
Mihika mencoba melepaskan cengkraman tangan Lela, dengan kondisi perutnya yang sedang hamil tua dia tidak bisa bergerak bebas. Apalagi tubuh Lela sangat dekat hanya terhalang perut hamilnya.
"Tidak usah berharap macam-macam, tidak ada yang bisa menolongmu disini, bahkan tidak ada cctv."
Bugh.
Lutut Mihika mengayun ke atas menyentuh sel*ngkangan Lela yang langsung melepaskan tangan dan mengaduh sambil perlahan mundur.
Mihika mengatur nafasnya, sambil memegang perutnya yang terasa sakit karena saat menendang menggunakan lutut cukup mengeluarkan tenaga. Lela sendiri masih memegang area yabmng terkena pukulan lutut Mihika.
Tubuh Mihika merangsut turun ke lantai dengan mulut mendesis menahan sakit. "Tolong!" teriak Mihika.
"Shittt," ujar Lela lalu bergegas keluar dari toilet.
"Tolong," teriak Mihika lagi.
Sedangkan di ruangan, Lela mencoba bersikap biasa lalu duduk di samping Mr. James. Asisten Mihika yang merasa sudah terlalu lama atasannya pergi, berniat menemuinya. Mempercepat langkahnya ketika melihat keramaian di toilet perempuan.
"Ibu Mihika."
"Bawa aku ke rumah sakit dan batalkan kerjasama dengan Mr. James.
...***...
Arka berlari setelah turun dari mobil, menuju UGD. Dio yang mengantarkannya sibuk memarkirkan mobil.
"Dimana istriku?"
"Masih diperiksa, Pak."
"Kenapa bisa begini, bukankah kalian ada pertemuan dengan James?"
__ADS_1
"Betul Pak. Tadi ibu pamit ke toilet dan ternyata ...."
"Keluarga Ibu Mihika," teriak perawat.
"Saya suaminya," sahut Arka lalu mengikuti langkah sang perawat. Arka menemui dokter yang memeriksa Mihika.
"Hanya terkejut jadi sempat kontraksi, kita observasi tiga jam kalau tidak ada kontraksi lanjutan berarti boleh pulang karena belum waktunya melahirkan."
Arka menghela lega, karena menurut perhitungan umur kehamilan Mihika akan melahirkan sebulan lagi. Bergegas menemui istrinya yang berbaring di brankar.
"Sayang," panggil Arka langsung memberikan ciuman dibeberapa titik wajah Mihika.
"Aku gak apa-apa 'kan? Apa kata dokter?" tanya Mihika sambil mencengkram lengan Arka. Kedua matanya terlihat berembun.
"Sttt, tidak ada masalah. Dalam tiga jam kamu tidak ada kontraksi boleh pulang kok," jawab Arka sambil menyelipkan helaian rambut di belakang telinga Mihika dan duduk di samping brankar dimana istrinya berada. "Bisa kamu ceritakan?"
"Batalkan kerjasama dengan James, biar dia temui Om Jo saja."
"Lela Gunawan, dia asisten atau sekretaris Mr James. Aku tidak peduli tapi dia menggangguku waktu di toilet bahkan mengancamku. Tidak akan ada yang tahu karena ditoilet tidak ada CCTV."
Arka menganggukan kepalanya mendengarkan cerita Mihika. Sepertinya benar usulan istrinya agar James kembali menemui Johan.
"Aku keluar sebentar ya, asistenmu dan Dio masih ada di luar."
Arka keluar UGD dan menemui dua orang asistennya dan juga Mihika. "Kamu antar dia kembali ke kantor pusat," titah Arka pada Dio dan meminta kunci mobil dari asisten Mihika. "Hubungi Mr. James dan minta dia bertemu Johan dan sampaikan kekecewaan karena pertemuan kali ini. Jangan bahas apapun tentang Lela Gunawan."
"Jadi Ibu begini karena Lela? Pantas dia tadi agak panik saat balik dari toilet."
"Heran, nggak ada kapok-kapoknya putri si Anjay," ujar Dio.
"Aku pikir kamu suka dengan si Lela," sahut Arka pada Dio.
__ADS_1
"Selera saya tinggi Pak, tapi sayang yang saya suka maunya sama Bapak."
Arka berdecak mendengarkan penuturan Dio. "Sudahlah, kalian boleh pergi. Biar Mihika saya yang temani."
"Iyalah 'kan Bapak suaminya, masa saya yang temenin nanti ... aduh," pekik Dio tangannya mendapatkan cubitan dari asisten Mihika.
"Tas Ibu ada dimobil ya, Pak."
"Hm." Arka melambaikan telapak tangannya seraya mengusir dua asistennya. Dia kembali ke dalam UGD dan menemui Mihika.
"Sayang, Om Jo kapan pulang?"
"Entahlah. Papih, aku ngantuk," keluh Mihika.
"Tidurlah, aku disini sayang." Arka memperbaiki posisi Mihika agar nyaman. Terlihat Mihika menguap, seperti yang benar-benar mengantuk. Dengan posisi perutnya sekarang, memang Mihika sulit tidur jadi kapanpun dia mengantuk Arka akan membiarkannya terlelap.
[Hei, kapan Johan Maemunah tiba di Jakarta. Istriku sudah waktunya cuti.]
Arka mengirimkan pesan pada Johan.
Sedangkan di bandara Soekarno Hatta, Johan yang merangkul bahu Mae dan mendorong troley merasakan getaran di kantung celananya. Ada seseorang yang ditugaskan menjemputnya lalu meraih troley yang berisi koper dan tas miliknya juga milik Mae.
Saat berada di mobil, Mae bersandar pada bahu Johan "Sabar ya, nggak lama juga kita sampai rumah." Sambil menenangkan Mae yang mabuk perjalanan karena gejala kehamilan, Johan membuka ponselnya dan membaca pesan yang dikirim oleh Arka. Termasuk pesan dari orang yang ditugaskan mengawasi Mihika dan Arka.
"Sayang, kita ke Rumah Sakit, Mihika masuk UGD."
"Ibu Mihika melahirkan?"
"Aku belum tahu pasti, jalan Pak. Agak cepat!" perintah Johan.
\=\=\=
__ADS_1