnya Jerat Cinta Si Kembar,, cek di bawah ini yesss