CINTA DIBAYAR TUNAI

CINTA DIBAYAR TUNAI
Memangnya Bakalan Muat?


__ADS_3

“Pak Johan, bangun Pak.”


“Hm.” Johan semakin mengeratkan memeluk guling berada di bawah selimut, akibat cuaca dingin. “Dingin banget sih,” ujar Johan tapi masih dengan mata terpejam.


“Bangun dulu, sudah siang ini.”


Johan mengerjapkan matanya dan menyadari jika saat ini dia bukan berada di kamarnya. Tapi kamar Mae dan saat ini mereka sudah menjadi suami istri.


“Ini jam berapa?”


“Jam delapan, kita jadi langsung ke Jakarta atau gimana. Pak Arka ‘kan nggak kasih saya cuti panjang.”


Johan beranjak duduk lalu berdecak. “Arka itu bawahan saya, kamu nggak usah khawatir.”


“Tapi Pak Arka atasan saya.”


“Aku akan minta Arka cari pengganti kamu,” sahut Johan lalu beranjak turun dari ranjang. “Mae, aku nggak usah mandi kali ya, ini dingin banget.”


“Terserah Pak Johan, tapi bersih-bersih dulu deh.”


Johan pun keluar dari kamar ditemani Mae menuju kamar mandi yang berada di samping dapur. Mae sudah menjelaskan kondisi kamar mandi yang ada mungkin tidak semewah kamar mandi di kediaman Johan. Suaminya hanya menganggukan kepalanya tanda mengerti dan memahami kondisi keluarga Mae.


Keluar dari kamar mandi, rambut Johan tidak basah, sepertinya dia benar-benar tidak mandi karena air yang terasa sangat dingin.


“Kalian mau langsung kembali ke Jakarta?” tanya Bapak Mae.


“Iya Pak, kebetulan pekerjaan saya tidak bisa ditinggal terlalu lama, Mae pun begitu. Tapi kedepannya Mae tidak akan bekerja, dia hanya akan fokus sebagai Ibu rumah tangga.”


Dengan berat hati, kedua orang tua Mae melepas kepergian anak dan menantunya. Kedua adik Mae sangat gembira karena dijanjikan Johan berlibur di Jakarta selama liburan sekolah.


Saat dalam perjalanan ke Jakarta, Mae tertidur dan Johan membiarkannya. Tidurlah, setelah ini bisa jadi kita tidak akan tidur, batin Johan.


Sedangkan di Jakarta, Mihika mencoba menghubungi Johan tapi tidak dijawab. “Om Jo, jadi menikah nggak ya, telepon aku nggak dijawab.”


“Biarkan sajalah, kalaupun gagal pasti dia sudah menghubungi aku atau kamu sayang.”


“Hm.”


Arka masih menikmati cuti setelah resepsi pernikahannya, sedang duduk santai di gazebo taman dekat kolam renang. Arka yang merebahkan kepalanya di atas pangkuan Mihika bertanya, “Kamu nggak mau honeymoon kemana gitu?”

__ADS_1


“Honeymoon? Perut aku sudah gendut begini masa honeymoon. Ada juga nanti baby moon kalau sudah dekat persalinan.”


“Ya apalah namanya, aku siap mengikuti kemauan tuan putri,” ujar Arka lalu berbaring menghadap perut istrinya. Bahkan dia asyik mendusel-dusel perut buncit Mihika.


“Nggak usah ya. Kalau Om Jo jadi menikah dengan Mae, dia pasti akan sibuk juga menyiapkan pesta. Lalu perusahaan Ayah gimana, kalau kita semua off.”


“Hm, baiklah.”


 Drt drt                          


Ponsel Mihika bergetar, ternyata ada pesan masuk. “Eh, ini pesan dari Om Jo.”


“Apa katanya?” tanya Arka, tapi fokusnya pada perut Mihika. Saat ini dia menggesekkan hidung mancungnya pada perut Mihika.


[Jangan ganggu aku, sekarang Mae sudah resmi menjadi Nyonya Johan. Sampaikan pada Arka untuk mencari pengganti Maemunah]


Mihika tersenyum membaca pesan dari Johan. “Om Jo bilang kamu harus cari pengganti Mae.”


“Hah, mereka sudah menikah?”


“Iya.”


“Carinya sekretaris laki-laki ya, aku nggak yakin selain Mae mereka tidak akan menggoda atau tergoda sama kamu.”


“Aku nggak akan menggoda wanita manapun, cukup kamu yang aku goda, apalagi kamu sering menggoda aku secara tidak langsung.”


“Terserah, pokoknya harus sekretaris atau asisten laki-laki.”


