
"Non Mihika!" teriak Bibi saat melihat Mihika terkulai di lantai kamarnya. Suasana kamar Mihika mendadak riweuh karena kondisi majikan mereka yang tidak berdaya. Akhirnya dokter keluarga pun dipanggil, kedatangannya berbarengan dengan kepulangan Johan.
"Ada apa?" tanya Johan pada salah satu ART melihat dokter menuju lantai dua dimana kamar Mihika berada.
"Non Mihika pingsan."
"Arka sudah datang?"
"Tadi siang saya lihat mobilnya tapi sekarang sudah tidak ada."
Johan pun memutuskan melihat kondisi Mihika. "Pak Johan, itu pak dokter mau bicara dengan pihak keluarga," ujar Bibi ketika mereka bertemu di ujung tangga.
"Hmm."
Johan dan Dokter pun berbicara di luar kamar Mihika. "Kondisi tubuh Nona Mihika sangat lemah, sebenarnya wajar untuk wanita yang sedang hamil muda. Mungkin karena sedang berduka jadi menambah tingkat stress. Tolong diperhatikan kondisi fisik dan psikis dari Nona Mihika. Saya akan berikan resep vitamin, untuk umur kehamilannya harus konsultasi dengan spesialis obgyn."
Setelah mengucapkan terima kasih, Johan menemui Mihika. Ada yang datang dan ada yang pergi, batin Johan.
"Mihika, kalau kamu terpuruk terus akan membahayakan calon bayimu."
"Calon bayi?"
"Hm. Kamu sedang hamil."
Mihika terdiam, teringat keluhannya beberapa hari ini. Dia terus menerus merasa tidak nyaman dengan tubuhnya, bahkan mood swing sungguh mengganggu aktivitasnya. “Kemana Arka, apa kalian bertengkar?
Pertanyaan Johan menyadarkan lamunan Mihika. “K-kami … Tidak Om Jo, kami bukan bertengkar. Pak Arka hanya kecewa, kecewa pada keadaan. Sepertinya saat ini aku harus sabar menunggu Pak Arka.”
Johan mengusap kepala Mihika, putri bosnya yang sudah dianggap sebagai anak sendiri. “Selesaikan urusan kalian, aku tidak akan terlibat terlalu jauh. Jauhkan ego, saat ini aku juga butuh Arka di perusahaan. Ayahmu meninggalkan banyak tanggung jawab untuk kita.” Mihika menganggukan kepalanya.
“Pak Arka,” ucap Mihika lirih dengan kedua mata yang mengembun sedangkan tangannya mengelus pelan perut yang masih rata.
__ADS_1
“Kita akan punya anak. Ayah, aku akan berikan ayah cucu.”
Mihika mencoba menghubungi Arka tapi kontaknya tidak aktif. “It’s okay, Pak Arka hanya butuh waktu.”
...***...
Kondisi Mihika sudah lebih baik, tapi komunikasi dengan Arka masih buruk. Pria itu benar-benar memberi jarak, Mihika tidak ingin tergesa-gesa atau dengan emosi mempertanyakan sikap atau kelanjutan hubungan mereka.
“Sudah siap?” tanya Johan.
“Hm.”
Hari ini Johan sudah mengagendakan pertemuan di perusahaan cabang dimana Arka sebagai direktur. Selain ingin menuntaskan masalah perusahaan termasuk juga meluruskan hal-hal yang semakin simpang siur.
“Mihika, Arka mengirimkan surat pengunduran diri.”
Mihika menghela nafasnya, “Aku akan menemuinya, setelah urusan di kantor sudah lebih baik.”
Bertempat meeting room yang paling besar, sudah menunggu para petinggi dan manajemen perusahaan serta pegawai dengan posisi dan jabatan tertentu. Mereka menunggu kedatangan putri Putri Aditya Yodha dan kejelasan mengenai laporan kejahatan yang terjadi di perusahaan tersebut.
“Selamat Pagi. Seperti yang kita ketahui bersama bahwa pemilik perusahaan Bapak Aditiya Yodha sudah meninggalkan kita semua. Ada beberapa hal yang harus diputuskan dan dilaksanakan bersama yang mana akan disampaikan langsung oleh Mihika Yodha putri sekaligus pewaris dari Aditya Yodha.”
Pintu ruangan kembali terbuka, sebagian besar menoleh karena penasaran dengan putri dari petinggi Iniland Property.
