CINTA DIBAYAR TUNAI

CINTA DIBAYAR TUNAI
Gagal Lagi


__ADS_3

"Sayang." Arka menyingkap selimut yang menutupi tubuh Mihika. Istrinya tertidur setelah memenuhi kewajibannya sebagai seorang istri. Terlihat tubuh polos Mihika, wajah Arka menghadap perut buncit karena telah mengandung calon penerus Arka. 


Mengusap pelan dan menghujani dengan kecupan di sekitar perut Mihika. Bagian perut itu berdenyut membuat Arka tersenyum bahagia bahwa calon bayinya aktif dan sehat. "Hey dude, ini Papih. Kamu jangan nakal di dalam sana, kasihan Mamimu. Papih tidak sabar menunggu kelahiranmu, sehat-sehat ya sayang." 


Mihika menggeliat pelan karena kegelian di perutnya. Arka menghentikan aksinya karena tidak ingin mengganggu tidur Mihika. 


Sedangkan pasangan fenomenal lainnya, Johan dan Maemunah. Baru saja tiba di kampung halaman Mae, meskipun tadi sempat berhenti untuk membelikan oleh-oleh untuk keluarga dan tetangga Mae.


Brak.


Johan menutup pintu mobil dan menatap sekitar, suasana pedesaan, bahkan kediaman keluarga Mae tidak ada pagar atau gerbang. Tampak rindang dan asri karena banyak pohon disekitar juga ada dua pohon yang cukup tinggi dan besar di pekarangan rumah Mae. 


Mae yang sudah masuk lebih dulu ke dalam rumah kembali keluar bersama seorang pria paruh baya yang Johan yakin itu calon Ayah mertuanya. 


"Selamat siang Pak," sapa Johan. 


Pria itu menatap Johan dari kepala sampai kaki. "Kamu yakin suka dengan anak saya dan mau menikah dengan anak saya?" 


"Bapak, apaan sih. Aku 'kan belum bilang apa-apa." Mihika jadi khawatir karena Bapaknya seakan tidak menyetujui jika Johan akan menikahinya. Apalagi terlihat perbedaan umur antara Johan dan Mae.


Belum sempat Johan menjawab, Bapak Mae mempersilahkan Johan duduk. Mae dan Johan duduk bersisian meskipun ada sedikit jarak berhadapan dengan Bapak. “Sebenarnya tujuan saya kesini karena saya serius untuk menikahi Putri Bapak dan kalau diizinkan saya ingin menikah hari ini juga.”


“Hah, Mae kamu hamil?”


“Nggaklah. Pak Johan memang pengen segera nikahi aku, udah nggak tahan sendiri terus,” ejek Mae lalu terkekeh.


“Mae benar Pak, dia tidak hamil. Kedekatan kami hanya sebatas pimpinan dan karyawan.”


“Jadi, kamu itu Bosnya Mae?”


Mae berdecak, “Lebih tinggi dari itu, Pak. Tapi masalahnya bukan itu, Bapak terima Pak Johan untuk nikahi aku nggak?”

__ADS_1


“Bukan masalah gimana, jelas-jelas ini masalah. Dia itu orang besar, orang kaya pastinya, terus kalau kamu dinikahi dia lalu dia poligami, gimana? Bapak nggak bisa jemput kamu di Jakarta, bisa ke sasar. Pusing Bapak dengan kota Jakarta, luas dan padat.”


Johan menghela nafasnya. Bagaimana mau poligami, cari satu yang serius dan benar-benar sreg aja susah. Mae pun perjuanganku nggak mudah, batin Johan.


“Saya janji akan bahagiakan Mae dan saya bisa pastikan jika dia hanya satu-satunya wanita yang saya cintai.”


“Ah, yang bener Pak. So Sweet banget sih,” ujar Mae sambil memukul pelan lengan Johan.


“Mae, jaga sikap kamu,” tegur Bapak.


Tidak lama kemudian, datanglah Ibu Mae beserta adik-adiknya. Johan kembali menyampaikan maksud kedatangannya. Pada dasarnya kedua orangtua Mae mengijinkan dan memberikan restu untuk Mae menikah. Apalagi di kampungnya ini, pada perempuan kebanyakan menikah muda jadi untuk umur Mae dan belum menikah bisa disebut perawan tua.


“Tapi kalau langsung menikah sekarang, gimana persiapannya?”


“Tidak usah khawatir Bu, besok akan ada anak buah saya mengurus berkas dan dokumen di KUA. Saya akan nikahi Mae secara agama dulu. Untuk resepsi saya serahkan ke Mae, terserah dia mau mengadakan dimana dan seperti apa konsepnya. Saya tidak punya waktu banyak karena tanggung jawab pada perusahaan.”


Bapak dan Ibu saling tatap, lalu menatap Mae. “Kamu siap, Mae?”


“Ya siap, menikah dengan pria ini. Setelah menikah hidup kamu sudah bukan tanggung jawab kami lagi.”