...***...


 Mae terbangun saat mobil mulai tersendat karena padatnya arah menuju apartemen Johan. “Sudah sampai Jakarta, Pak Johan kok nggak bangunin aku sih. Ini mah bukan ketiduran tapi kebablasan.”


“It’s okay. Kamu perlu charge energi, sebentar lagi kamu akan butuh banyak energi. Kita makan dulu ya, aku juga butuh tenaga.”


Mae hanya diam belum terlalu menyimak arah pembicaraan Johan. Berhenti di salah satu restoran tidak jauh dari apartemen, keduanya cukup minat memilih menu. “Pak Johan ada makanan yang tidak disukai? Jadi aku tahu mana yang tidak perlu aku masak untuk Pak Johan.”


Johan memegang dagunya seraya berpikir. “Sepertinya tidak ada, selama makanan itu matang dan terlihat bersih juga sehat. Aku hanya kurang menyukai makanan yang tidak matang, seperti menu yang dibakar.”


“Hm.”

__ADS_1


Pembicaraan keduanya terhenti karena pelayan yang datang membawakan makanan. Keduanya menyantap makanan dalam diam dan Mae benar-benar menyadari bahwa Johan termasuk pria tidak romantis. Berharap Johan akan menyuapinya atau mengelap sisa makanan di ujung bibir dengan tisu, tapi ternyata Johan tidak melakukan hal itu.


Namun, Mae tidak menyesal karena Johan memang mengakui kalau dia bukan pria romantis, selama Johan bertanggung jawab, setia dan mencintainya, Mae akan menerima dan mencintai Johan apa adanya.


“Pak, barang-barang saya masih ada di kost-an."


“Kita ambil besok atau lusa. Sekarang kita ke apartemenku dulu, ayo," ajak Johan tak sabar.


Mobil Johan sudah terparkir rapih di parkiran basement, tangan kirim menggenggam erat tangan Mae sedangkan tangan kanannya menyeret koper milik Mae.


“Pak Johan, jalannya buru-buru amat sih,” keluh Mae yang berusaha mensejajarkan langkah Johan.


Johan hanya diam, tidak mungkin dia menjawab sudah tidak tahan untuk menagih haknya pada sang istri. Johan lebih memilih menjelaskan dimana unit apartemennya berada, termasuk membisikkan access code.


Saat berhasil masuk, Mae menanyakan letak dapur. “Aku haus banget,” ujarnya lalu menuju dapur yang ditunjuk Johan. Sempat terkesima dengan kondisi apartemen Johan yang terlihat sangat mewah, bahkan terdiri dari dua lantai layaknya rumah biasa.


Mae membuka lemari es mengambil botol air mineral lalu meneguk isinya. Sempat terkejut dan hampir tersedak ketika Johan memeluknya dari belakang, kedua tangan kekar melingkar di perutnya. Dengan wajah dibenamkan di leher lalu berpindah ke tengkuk, membuat tubuh Mae meremang.


“Pak Johan, kita … masih ….” Mae mendessah pelan karena Johan ternyata memberikan jejak cinta di tengkuknya.


“Sayang, aku ingin lebih. Sumpah ini rasanya sudah ….” Johan lalu menggendong Mae ala bridal dan menaiki anak tangga dengan menatap sendu pada wajah Mae. Khawatir jika tubuhnya terlepas atau terjatuh, Mae mengalungkan tangannya pada leher Johan. Mendorong lebar pintu kamar dengan kakinya lalu merebahkan Mae di ranjang.


Kamar Johan terlihat sangat maskulin, didominasi dengan warna hitam dan coklat. Johan membuka pakaian yang dikenakan Mae, membuat gadis yang sudah sah menjadi istrinya tampak gugup dan takut.


“Pak Johan, aku belum pernah ….”


“Aku akan pelan-pelan, sayang.”


Johan menatap nyalang pada tubuh Mae yang sudah polos. Pahatan sempurna bak gitar spanyol versi Johan (versi Arka, Mihika juga gitar spanyol, hehehe), kemudian melepaskan sendiri pakaian yang dikenakannya menyisakan hanya penutup bagian bawah tubuhnya.


Mae menelan salivanya melihat sesuatu yang terlihat menonjol, membayangkan jika bagian tersebut akan berada di tubuhnya.


“Pak Johan.”


“Hm.” Johan sudah mulai men_cumbu tubuh Mae.


“Memangnya bakalan muat, itu masuk ke aku?”


“Hahh.”

__ADS_1


 \=\=\=\=\=\=\=\= Uhuyyy, siap-siap goal ya 🤣🤣🤣


__ADS_2