CINTA DIBAYAR TUNAI

CINTA DIBAYAR TUNAI
Johan Jatuh Cinta


__ADS_3

"Pak Johan." 


Johan berbalik dan menatap Mae dari kepala sampai kaki. Mae yang memang belum mandi masih mengenakan kostum tidurnya bahkan dengan cepolan rambut acak-acakan, merasa tidak percaya diri. 


"Pak Johan, saya ...." 


Johan mengangkat tangan kanannya seakan mengatakan agar Mae berhenti bicara. "Bukankah semalam saya sudah bilang kalau aku akan jemput." 


"Saya nggak tau kalau pesan itu Pak Johan yang kirim," ujar Mae sambil cemberut. 


"Sebaiknya kamu mandi dulu, aku tunggu disini." Johan lalu duduk di saah satu kursi yang ada di beranda rumah tanpa menunggu jawaban dari Mae apakah dia setuju untuk pergi atau tidak.


"Tapi Pak, saya nggak mau kemana-mana. Ini 'kan weekend, saya ingin menikmati liburan saya."


"Kamu ingin liburan yang bagaimana?" 


"Ya macem-macem Pak, bisa nonton, makan ... pokoknya terbebas dari urusan kantor." 


"Oke," jawab Johan. 


"Oke apa maksudnya, Pak Johan nyebelin banget sih," ujar Mae sambil mengacak rambutnya. 


"Ya, oke saya akan penuhi hari libur sesuai dengan keinginan kamu. Tapi perginya denganku, cepatlah kamu hanya membuang waktu saja." 


"Nggak Pak Arka, nggak Pak Johan. Rese, suka ngatur-ngatur." 


"Karena pekerjaan kami memang begitu, mengatur orang." 


"Bodo amat," ujar Mae sambil meninggalkan Johan. 


"Hei, aku dengar!" teriak Johan. 


Beberapa menit kemudian, Mae dan Johan sudah berada di dalam mobil, duduk disamping Johan yang sedang mengemudi terkagum dengan kondisi mobil milik Johan. 


Sebagai sekretaris Arka dan sering mendampingi pria itu termasuk ikut dalam mobil mewahnya tapi mobil milik Johan terlihat lebih menarik. 


"Kenapa?" 


"Hehe, mobil Bapak keren." 


"Kamu mau?" 

__ADS_1


"Mau mobil ini? Sekalipun mau, Iya kali kayak beli baju. Suka atau cocok, langsung masuk keranjang." 


"Kalau kamu suka dan mau, mobil ini bisa jadi milik kamu. Termasuk apartemen, deposito dan semua aset aku bisa kamu miliki. Tapi ...." 


Mae mengernyitkan dahinya mendengarkan Johan bicara.


"Kamu harus jadi istri aku dulu. Karena kamu sudah masuk keranjang dalam hidup aku.”


"Hahh. Ini lamaran secara tidak langsung atau apa sih. Nggak romantis banger," ejek Mae. 


"Aku nggak suka bertele-tele apalah apalah itu romantis." 


"Tapi perempuan suka pria romantis Pak." 


Otak Johan seakan nge-lag, memikirkan bagaimana dia harus bersikap romantis agar Mae menyukainya.


 


***


Mihika duduk di tepi kolam renang dengan kaki terjulur ke dalam air. Arka sudah dua kali putaran dan saat ini hampir menyelesaikan satu putaran lagi. 


"Pak Arka." 


Arka beranjak keluar dari kolam lalu mengajak Mihika berdiri dan mengarahkan untuk duduk di kursi. “Bagaimana bisa aku tidak temani kamu, sebelumnya aku bodoh karena sudah membiarkan kamu melewatinya sendiri. Tapi kedepannya, kamu tidak usah khawatir, aku akan berusaha selalu ada.”


“Hm, peluk,” ucap Mihika dengan manja. Arka terkekeh lalu memeluk Mihika dan mengusap pelan kepala istrinya.


“Kita masuk, sudah mulai terik.”


Mihika duduk bersandar pada sofa ruang keluarga, menunggu Arka yang berganti pakaian. Memainkan ponselnya dan kebetulan melihat status media sosial milik Mae. Foto selfie dalam mobil yang Mihika seperti mengenal mobil tersebut.


“Ini kayak interior mobilnya Om Jo. Tapi nggak mungkin Mae bisa langsung luluh sama bujang lapuk yang satu ini. Memang sih Om Jo itu ganteng tapi ….”


“Ada apa?”


“Pak Arka, kayaknya Mae dan Om Jo lagi jalan deh.”


“Ya biarkanlah. Mau jalan, lari atau tidur, biar mereka urus sendiri.”


Mihika memukul pelan paha suaminya, “Bukan jalan itu maksudnya, mungkin kencan kali ya.”

__ADS_1


“Kamu mau kita kencan? Ayo!” ajak Arka.


“Ogah ah, badan aku masih pada pegel. Belalai Pak Arka kalau beraksi nggak kira-kira, aku jadi capek begini.”


“Tapi suka ‘kan dengan belalai aku.”


“Mesum.”


“Loh, kamu mau kemana sayang?”


“Tidur siang. Nggak usah aneh-aneh ya, belalai kamu suruh puasa dulu.”


 


***


Mihika dan Johan sudah berada dalam kesibukan weekday-nya. Bahkan seharian ini keduanya menghadiri meeting yang cukup membuat lelah jiwa dan raga. Karena harus mengevaluasi dan memberikan masukan atau kebijakan dari permasalahan yang ada.


Seperti saat ini, sudah lewat jam kantor berakhir. Mihika masih menyimak presentasi dari salah seorang karyawan yang bertugas sebagai kepala proyek. Sedangkan Johan asyik berkutat dengan laporannya. Keduanya benar-benar menjadi tim yang solid, karena berusaha saling melengkapi.


Mihika melempar pandangannya ke arah luar ruangan. Sekat dinding antar ruangan yang terbuat dari kaca membuatnya dapat dengan mudah melihat keadaan di luar. Mihika melihat sosok wanita yang sangat dia kenal, bahkan dirinya memastikan penglihatannya.


“Mae,” ucap Mihika pelan.


“Om Jo, gercep juga ya,” bisik Mihika.


Johan yang tidak paham arah pembicaraan Mihika hanya diam.


“Romannya udah diterima nih."


Johan menoleh pada Mihika. “Kamu bicara apa sih?”


Mihika menunjuk ke arah luar, diikuti pandangan Arka. “Cie, biasa aja dong lihatnya.”


 


\=\=\=\=\=\=


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2