CINTA DIBAYAR TUNAI

CINTA DIBAYAR TUNAI
Nikah dan Kawin


__ADS_3

Mihika mengerjapkan matanya, terbangun karena ada yang membuatnya terjaga. Siapa lagi kalau bukan Arka, yang sedang merusuh di tubuh istrinya. “Pak Arka, aku masih ngantuk,” rengek Mihika.


“Tapi ini hampir pagi sayang, aku nggak tahan lihat kamu ada disamping aku terus dianggurin.”


Mihika berdecak, mendengar penuturan konyol dari suaminya. Mau nolak takut dosa, apalagi Arka sedang dalam mode insyaf tentu saja Mihika harus mendukung perjuangan suaminya. Cukup dengan diam, menikmati dan mendessah sudah bisa membuat suaminya luar biasa bahagia termasuk dirinya sendiri.


Setelah olahraga ranjang, keduanya tidak kembali terlelap. Arka duduk bersandar pada headboard membuka ponselnya mengecek panggilan dan pesan masuk. Sedangkan Mihika masih berbaring memeluk pinggang Arka. Tangan kiri Arka mengelus kepala Mihika.


“Pak Arka,” panggil Mihika.


“Hm.”


“Setelah ini kita tinggal dimana?”


Arka sesaat terdiam, setelah mendengar pertanyaan Mihika. “Kalau aku minta kamu ikut aku, gimana?”


“Ya nggak gimana-gimana, Pak Arka itu suami aku, kepala keluarga. Mau tidak mau aku harus ikut apa yang Pak Arka perintahkan selama tidak merendahkan dan menghina kehormatanku.”


Arka mengacak rambut Mihika sambil terkekeh, tidak menyangka Mihika akan menjawab semudah itu. Mengenal Mihika sebagai wanita yang mandiri, cuek bahkan cenderung berani ternyata bisa luluh dengan permintaannya.


“Oke, kalau begitu kita tinggal di rumahmu. Jangan mengecewakan Ayahmu.”


Mihika beranjak duduk sambil memegang selimut yang hanya bisa menutupi sebagian tubuhnya. “Pak Arka serius?” Melihat punggung mulus dan bahu polos Mihika, Arka menelan salivanya karena ada dorongan yang membuat gair@hnya kembali. Arka menganggukkan kepalanya.


“Kita tinggal di rumah Ayah?” tanya Mihika penasaran.

__ADS_1


“Hm.”


“Pak Arka nggak merasa terpaksa ‘kan?”


Arka menghela nafasnya, “Tidak sayang.” Arka meletakan ponselnya dan menangkup wajah Mihika. “Kita akan mulai semuanya dari awal. Aku tidak melarang kamu aktif di perusahaan bersama Pak Johan, tapi ingat dengan keadaanmu. Kamu sedang hamil, aku tidak ingin terjadi apa-apa dengan kalian.”


Mihika tersenyum lalu menganggukkan kepalanya. “Masih benci aku?” tanya Arka.


Senyum Mihika langsung hilang, menggeser duduknya sehingga berjarak dengan Arka. “Apaan sih,” ucapnya sambil buang muka.


“Benci tapi kangen, marah tapi peluk. Ogah tapi mendessah … aduh! Sayang, sakit loh,” keluh Arka sambil mengusap perutnya yang dicubit Mihika.


“Rasain, suruh siapa ejek aku.”


“Udah deh, kita tuh lagi genre romantis tapi kalau Pak Arka ejek aku terus, bisa-bisa berubah jadi genre action.”


Arka bergeser mengikis jaraknya, “Bagus dong, biasanya setelah adegan action dilanjutkan adegan romantis. Nggak percaya, ayo kita buktikan.”


Mihika menghela nafasnya, “Kalau kita, habis action malah jadi horror. Pak Arka kenapa sih, perasaan dari tadi bicaranya menjurus ke perme_suman.” Arka hanya terkekeh pelan.


“Ayo," ajak Arka.


“Kemana?”


“Mandi sayang, sepertinya aku harus mendinginkan kepalaku. Dari tadi mikirnya gimana bisa iya-iya sama kamu terus.”

__ADS_1


“Astaga, Pak Arka!!”


...***...


Arka dan Mihika berada di pinggir kolam renang, fasilitas hotel tempat mereka menginap. Mihika duduk bersandar di kursi malas dengan kedua kaki selonjoran. Sedangkan Arka baru saja naik ke permukaan setelah berenang beberapa kali putaran. Mengenakan bathrobe lalu duduk di kursi bersebelahan dengan Mihika.


Johan berjalan menghampiri, “Ck, bener-bener ya. Ternyata ide aku booking kamar ada manfaatnya juga, berasa kalian sedang bulan madu,” ujar Johan yang berdiri sambil melipat kedua tangan di dada.


Arka berpindah duduk di kursi yang sama dengan Mihika, Johan pun akhirnya duduk. Kemudian obrolan yang terjadi antara Arka dan Johan hanya urusan bisnis. Mihika yang malas ikut bicara, memeluk Arka dari belakang dan sesekali menempelkan wajahnya pada punggung Arka.


“Sebaiknya segera publish pernikahan kalian,” titah Johan. “Perut Mihika sudah semakin besar, jangan sampai ada berita negatif tentang hal ini.”


“Hm, segera. Aku juga ingin memberikan pernikahan yang layak untuknya.” Arka merangkul Mihika.


“Om Jo, kapan menikah?”


Johan berdecak, “Kalau ada yang mau, langsung aku nikahi. Selama ini aku sibuk dengan Ayahmu sampai lupa dengan urusan jodoh.”


“Menikah belum, tapi kawin pernah ‘kan?”


“Astaga, Mihika,” tegur Arka pada Mihika yang sedang tertawa.


 


\=\=\=\=\=\=\= Ayo, udah pernah belum 😅

__ADS_1


__ADS_2