
Akhirnya pertemuan pun berakhir. Mihika meregangkan otot tubuhnya lalu mengelus perut buncitnya. Terlalu lama duduk membuatnya merasa kram di area perut.
"Kamu pulang dengan siapa?"
Mihika baru akan menjawab jika dia pulang diantar supir, terbersit ide untuk menjahili Johan. "Anterin sama Om Jo aja ya, Pak Ujang udah aku suruh pulang dari tadi."
"Hahh, nggak biasanya. Arka kemana? Atau aku minta supir kantor saja." Johan terlihat sibuk entah menghubungi siapa.
Mihika malah terbahak, "Tenang aja Om Jo, aku hanya bercanda. Mau kemana sih sama Mae? Mentang-mentang Pak Arka lagi di luar kota, Mae sudah disini saja."
"Usaha untuk masa depan, susah menjinakkan wanita itu."
"Yang sabar dong.”
“Mungkin dia masih banyak spare waktu, kalau aku ‘kan beda,” keluh Johan.
Mihika kembali terkekeh. “Lagian kenapa jadi bujang lapuk sih. Tapi ada saatnya Om Jo nggak akan kesepian lagi, bisa itu dengan Mae atau bukan. Jadi, jangan terlalu memaksa. Mengalir saja, atau memang ular kobra Om Jo udah nggak tahan dan meronta terus ya," ujar Mihika sambil terkikik meninggalkan Johan.
“Dasar, anak kurang ajar. Sama orangtua beraninya ngeledek.”
Mihika mendekati Mae yang masih berada di ruang tunggu. "Nona Mihika," sapa Mae sambil malu-malu.
"Cie, udah ada kemajuan nih. Mau kemanakah gerangan?”
“Hm, Nona Mihika bisa aja. Itu Pak Johan, minta ditemani makan malam. Katanya ada undangan dari kawan lamanya.”
“Owh. Have fun ya dan hati-hati. Om Jo ganas, nanti digigit,” ejek Mihika.
...***...
Akhirnya hari resepsi pernikahan Arka dan Mihika pun tiba. Mihika sempat ingin membatalkan karena merasa pernikahannya dengan Arka adalah pernikahan sah dan sudah lama lewat jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
Namun, Arka dan Johan berbeda pandangan dengan Mihika. Menurut mereka resepsi ini perlu diadakan menjawab pemberitaan atau pembicaraan negatif tentang Mihika yang diduga hamil diluar nikah.
Acara diadakan disalah satu hotel mewah. Baik Arka dan Mihika termasuk juga Johan dan Mae sudah sejak kemarin berada dan menginap di hotel tempat acara.
“Nggak usah gugup Nona, ‘kan hanya resepsi bukan ijab qobul lagi,” tutur Mae yang bertugas memastikan acara berjalan lancar. “Mari ikut saya, acara akan segera dimulai.” Mihika yang sudah mengenakan gaun pengantin sederhana tapi elegan dan menyesuaikan dengan bentuk tubuh termasuk perutnya.
Dengan sapuan make up flawless, membuat Mihika terlihat seperti barbie. Mae dan tim EO sudah mengkonsep acara sedemikian rupa, seperti saat ini Mihika berada di depan pintu ballroom yang tertutup.
“Ini nunggu apa? Kenapa aku nggak langsung masuk aja.”
__ADS_1
“Sebentar, tunggu aba-aba. Nanti di dalam, saya akan mendampingi saat Nona Mihika berada di pelaminan ya,” terang Mae yang hanya dijawab dengan anggukan kepala oleh Mihika.
Pintu terbuka dan ruangan dalam keadaan gelap. Terdengar iringan musik instrumental yang membuat Mihika merasa merinding bukan karena takut tapi serasa terbawa suasana romantisme. Di tengah ruangan ada cahaya yang menyorot seseorang dan itu adalah Arka. MC mengarahkan Mihika untuk berjalan menghampiri Arka.
Keduanya kini berhadapan dengan senyum tersungging di wajah keduanya. Tiba-tiba Arka berlutut, membuat Mihika terkejut. “Sayang, kamu ….”
