
Tiba-tiba ada yang ikut masuk ke dalam kamarnya. “Eh, siapa kamu?” tanya Mae panik karena di peluk dari belakang.
“Hm, wangi tubuh kamu bikin aku segar lagi.”
“Pak Johan? Pak Johan ngapain kesini?”Mae berusaha melepaskan diri dari pelukan Johan.
Akhirnya Johan pun melepaskan pelukannya. Keduanya kini dalam posisi berhadapan. “Pak Johan bikin kaget aja mana langsung peluk. Aku pikir tadi orang jahat.”
Johan berdecak, “Karena aku bukan orang jahat jadi boleh lanjut lagi?”
“Ih, aneh-aneh. Halalin aku dulu, baru boleh macem-macem.”
“Oke,” sahut Johan lalu meraih tangan Mae dan menariknya untuk keluar dari kamar.
“Eh, ini mau kemana?”
Johan yang sudah menekan handle pintu, urung melanjutkan gerakannya. “Tadi kamu bilang mau dihalalin, aku bisa halalkanmu malam ini juga.”
“Pak Johan pikir aku kucing, bisa kawin kapan aja. Aku masih ada orangtua, masa menikah tanpa izin orang tua lagi pula harus Ayah aku yang menikahkan.”
Johan menghela nafasnya, “Oke, besok kita ke rumah orang tua kamu dan langsung menikah saat itu juga.” Mae hanya diam, malu untuk mengatakan dia setuju. “Tapi jangan harap walaupun kita mengadakan resepsi aku akan berlaku seperti apa yang Arka lakukan.
Mae terkekeh mendengar keluhan Johan. “Kalaupun aku menerima Pak Johan, aku harus menerima Pak Johan apa adanya bukan menuntut untuk berlaku seperti orang lain. Lagi pula, aku bilang suka dengan konsep pesta pernikahan Pak Arka dan Nona Mihika bukan berarti aku ingin cerita yang sama.”
Johan menatap penuh cinta dengan tangan perempuan itu masih dalam genggamannya. Tiba-tiba terbesit ide konyol Johan. “Kita akan menikah besok, kalau kawinnya bisa malam ini dong?”
“Keluar!” teriak Mae.
__ADS_1
Sedangkan di kamar peran utama dari pesta yang baru saja berakhir. Mihika sudah tertidur karena lelah seharian bergelut dengan kegiatan resepsi pernikahannya. Setelah membersihkan diri dan mengenakan babydoll karena kondisi perutnya yang sudah membuncit dan berada di bawah selimut.
Arka yang sudah berada di kamar, menatap istrinya yang sudah terlelap. Harapan akan menghabiskan malam berbagi peluh dan kasih sayang harus tertunda karena tidak tega mengusik tidur pujaan hatinya. Setelah mandi di bawah guyuran air hangat yang membuat tubuhnya kembali rileks, Arka hanya mengenakan boxer bergabung di bawah selimut yang sama dengan Mihika.
“I love you, Hika.” Arka mengecup kening Mihika. Wanita itu hanya menggeliat pelan dan kembali terbuai mimpi. Arka pun ikut memejamkan mata dan merajut mimpi yang sama dengan Mihika.
...***...
“Kalian mau apa?” tanya Arka memastikan apa yang baru saja dia dengar.
Johan berdecak, “Tidak ada siaran ulang.” Mereka berempat berada dalam satu meja menikmati sarapan pagi. Johan yang mengatakan rencana hari ini akan menemui orangtua Mae lalu berniat langsung menikahinya.
Mae hanya menunduk malu dengan wajah merona. Mihika dan Arka saling tatap lalu kembali menatap Johan. “Om Jo, jangan main-main. Mae sendiri siap nggak, jangan-jangan Om Jo mengancam Mae ya?”
“Kamu tanya sendiri aja, dia diancam atau sukarela menerima aku.”
Mihika menatap Mae dan Johan bergantian kemudian terkekeh. “Akhirnya Om Jo ada pawangnya juga. Oke, aku setuju aja. Tapi kayaknya aku nggak bisa menyaksikan pernikahan kalian. Perjalanan ke kampung halaman Mae itu kurang lebih lima jam, aku mana sanggup duduk selama itu.”
“Nggak apa-apa kok, yang penting doanya saja. Lagi pula Pak Johan masih ingin mengadakan resepsi seperti kalian.”
Arka berdehem. “Pak Johan, saya heran kenapa dua wanita ini senang memanggil pasangannya dengan sebutan Bapak. Nggak ada romantisnya,” ejek Arka.
“Justru itu panggilan cinta aku untuk Pak Arka.”
“Ganti sayang," pinta Arka.
“Apa dong?” tanya Mihika bingung.
__ADS_1
“Ayah, Papa, Daddy ….”
“Papih Arka,” ujar Mihika malu-malu.
Arka berbinar. “Ayo,” ajaknya sambil berdiri.
“Mau kemana?” tanya Johan dan Mae berbarengan.
“Kegiatan dinas pasangan halal.” Mihika hanya tersipu malu menyambut uluran tangan Arka. “Hadiah dari kami, perjalanan bulan madu untuk kalian. Silahkan tentukan tujuannya.”
“dan hanya satu minggu tidak lebih. Perusahaan masih butuh Om Jo,” tutur Mihika lalu berjalan sambil memeluk lengan Arka.
“Dasar anak-anak nakal. Sekian tahun menunggu momen ini, hanya diberi waktu satu minggu.”
“Pak Johan, ayo kita berangkat sekarang. Kalau kesorean susah cari penghulu,” usul Mae.
“Ayo, ternyata bukan hanya aku yang tidak sabar.” Johan beranjak berdiri dengan semangat dua ribu dua puluh dua.
“Aku bukan tidak sabar, tapi menyampaikan kondisi.”
“Whatever, yang penting nanti malam kita bisa mendessah halal.”
“Dasar mesum,” sahut Mae.
\=\=\=\=\=\= halahhh Johan, modus baeee
__ADS_1