CINTA DIBAYAR TUNAI

CINTA DIBAYAR TUNAI
Johan Junior


__ADS_3

Beberapa bulan kemudian.


Maemunah sebagai sekretaris Arka sudah digantikan oleh Dio. Bahkan resepsi pernikahan mereka baru saja digelar dan saat ini Johan dan Mae sedang dalam perjalanan honeymoon. Saat bekerja, Johan memang terlihat berwibawa, angkuh dan arogan. Tapi dihadapan Mae, sikapnya bisa berubah manja. Bahkan Arka dan Mihika yang menyaksikan hal itu hanya bisa menggelengkan kepala dan mengejeknya.


Mihika sendiri sangat senang karena pengganti Mae adalah laki-laki sesuai keinginannya. Mengingat masa lalu dan ketampanan sang suami tidak menutup kemungkinan masih ada para wanita yang mengejar Arka.


Kehamilan Mihika sudah semakin tua dan perutnya sudah sangat membola. Arka sendiri kadang khawatir melihat Mihika masih aktif datang ke kantor pusat.


“Papiihh!” teriak Mihika yang duduk di tepi ranjang.


“Ada apa, sayang?” Arka yang berada di walk in closet sedang mengenakan pakaian bergegas menemui Mihika. Bahkan dia baru berhasil mengenakan boxer dan kemejanya.


“Aku nggak bisa nunduk, susah pakai sepatu,” keluh Mihika.


“Owh, biar aku pakaikan.” Arka pun berjongkok dan memakaikan flat shoes pada kedua kaki Mihika yang terlihat agak bengkak. “Kamu kapan cuti?” tanya Arka sambil beranjak dari jongkoknya.


“Tunggu Om Jo pulang.” Mihika mengulurkan kedua tangannya, tanda dia ingin dibantu untuk berdiri.


“Nggak bisa dihandle dari rumah aja, aku nggak tega lihat kamu udah begini masih saja aktivitas,” saran Arka sambil membantu Mihika berdiri .


“Nggak apalah banyak gerak, katanya baik untuk proses persalinan nanti. Baru masuk delapan bulan kok, masih sebulan lagi."


Arka memandang wajah Mihika yang tersenyum dengan mengedip-ngedipkan kedua matanya, menggoda dan memohon agar Arka setuju dengan idenya. “Jaga kesehatan dan kondisi kehamilan kamu sayang, aku nggak bisa dampingi kamu terus menerus,” ucap Arka dengan nada penuh harap dan khawatir.

__ADS_1


“Iya Papih, Mamih hati-hati kok,” jawab menjawil kedua pipi Arka. Semenjak hamil dia sangat senang melakukan hal itu, membuat wajah Arka terlihat lucu.


...***...


“Apa jadwalku hari ini?” tanya Mihika pada sekretarisnya, sambil berjalan perlahan menuju ruang kerjanya yang berdampingan dengan ruang kerja Johan.


“Sebenarnya hari ini tidak ada pertemuan keluar Bu, hanya Ibu menjadwalkan sidak di beberapa divisi. Tapi kemarin sore saya mendapat kabar dari Mr. James, kalau dia ingin pertemuan dimajukan hari ini setelah makan siang. Seharusnya Pak Johan yang handle, jadi bagaimana Bu?”


“Tidak masalah, atur saja pertemuan sekaligus makan siang.”


Mihika bersandar di kursi kebesarannya lalu menghubungi Johan melalui panggilan video. Tidak lama panggilan pun terhubung. Mihika hanya menggelengkan kepalanya menyaksikan yang tampil dalam layar ponselnya wajah Johan yang masih mengantuk.


“Apaan sih ganggu aja.”


Terlihat Johan beranjak duduk dan menyorot ke arah Mae yang masih terlelap. “Kemarin dia kurang sehat, aku ajak ke dokter katanya gejala awal kehamilan. Johan luar biasa.” Johan menepuk dadanya dengan sombong.


“Wow, akhirnya Om Jo menghasilkan junior juga. Lalu kapan pulang ke Jakarta, Arka sudah rewel nggak ijinkan aku ke kantor.”


“Besok aku pulang.” Terlihat Johan yang menoleh ke arah Mae, ada pergerakan di sana. Sepertinya Mae terbangun dari tidurnya. “Good morning sleeping beauty,” sapa Johan lalu mencium pipi Mae.


“Halah, lebay,” ujar Mihika lalu mengakhiri panggilan videonya.


Sedangkan suasana di kamar tempat Johan dan Mae berada.

__ADS_1


“Kamu telepon siapa sih, sepagi ini?”


Johan memeluk tubuh Mae dari samping dan mendaratkan bibirnya pada pundak yang terekspos. “Itu Mihika, video call.”


“Hah, video call? Lalu dia melihat aku tidur dan kamu sapa aku tadi?”


“Hm.” Kini wajah Johan mendarat di leher dan pipi Mae. “Memang kenapa?”


“Malu dong.”


Johan berdecak. “Mumpung masih pagi, main bentar yuk.”


“Semalam ‘kan udah.”


“Lagi dong, judul kita kesini itu honeymoon masa aku nganggur terus.”


“Tapi ….”


“Aku pelan-pelan sayang, calon bayi kita nggak akan tersakiti. Kalau ibunya bahagia, dia juga ikut bahagia. Ayo.”


Johan menyibak selimut yang menutupi tubuh mereka.


“Johannn!” teriak Mae.

__ADS_1


 


__ADS_2