Johan pun lega mendengar kesiapan Mae dan kedua orang tuanya yang mengizinkan putri mereka menikah. Sesuai dengan ide Johan, mereka harus menikah hari ini juga. Johan mengganti kemeja yang dikenakan dengan kemeja putih yang memang ada dalam mobilnya. Kesibukan dan kepadatan kerja terkadang membuat dia harus mendadak keluar kota jadi di dalam mobilnya sudah tersedia beberapa potong pakaian dan kelengkapan lainnya.


Mae pun sudah berganti pakaian mengenakan gamis putih karena belum menyiapkan kebaya. Dalam hati dia kesal juga pada Johan karena ide menikah dadakan membuatnya benar-benar tidak ada persiapan. Polesan make up tipis di wajah Mae, membuat Johan semakin deg-deg ser (apa coba, hehe).


Beralaskan karpet yang agak tebal, Johan dan Mae duduk berdampingan di atas karpet. Calon mertua Johan duduk tepat di depannya. Penghulu pun sudah datang, termasuk juga kerabat dekat dan tetangga yang tinggalnya tidak jauh dari rumah Mae, hadir untuk menyaksikan pernikahan Mae dan Johan.


Kalimat sakral yang diucapkan oleh Bapak dan Johan bergantian dan ditutup kalimat SAH oleh beberapa orang yang hadir menandakan jika Johan sudah sah menjadi suami dari Maemunah. Disaat orang tua Mae sedang membagikan oleh-oleh yang dibawa oleh anak dan menantunya, Mae sedang senyam senyum memandang jari tangan yang sudah tersemat cincin pernikahannya.


“Pak Johan foto dulu dong,” ajak Mae berselfi dengan Pak Johan. Memang Johan usianya jauh diatas Mae, tapi perawakan tubuh Johan sangat gagah dan berotot karena sering fitnes. Wajahnya pun tidak mengecewakan. Sebagai penggemar drama korea, Mae melihat Johan mirip dengan aktor Lee Dong Wook. Bahkan kerabat dan tetangga Mae yang berjenis kelamin perempuan sempat curi pandang dan tersenyum pada Johan. Johan sendiri hanya bisa mengangguk sebagai tanda kesopanan.


“Pak Johan, setelah ini aku masih boleh kerja?”

__ADS_1


Johan menyadari bahwa dia belum membahas hal ini dengan Mae. “Sebelumnya kamu kerja untuk apa?”


“Bantu Bapak aku, juga untuk kebutuhan aku sendiri.”


“Hm. Sekarang kamu saya nafkahi jadi nggak usah kerja lagi.”


“Terus orangtua aku gimana?”


“Itu urusan saya, kamu hanya fokus pada suamimu,” ujar Johan sambil menepuk dadanya. “Juga anak-anak kita,” bisik Johan.


Mae terkekeh mendengar bisikan Johan. “Pak Johan mau anak berapa?” Johan sempat terdiam sejenak, teringat dirinya yang hanya anak tunggal merasa sangat kesepian. Apalagi saat kedua orangtuanya kecelakaan dalam perjalanan bisnis, lalu dia diasuh oleh Aditya yang merupakan sahabat dari orangtuanya.


“Aku ingin anak sebanyak-banyaknya, biar nanti di masa tua kita tidak kesepian.”


“Sebanyak-banyaknya itu berapa? Memang aku kucing, kerjaannya menghasilkan anak.”


...***...


Malam hari, pengantin baru itu sudah berada dalam kamar Mae. Johan yang sempat menanyakan AC atau kipas angin ditertawakan oleh Mae. Biasa tidur dengan kondisi ruangan yang cukup dingin, Johan khawatir jika malam ini dia akan sulit tidur karena kegerahan. Apalagi dia berniat membuat Mae keenakan, pasti butuh suhu ruangan yang mendukung.


“Nggak usah pakai pendingin udara Pak, di sini kalau malam sampai pagi dingin banget Pak.”


Johan menyadari apa yang dikatakan Mae benar, “Iya ya, ini udah terasa dingin.”


Johan hanya mengenakan celana pendek dan kaos, sedangkan Mae sudah berganti piyama. Johan menepuk ranjang di sebelahnya agar Mae mendekat. Johan menatap sekeliling kamar Mae yang tidak begitu luas, hanya berukuran tiga kali tiga meter. Bahkan tembok entah terbuat dari apa, sangat tidak kondusif. Suara adik-adik Mae yang berada di kamar sebelah pun terdengar jelas.


“Ini sih kalau kita mau enak-enak bakalan jelas terdengar,” ujar Johan.


“Sabar ya, Pak. Masih ada hari esok, lagian Mae udah jadi istri Pak Johan kok.”


Johan menghela nafasnya. Nasib-nasib, udah halal masih aja ada halangan untuk jebol gawang, batin Johan. 

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=\= Johan kawin, Makkk 🤣🤣


__ADS_2