Tap tap tap. Suara hak sepatu menggema dari setiap langkah Mihika dengan percaya diri. Mengenakan blazer dan rok putih dan inner hitam, rambut digerai dan make up natural. Apa yang dikenakan oleh Mihika benar-benar mencerminkan seorang pewaris tunggal pengusaha sukses. Berjalan didampingi oleh dua orang bodyguard yang memakan setelan rapi, layaknya eksekutif muda.
Terdengar bisikan, ada yang memuji kecantikan Mihika dan ada juga yang mengatakan kecantikan Mihika karena operasi plastik. Anjay dan beberapa rekannya tertawa sinis, merasa mereka akan menang. Arka sudah tidak terlihat dan lawannya hanya seorang wanita.
“Cantik banget sih, aku jadi iri. Mana yang dipakai barang branded merk bagus semua,” keluh Lela sambil menatap lekat pada Mihika.
Dio tampak berpikir, “Sepertinya aku pernah melihatnya, tapi … tidak mungkin mereka orang yang sama,” gumam Dio.
__ADS_1
Mihika sudah duduk di samping Johan menatap seluruh yang hadir di ruangan tersebut. Suasana kembali tenang, karena Mihika berdiri dan siap berbicara.
“Selamat pagi. Ayahku pernah berkata bahwa para pegawainya adalah saudara dan karena kalianlah perusahaan ini bisa maju. Atas nama mendiang Ayah, saya mengucapkan terima kasih.” Mihika sedikit membungkukkan tubuhnya.
“Sudah kalian ketahui bahwa Aditya Yodha sudah melaporkan mengenai kejahatan yang terjadi di perusahaan ini, meskipun beliau sudah tidak ada, laporan tidak akan kami cabut. Kerugian perusahaan sangat besar bahkan hampir membuat perusahaan bangkrut. Bahkan sudah ada beberapa orang yang dipanggil sebagai saksi dan memberikan keterangan yang dibutuhkan. Untuk kalian ketahui, semua itu bisa terbukti berkat kerjasama Arka Rocio dan Saya. Selama ini saya menggunakan identitas lain berada di tengah kalian.”
Terdengar bisik-bisik, mereka menduga-duga siapa identitas yang dimaksud Mihika selama ini.
“Saya menggunakan identitas Hika sebagai asisten pribadi Pak Arka, banyak menemukan kejanggalan dan kecurangan. Termasuk juga pekerja yang tidak kompeten.”
“What, Hika!” teriak Lela.
Dio tersenyum, “Sudah kuduga, Hika itu aslinya pasti cantik.”
“Betul, saya Hika. Orang yang pernah anda hina, jebak bahkan dengan seenaknya kalian ingin pecat hanya karena kamu tidak suka,” ujar Mihika menjawab teriakan Lela.
Mae yang berdiri di belakang Johan sampai menutup mulutnya dengan tangan agar tidak berteriak karena terkejut, wanita yang biasa mencepol rambut dan mengenakan kacamata besar itu ternyata seorang pewaris tunggal.
“dan hari ini juga, bagi yang ditetapkan sebagai tersangka akan dibawa oleh kepolisian.”
Suasana langsung gaduh. Mihika masih berdiri di tempatnya, sedangkan beberapa orang yang memang sudah menjadi target tersangka langsung berhambur dan menunjuk-nunjuk Mihika sambil berteriak.
Petugas keamanan langsung masuk mengamankan situasi, termasuk juga anggota kepolisian. Lebih dari lima orang langsung diamankan termasuk Anjay Gunawan.
“Ayah,” teriak Lela mengikuti ayahnya yang dibawa keluar.
Mihika menyaksikan hal itu, teringat ayahnya. Tapi dia tidak boleh egois dan terbawa perasaan. Karena para penjahat berkerah itu harus diberi efek jera. Dio masih duduk di kursinya menatap Mihika.
“Usaha kita harus tetap berjalan, kembali kerjakan tugas kalian. Untuk posisi tertentu akan ada perombakan. Pak Arka untuk sementara akan cuti, saya sendiri yang akan menggantikan posisinya sampai dia kembali. Terima kasih atas kerjasama kalian.”
“Nona Mihika,” panggil Mae. “Maaf, kalau selama ini ….”
__ADS_1
Mihika hanya menganggukan kepalanya dan tersenyum. Johan merangkul bahu Mihika lalu mengajaknya meninggalkan ruangan. Para karyawan yang masih berada di tempat berdiri lalu bertepuk tangan mengiringi kepergian Mihika dan Johan.
\=\=\=\=\=\=\= Arka, where are you ? 🤨