CINTA DIBAYAR TUNAI

CINTA DIBAYAR TUNAI
Kasihan Deh


__ADS_3

Arka berjalan disamping brankar yang membawa Mihika menuju ruang rawat inap. Tangannya terus menggenggam tangan Mihika sambil menatap wajah yang sesekali meringis menahan sakit. Setelah dilakukan pemeriksaan, saat ini Mihika baru mengalami pembukaan tiga. Artinya masih agak jauh dan mungkin masih harus menunggu waktu benar-benar sempurna pembukaan jalan lahir.


“Sshhh, sakit.”


“Saya tinggal dulu ya Pak, kalau ada apa-apa pencet bel saja. Per dua jam, Ibu Mihika akan dicek pembukaanya,” jelas perawat sebelum meninggalkan mereka berdua. Arka hanya bisa mengusap wajahnya. Tidak tega melihat Mihika yang meringis kesakitan sedangkan dia tidak bisa melakukan apapun untuk meredakan rasa sakit yang dirasakan Mihika. Malah kalau dipikir, semua ini karena ulah Arka yang membuat Mihika hamil.


“Kamu ngapain sih malah berdiri disitu,” keluh Mihika. “Pinggang aku panas, usapin,” titah Mihika. Arka segera duduk di samping brankar Mihika dan mengusap punggung wanita yang akan menjadi Ibu dari anak-anaknya.


“Sayang, aku nggak tega lihat kamu kesakitan begini.” Arka mengusap titik-titik keringat di kening Mihika.


“Tapi memang prosesnya begini.”


“Kita pilih operasi saja ya,” ajak Arka.


Mihika berdecak, “Nggak mau. Dokter bilang bisa normal kok.”


Arka menghela pelan kemudian mengusap punggung Mihika yang saat ini sengaja berbaring miring membelakangi keduanya.


...***...


Sudah berganti pagi, tampang Arka sudah semakin tidak karuan. Sedangkan pembukaan jalan lahir Mihika tidak ada progress.


Saat ini Arka sedang mendapatkan penjelasan dari dokter, mengenai tindakan yang harus segera diambil karena Mihika yang terlihat sudah lemas sedangkan pembukaannya lambat.


“Saya akan tanda tangani semua berkasnya, tolong dipersiapkan,” ujar Arka. Kembali ke dalam kamar, ada Mae yang menemani Mihika.


“Gimana, Pak?” tanya Mae.


“Aku pilih operasi.”


Mihika menoleh ke arah suaminya. “Kok operasi, memang ….”


“Sayang, sudahlah. “ Arka duduk disamping Mihika mengusap dan mencium punggung tangan wanita itu. “Kamu sudah berusaha, tapi pembukaannya tidak ada perubahan sayang. Sejak semalam masih tetap di pembukaan empat, tidak baik untuk kalian berdua."


“Apapun prosesnya, kamu tetap seorang Ibu dan istri yang baik. Aku akan urus berkas persetujuan dulu,” ungkap Arka. Dia beranjak dari duduknya lalu mencium kening Mihika cukup lama dan dalam.


Arka berada di depan ruang operasi, menunggu proses kelahiran anaknya. Kembali terbayang bagaimana proses pernikahan mereka, yang terjadi bukan kehendak tapi karena situasi. Bahkan di awal pernikahan, Arka cukup kasar dan jahat pada Mihika tapi kini Arka sepertinya tidak akan sanggup jika dia harus terpisah dari Mihika.

__ADS_1


Wanita itu benar-benar mengubah pola pikirnya mengenai hubungan yang sehat dan pernikahan. Arka benar-benar terjatuh dalam pesona Mihika. Pintu ruang operasi terbuka dan keluarlah perawat, “Suami Ibu Mihika.”


“Saya, Suster,” jawab Arka sambil berjalan mendekat.


“Bayinya sudah lahir, Pak Arka bisa ke ruang bayi lewat pintu samping.”


Arka bergegas mengikuti arahan perawat, tidak sabar ingin melihat dan bertemu dengan keturunannya.  “Selamat Pak Arka, bayinya laki-laki. Beratnya dua koma sembilan kilogram dan tingginya lima puluh lima centimeter.”


Arka menerima bayi mungil yang sangat mirip dengannya. Mengazankan bayinya sesuai dengan kepercayaan agama yang dianut.  Rasanya Arka ingin terus memeluk bayi itu, tapi perawat memintanya kembali untuk diletakan di inkubator agar lebih hangat.


“Pak Arka tunggu Ibu Mihika diantar ke kamar. Nanti kalau bayinya sudah stabil juga kita antar ke kamar.”


