CINTA DIBAYAR TUNAI

CINTA DIBAYAR TUNAI
Kangen Aku Nggak?


__ADS_3

“Pak Arka buat aku takut, sebaiknya Pak Arka keluar atau aku akan panggil … aahh,” Mihika yang terus melangkah mundur hampir terjerembab tapi Arka dengan sigap meraih tubuh itu.


Keduanya saling menatap dengan tubuh Mihika berada di pelukannya. “Katakan, apa yang aku sudah lewati?”


Mihika menggelengkan kepalanya sambil menggigit bibirnya menahan tangis. Berada dalam rengkuhan pria yang akhir-akhir ini membuatnya tersiksa, bahagia sekaligus kecewa.


“Kenapa?” tanya Arka saat melihat kedua mata Mihika sudah mengembun lalu mengarahkan Mihika untuk duduk di pinggir ranjang sedangkan dia berdiri.


“Pak Arka untuk apa ke sini. Lebih baik temui saja wanita yang tadi ....”


“Hei, aku tanya apa hal yang aku lewati dan aku tidak ketahui?”


Mihika mengangkat wajahnya menatap Mihika yang berdiri di hadapannya. “Banyak yang Pak Arka tidak tahu dan aku tidak ingin membahasnya.” Mihika berdiri, “Kalau Pak Arka hanya ingin marah atau … sebaiknya Pak Arka pergi. Hariku sudah cukup lelah dan ....”


“Kamu hamil, hamil anakku ‘kan?” tanya arka dengan nada agak tinggi. “dan aku tidak tahu. Sampai kapan kamu mau merahasiakan hal ini.”

__ADS_1


Mihika tertawa sinis, “Rahasia? Aku tidak pernah merahasiakan kehamilanku. Pak Arka sendiri yang pergi saat aku terpuruk. Kemana Pak Arka selama ini? Aku sudah cari ke apartemen bahkan menelpon berkali-kali tapi … Pergi, lebih baik Pak Arka pergi. Aku bisa membesarkannya sendiri, Pak Arka bisa melanjutkan hubungan dengan wanita tadi. Terserah Pak Arka,” jerit Mihika sambil mengusap perutnya, tubuhnya berguncang karena tangisan.


Arka kembali mengikis jarak. “Tidak usah berteriak.” Mengusap air mata di wajah Mihika, “Aku menghindar karena tidak ingin emosi membuat aku berkata atau melakukan sesuatu yang menyakitimu yang pasti akan aku sesali kemudian.”


“Bohong, Pak Arka bohong. Pergi, jangan muncul dihadapanku kalau hanya ingin menyakitiku. Aku bisa membesarkan anakku sendiri,” tutur Mihika di tengah tangisannya. Mulutnya mungkin berteriak membenci dan mengusir Arka tapi hatinya berkhianat. Mihika ingin sekali memeluk Arka untuk melepaskan kerinduannya selama ini.


“Stt, sudah jangan menangis. Kasihan anak kita,” ujar Arka lalu memeluk tubuh Mihika. “Maafkan aku sayang, aku hanya perlu waktu dan ternyata aku egois membiarkan kamu melewati ini sendirian.”


Mihika menarik nafasnya sembari menghirup wangi tubuh Arka. Nyaman, dia sangat nyaman berada di pelukan Arka.


“Pukul sayang, kalau perlu tampar aku. Karena semua itu tidak cukup membalas kesepian dan kesulitan yang sudah kamu lewati.”


Mihika mengusap wajahnya menghapus air mata. Tanpa diduga Arka berlutut di hadapan Mihika lalu mengelus perut buncit Mihika dan menciumnya. “Baby, are you there. Bujuk Bundamu agar tidak marah lagi,” tutur Arka.


“Bilang sama Ayah kamu, Bunda kesal lihat dia peluk-peluk wanita lain.”

__ADS_1


Arka pun perlahan berdiri kembali. “Kamu salah paham sayang,” ujar Arka hendak mengelus pipi Mihika tapi di tepisnya. “Salah paham apa?  Jelas-jelas aku lihat sendiri, kalau kalian berpelukan bahkan lengket banget macam lem besi.”


Arka terkekeh, “Bukan berpelukan, tapi dia yang memeluk aku. Itu beda loh, artinya bukan kehendak aku. Aku bersumpah sayang, selama aku menepi nggak ada wanita lain. Masih kamu yang ada di sini,” ungkap Arka sambil menepuk dadanya.


“Gombal.”


“Tapi aku gombal hanya untuk kamu. Nggak pernah aku merayu bahkan mengemis cinta begini, khusus dan spesial hanya untuk Hika, eh Mihika Yodha.”


“Ahhh, Pak Arka jahat.” Mihika merangsek memeluk tubuh Arka. Arka terkekeh lalu mengusap punggung dan kepala wanita yang sedang bermanja.


“Kamu kangen aku nggak?” tanya Arka.


 


\=\=\=\= cie yang pada kangen.

__ADS_1


__ADS_2