“Teruntuk Mihika Yodha cahayaku.” Sepertinya Arka mengenakan mic tersembunyi karena suaranya terdengar menggema di seisi ruangan. “Jani suci pernikahan kita sudah terlewati. Namun, di kesempatan ini izinkan suamimu ini mengucapkan janji yang disaksikan bukan hanya oleh kita berdua. Seperti kata Mahatma Gandhi, dimana ada kehidupan disitulah ada cinta. Begitupun denganku, selama aku hidup hanya ada satu cinta, cinta kepada Mihika Yodha.” Terdengar sorak para tamu, tapi suasana masih dalam keadaan gelap. Hanya penerangan menyorot pada Mihika dan Arka yang masih dalam posisi berlutut dengan tumpuan salah satu kaki.
“Darimu aku merasakan jatuh cinta berkali-kali. Melihatmu tersenyum aku jatuh cinta, melihatmu tertawa aku jatuh cinta, melihatmu bahagia aku semakin cinta tapi melihatmu bersedih seisi dunia serasa ikut menangis.”
Terdengar riuh tepuk tangan. Mihika mengatupkan tangan pada mulutnya, tidak menyangka jika Arka bisa segombal itu bahkan di tengah acara seperti ini.
“Di seluruh dunia, tidak ada hati untukku seperti milikmu. Di seluruh dunia, tidak ada cinta untukmu seperti cintaku. Mihika Yodha, maukah kamu menua bersamaku?” masih dalam posisi setengah berlutut, Arka mengulurkan kedua tangan yang ternyata memegang sebuah cincin.
Mihika teringat jika dia pernah mengatakan pernikahannya dengan Arka adalah pernikahan terburuk. Tanpa gaun pengantin, tanpa cincin bahkan dilakukan di tengah pelosok desa. Tidak dapat membendung air matanya, Mihika hanya sanggup menganggukan kepalanya.
Lampu-lampu perlahan menyala sesuai deretnya diiringi tepuk tangan para tamu. Arka berdiri lalu memasang cincin di salah satu jari Mihika. Mencium kening wanita yang sudah mengubah hidupnya. Keduanya lalu berpelukan, diiringi dengan ledakan confetti dan turunnya balon-balon berbentuk hati.
“Oh, so sweet banget. Romantis, aku suka,” ujar Mae sambil memukul gemas lengan Johan yang berdiri di sampingnya.
“Kamu mau pernikahan yang seperti ini?”
Mae menganggukan kepalanya dengan senyuman manja. “Aku tidak punya nyali seperti Arka merayu ditengah ratusan orang. Kamu harus merubah pernikahan impian kamu.”
Pengisi acara menyanyikan lagu Because you loved me – Celine Dion untuk mengiringi Arka dan Mihika berdansa.
For all those times you stood by me
For all the truth that you made me see
For all the joy you brought to my life
For all the wrong that you made right
For every dream you made come true
For all the love I found in you
I'll be forever thankful baby
You're the one who held me up
__ADS_1
Never let me fall
You're the one who saw me through through it all
You were my strength when I was weak
You were my voice when I couldn't speak
You were my eyes when I couldn't see
You saw the best there was in me
Lifted me up when I couldn't reach
You gave me faith 'coz you believed
I'm everything
I amBecause you loved me
(Because you loved me – Celine Dion)
Acara sudah berakhir, Mihika ditemani oleh Mae menuju kamarnya, karena Arka dan Johan masih menemani beberapa tamu.
“Kamu boleh istirahat, aku nggak apa-apa kok.”
“Tapi Pak Arka belum datang?”
“Nggak apa-apa, sebentar lagi juga datang. Aku tahu kamu lelah, yang paling sibuk ‘kan kamu.” Mae hanya tersenyum.
“Saya permisi Nona Mihika.”
Mae melakukan peregangan otot saat keluar dari kamar Mihika. Letak kamarnya hanya terjeda dua kamar lainnya.
“Hah lelahnya,” keluh Mse saat berhasil masuk ke kamarnya.
Tiba-tiba ada yang ikut masuk ke dalam kamarnya. “Eh, siapa kamu?” tanya Mae panik karena di peluk dari belakang.
“Hm, wangi tubuh kamu bikin aku segar lagi.”
“Pak Johan? Pak Johan ngapain ke sini?”
__ADS_1
\=\=\=\=\= ngetiknya sembari cengar cengir ngabayangin Arka yang leba sok puitis dan Johan yang panik kalau harus bergaya seperti Arka. Sungguh tragis 🤣🤣🤣,, halahhh apa sihhh 🥰