Sedangkan di kamar rawat inap Mihika. Mae menunggu kabar dengan tidak sabar dan penasaran.


Brak.


Pintu kamar dibuka dan masuklah Johan. “Pak Johan bikin kaget aja,” ujar Mae.


“Mihika mana? Sudah lahir belum?”


Mae berdecak, “Kalaupun melahirkan ya nggak di sini. Sedang proses operasi,” jawab Mae.


“Normal bukan biasa. Ternyata tidak ada kemajuan pembukaan jadi dokter menyarankan untuk operasi karena kondisi Ibu Mihika sudah lemas.”


“Pembukaan?” tanya Johan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


“Sudahlah, laki-laki mana tahu proses macam begitu. Tahu enaknya doang,” keluh Mihika.


“Mana ada yang enak hanya laki-laki. Kamu juga suka keenakan sampai merem melek.”


“Tapi Ibu Mihika hamil karena laki-laki, aku juga hamil karena laki-laki. Laki-laki yang asal nyembur,” tutur Mae.


Johan hanya menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Mae. “Sudah, duduk sini. Ngapain berdiri disitu kayak satpam Mall aja,” ejek Mae.


 Arka kembali mendampingi Mihika ketika dinyatakan kondisinya sudah stabil pasca proses operasi. Efek bius yang sudah mulai hilang membuatnya merasakan kesemutan pada kedua kaki dan rasa perih yang mulai terasa.


Arka menggenggam tangan Mihika saat brankarnya didorong menuju kamar tempat rawat inap dimana sudah ada Mae dan Johan di sana.

__ADS_1


“Ibu Mihika belum bisa turun ya Pak. Jangan dikasih minum atau makan apapun dulu, karena masih dalam kondisi puasa. Nanti kalau sudah waktunya akan ada yang mengantarkan minum dan makan untuk pasien,” jelas seorang perawat yang ikut mengantarkan Mihika.


Johan menghampiri Mihika, mencium kening perempuan yang sudah dianggap putrinya sendiri. Arka berdecak melihat hal itu, “Nggak usah cemburu, anggap aja aku mertua kamu. Jadi, jangan aneh-aneh,” ujar Johan, Mae hanya terkekeh melihat interaksi antara Arka dan Johan.


“Kamu hebat Mihika, Om nggak sangka kamu sekarang sudah menjadi seorang Ibu.”


“Aku juga nggak nyangka kalau Om sebentar lagi punya anak. Aku pikir bakal jadi bujang lapuk terus,” ejek Mihika.


“Bener-bener ya, padahal baru selamat dari meja operasi tapi mulutnya tetep pedes,” ungkap Johan.


“Sayang, kamu jangan mengeluarkan emosi dulu. Istirahat saja,” saran Arka yang dijawab dengan anggukan kepala oleh Mihika.


“Aku nggak sabar ingin melihat bayinya,” ujar Mae. Dia asyik menikmati buah dan makanan yang memang Arka siapkan untuk Mihika ataupun untuk tamu yang datang menjenguk.  “Kira-kira mirip Pak Arka atau Ibu Mihika.”


“Kalau mirip mereka berdua itu wajar dan tidak masalah. Akan aneh kalau anak mereka itu mirip orang lain yang tidak ada hubungan dengan mereka berdua,” tutur Johan.


“Anak kita nanti sepertinya akan mirip Pak Johan.”


“Baguslah, aku ayahnya. Nggak mungkin mirip Dio, asisten Arka.”


“Kata orang kalau ibu hamil membenci seseorang, nanti anaknya akan mirip dengan orang yang dibenci.” Mae kembali menyuapkan jeruk yang sudah dikupas. Johan terdiam sejenak mencoba mencerna apa yang diucapkan oleh Mae, tidak lama kemudian dia paham dan menoleh pada Mae. “Maksudnya kamu benci aku?”


Mae mengedikkan bahunya. “Gimana nggak benci, sejak menikah dengan Pak Johan aku tuh kurang tidur.” Johan hanya terkekeh mendengarkan keluhan Mae. “Benci tapi cinta,” bisik Mae sambil tersenyum.


“Apaan sih ini, kalau Cuma mau mesra-mesraan di rumah aja sana. Nggak kasihan apa sama gue gitu, bakalan puasa lama nih,” keluh Arka.


Johan dan Mae saling tatap setelah mendengar pengusiran Arka, kemudian mereka terkekeh. “Kasihan deh,” ejek Mae.


.


.


.


Bersambung ya


\=\=\= hai, jangan lupa mampir ke karya rekan author ya. Seru lohhh

__ADS_1



__ADS_2