
Mihika beranjak duduk sambil menahan selimut agar tetap menutupi tubuhnya. "Pak Arka, kalau ada yang membohongi Pak Arka tapi dia tidak bermaksud berbohong. Ada alasan dibalik kebohongannya, apa ...."
"Intinya tetap bohong dan aku tidak suka hal itu." Arka meraih tubuh Mihika agar kembali berbaring. "Sudahlah, hari ini sangat melelahkan. Aku butuh kenyamanan," ucap Arka sambil memeluk Mihika lalu memejamkan matanya.
Mihika benar-benar bingung, dia ingin sekali jujur tapi Arka tujuannya belum benar-benar tercapai. "Pak Arka," panggil Mihika. Terdengar dengkuran halus, rupanya Arka sudah terlelap.
Mihika mengusap lembut pipi Arka. Pak Arka tidak akan marah atau kecewa, karena aku bukan berbohong hanya menyembunyikan identitas batin Mihika. Lalu Mihika ikut terlelap di dalam rengkuhan tubuh Arka.
...***...
"Sayang," panggil Arka saat Hika akan membuka pintu mobil. Hika menoleh, masih menyesuaikan diri dengan panggilan sayang dari Arka.
"Aku harus menemui Pak Aditya atau Pak Johan, untuk kelanjutan masalah penggelapan anggaran. Jika mereka ingin perkara ini naik, situasi akan semakin panas. Kamu harus hati-hati, karena mereka tahunya kita satu kubu."
"A-apa aku perlu ikut menemui Pak Aditiya?"
Arka tampak berpikir. "Tidak perlu, kamu bisa kerjakan tugas lain."
__ADS_1
"Baiklah." Mihika kembali akan membuka pintu mobil tapi Arka mendekat dan meraih tengkuknya lalu melahap bibir Mihika. Pagutan yang awalnya lembut perlahan menjadi lebih panas dan bergairahh.
Mihika mendorong dada Arka agar menjauh. "Kenapa?" tanya Arka.
"Penampilan aku jadi berantakan 'kan," keluh Mihika sambil memgusap cepolan rambutnya memastikan kalau tatanan rambutnya masih utuh.
Arka berdecak, "Kalau perlu kamu balik lagi kayak dulu pakai setelan hitam dan kaca mata yang lebih tebal. Rambut jangan sampai digerai, kamu hanya boleh tampil cantik di rumah, hanya untuk aku."
Arka hanya tersenyum melihat Mihika yang misah misuh karena ulah Arka.
Saat ini Arka sudah berada di kantor pusat, yang mana masih berada di kota yang sama. Hanya bisa menemui Johan karena Aditya yang sebenarnya adalah ayah dari Mihika juga pimpinannya masih belum bisa ditemui.
"Sudah kami pisahkan, tinggal menunggu arahan terkait langkah selanjutnya."
Johan menganggukan kepalanya. "Pak Aditya ingin hal ini kita tindaklanjuti, apalagi sudah menyebabkan kerugian. Cabang tempatmu hampir bangkrut dan kenapa bisa sampai kecolongan begini?" tanya Johan.
"Ini benar-benar kesalahan saya, ternyata tim saya kurang teliti. Saya siap bertanggung jawab, meskipun harus kehilangan pekerjaan." Johan menghela pelan, dia harus memikirkan menaikan kasus tanpa harus melibatkan Arka. Apalagi saat ini Arka sudah menjadi menantu keluarga Yodha.
__ADS_1
"Bawa semua bukti ke titik lokasi yang nanti aku kirimkan," titah Johan. Arka hanya bisa mengatakan siap atas segala titah Johan. Meskipun jabatannya sebagai direktur cabang, tapi Johan memiliki status lebih tinggi dari Arka.
Saat Arka kembali ke kantor cabang, tepatnya ketika keluar dari lift, dia dikejutkan dengan pemandangan Lela dan Mihika yang sedang bertengkar. Keduanya saling menjambak dan berteriak, Mae yang melerai tampaknya tidak berhasil karena baik tangan Mihika ataupun tangan Lela masih erat berada di rambut lawannya.
"Hentikan!" teriak Arka.
Mihika dan Lela yang mendengar suara Arka pun melepaskan jambakannya. Dengan nafas terengah keduanya menatap Arka, terlihat rambut dan wajah yang berantakan.
"Aku sudah coba pisahkan tapi tidak berhasil pak, mereka sama kuat," ucap Mae.
"Ini salah dia Pak," sahut Lela membela diri dengan nada manja lalu menghampiri Arka kemudian memeluk lengannya. "Lihat aja rambut aku jadi berantakan. Kukunya juga kena wajahku," rengek Lela. Arka menatap Mihika, khawatir dengan kondisi istrinya. Pasti merasakan hal yang sama seperti yang Lela keluhkan.
Melihat Lela yang merengek manja pada Arka dan Arka menatap dengan raut wajah marah, Mihika memilih kembali ke ruang kerjanya.
"Pak Arka, harus berikan sanksi untuk dia. Kalau perlu dirumahkan aja," usul Lela.
Arka berdecak lalu berkata, "Yang ada kamu sebentar lagi dirumahkan."
__ADS_1
"Kok, aku sih."