CINTA DIBAYAR TUNAI

CINTA DIBAYAR TUNAI
Para Pria Bucin


__ADS_3

Johan asyik menikmati makan malam yang terlambat. Wajahnya terlihat segar dan  bersemangat. Berbeda dengan Mae yang terlihat tidak minat dengan makanannya. Wajahnya terlihat lelah dan mengantuk, padahal dia baru saja mandi dengan air hangat. 


"Kenapa tidak dimakan? Atau mau aku makan?" 


Mae berdecak mendengar pilihan yang diberikan oleh Johan. "Ini tuh udah lewat tengah malam, aku lapar tapi masa makan jam segini." 


"Memang kenapa?" 


"Takut gendut." 


"Kamu kurus atau gendut aku tetap suka." 


"Gombal," ucap Mae. 


Johan hanya terkekeh  mendengar keluh Mae. “Pak Johan tuh sekarang aneh deh.”


“Aneh bagaimana?” tanya Johan sambil mengernyitkan dahinya. Mae tidak langsung menjawab, dia sedang mengunyah makanan yang baru saja dia suap ke dalam mulut. Johan berpindah duduk di samping Mae, “Aneh bagaimana, hm?”


“Aneh aja, sebelumnya Pak Johan itu orang yang berwibawa, kelihatan cuek dan galak, tapi sekarang ….”


“Itu perasaan kamu saja, aku masih seperti yang dulu.”


Johan menatap Mae yang bersandar pada sofa dan fokus pada layar ponselnya. Tidak menyangka jika akhirnya dia sudah menikah, bahkan istrinya terlihat tidak terlalu peduli dengan apa yang dimiliki oleh Johan sebagai orang kepercayaan Mihika Yoodha. Menghela nafasnya, sebelum dia bicara pada Mae mengenai hal yang penting untuk masa depan rumah tangga mereka.


“Sayang,” panggil Johan.


“Hm.”


“Ada yang ingin aku bicarakan.” Mae menoleh pada suaminya.


Johan meraih salah satu tangan Mae dan menggenggamnya. “Kamu tidak masalah kalau aku hanya menuntut kamu untuk menjadi ibu rumah tangga?”

__ADS_1


“Aku ikut apa kata Pak Johan.”


Johan menganggukan kepalanya. “Arka masih membutuhkan kamu sampai dia dapat pengganti dan orang-orang kantor belum tahu hubungan kita.”


“Pak Johan lebih baik kita jangan tutupi deh. Nona Mihika dan Pak Arka itu adalah contoh kalau kabar baik tidak perlu ditutupi.”


“Baiklah, aku akan release informasi pernikahan kita. Kamu sudah siap punya anak?”


“Ya siap nggak siap. Namanya menikah pasti ingin punya anak, masa tujuan menikah Cuma mau begituan doang.”


“Begituan gimana maksudnya?”


“Yah begitu,” ujar Mae sambil mengedikkan bahunya.


“Ya udah kita ke kamar.”


“Ngapain?”


“Pak Johan ini tuh udah hampir subuh, aku mau tidur dan jangan ganggu ya.” Mae beranjak dari sofa menuju kamarnya.


“Sebentar aja, sayang.” Johan mengikuti Mae menuju kamar mereka.


...***...


Esok paginya di kediaman Yodha.


“Tumben, ini ‘kan masih pagi. Biasanya nggak jam segini berangkatnya?”


Arka sudah siap dengan setelan kerjanya, saat Mae baru membuka matanya. “Hm. Mae sepertinya belum masuk kerja. Sedangkan pagi ini aku ada rapat dengan klien.”


“Apa perlu aku yang handle urusan Mae.”

__ADS_1


Arka yang berdiri tidak jauh dari ranjang sedang membuka ponselnya menoleh pada istrinya. Menghampiri Mihika yang masih duduk di atas ranjang, duduk disamping Mihika lalu mengusap perut yang sudah membuncit. “Kamu kan pemilik Iniland Property, ngapain ke kantor hanya untuk menggantikan Mae. Lagi pula Johan juga masih cuti, kamu juga dibutuhkan di kantor pusat.”


“Owh iya. Ya udah, nggak jadi deh.”


Arka tersenyum. Mengusap kepala wanita yang saat ini sedang mengandung keturunannya. “Kenapa?” tanya Mihika, melihat tatapan Arka yang berbeda.


“Nggak apa-apa. Aku sudah bersyukur karena mendapatkan jodoh wanita yang luar biasa.”


“Masa sih?”


“Hm. Meskipun aku dulu pernah menghina kamu, sepertinya itu jadi karma karena sekarang aku jadi kemakan omongan sendiri. Aku benar-benar bodoh karena pernah menghina kamu dan terlambat menyadari kalau ada mutiara indah di balik seorang Hika.”


“Gombal.”


“Nggak sayang. Aku serius.” Ponsel Arka yang berada di saku jasnya bergetar.


“Halo,” ucap Arka menjawab panggilan masuk.  Dia terdiam mendengarkan pihak lain di seberang sana sedang bicara. Dahinya terlihat berkerut, jelas jika masalah yang dibahas bukan urusan biasa.


“Lalu sudah kalian lacak keberadaannya?”


Arka menghela nafasnya. “Lanjutkan pencarian kalian, laporkan terus hasilnya.”


“Ada apa?” tanya Mihika.


Arka hanya menggelengkan kepalanya.


“Masalah apa sih? Kalau urusan perusahaan, kamu harus kasih tahu aku.”


“Aku akan bicarakan dengan Pak Johan, kalau ini memang sebuah masalah nanti aku akan ceritakan. Kamu tidak perlu pikirkan hal yang berat, fokus saja pada kesehatan dan kehamilanmu.”


 

__ADS_1


\=\=\=\=\= Ayo, masalah apa ya?


__ADS_2