
Mihika bersama sekretarisnya sudah sampai di restoran tempat pertemuan bersama Mr. James. Sepertinya pihak Mr James sudah tiba lebih awal dan duduk membelakangi arah kedatangan Mihika.
"Selamat siang Mr James," sapa Mihika. James pun berdiri dan menoleh, membalas sapaan Mihika dan berjabat tangan.
Mihika sempat terperanjat melihat wanita yang mendampingi Mr. James.
"Apa kabar Ibu Mihika," sapa Lela sambil mengulurkan tangannya.
"Baik, aku baik," jawab Mihika. Lela Gunawan putri dari Anjay Gunawan saat ini mendampingi Mr. James, entah sebagai sekretaris atau asisten pengusaha yang kembali akan bekerja sama dengan Iniland Property.
Akhirnya kedua belah pihak sudah duduk berhadapan. “Saya tidak menyangka jika putri Aditya bisa meneruskan bisnis ayahnya, sungguh hebat.”
Mihika tersenyum, “Anda terlalu memuji, bukan saya yang hebat tapi Pak Johan. Beliau yang sangat cakap meneruskan semua usaha Ayah saya, saya hanya mengekor saja.”
Obrolan berikutnya membahas masalah kerja sama. Mihika dengan mudah berdiskusi dan melobi karena memang hanya meneruskan pekerjaan Johan, meskipun dalam hati tetap saja Mihika merutuk kesal pada Johan yang masih asyik dengan kegiatan honeymoon-nya.
“Ah, aku dengar kamu mengenal asisten saya?” tanya Mr. James pada Mihika.
Mihika pun menoleh pada Lela yang sejak tadi hanya diam mendampingi James. Berbeda dengan sekretaris Mihika yang ikut bicara saat diskusi berlangsung. “Betul, saya memang mengenal dia. Bahkan sebelumnya kami ada dalam hubungan yang bisa dibilang spesial, bukan begitu Lela?”
Lela menghela nafasnya, sebelum menjawab pertanyaan Mihika. “Tentu saja, aku ingat sekali saat menolak permintaan kalian mutasi ke pusat sedangkan aku memilih resign.”
__ADS_1
Mihika tertawa mendengar pembelaan diri Lela. James terlihat menganggukan kepalanya. “Ternyata kamu pernah diandalkan di perusahaan mereka, hebat,” puji James sambil menggenggam tangan Lela yang tadinya berada di atas meja.
Mihika mengernyitkan dahinya melihat hal itu. Yang dia tahu Mr. James adalah rekan bisnis Ayahnya dan sudah cukup dekat. Tentu saja Mihika juga tahu keluarga James, dimana pria paruh baya itu sudah berkeluarga. Tapi pemandangan James menggenggam tangan Lela menandakan ada sesuatu diantara mereka.
“Lela, bagaimana kondisi Ayahmu?”
Senyum yang tersemat di wajah Lela langsung hilang berganti raut wajah kesal. “Aku rasa kamu lebih tahu keadaan Ayahku seperti apa.”
Anjay Gunawan dan antek-anteknya sudah mendapatkan putusan bersalah dan sedang menjalani hukuman. Meskipun tuntutan sangat rendah hanya satu tahun penjara, paling tidak itu bisa membuat Anjay dan timnya menyesali kejahatan yang sudah mereka lakukan.
Mihika hanya mengedikkan bahu mendengar ucapan Lela. “Ada apa dengan Ayahmu, mengapa Mihika menanyakannya, sayang?” tanya James pada Lela.
Sayang, jadi Lela benar-benar ada hubungan dengan pria ini, batin Mihika.
James menoleh pada Mihika. “Ada apa sebenarnya?”
“Maaf Mr. James, kita tidak usah bahas lebih jauh mengenai Ayah Lela. Tadi saya hanya menyapa dan bertanya tentang kondisi beliau,” sahut Mihika. Tidak lama kemudian, pelayan datang membawakan menu makan siang yang sudah mereka pesan.
Mihika dibuat terkejut karena Lela dan James memperlihatkan adegan yang lagi-lagi mencerminkan kalau ada hubungan lain diantara keduanya. Saling menyuapkan makanan dan James yang menyeka ujung bibir Lela dengan tisu karena sisa makanan yang tertinggal.
Mihika pamit ke belakang. Dengan kondisi perutnya saat ini, membuatnya lebih sering berkemih. Tanpa diduga, saat Mihika keluar dari bilik toilet sudah ada Lela di sana. Sedang mematut wajahnya di cermin dan mencuci tangannya.
__ADS_1
“Kamu pasti terkejut kita bertemu tanpa diduga,” ujar Lela.
“Tidak, biasa saja,” jawab Mihika, lalu mencuci tangannya.
“Kamu jangan sombong Mihika, karena Mr. James bisa berikan aku posisi sama sepertimu. Bukan lagi karyawan rendahan yang kamu berikan untuk aku.”
“Aku tidak pernah memberikan posisi rendah, tapi berdasarkan kompetensi pribadi masing-masing. Mungkin memang kompetensi kamu rendah makanya dapat posisi rendah. Sebaiknya jauhi Mr James, dia sudah berkeluarga. Apa kamu mau merusak rumah tangganya?”
“Bukan urusanmu. Atau jangan-jangan kamu iri karena posisiku saat ini berhasil setara denganmu?”
“Kenapa aku harus iri dengan wanita yang dekat dengan pria beristri bahkan dengan sombong merasa derajatnya lebih tinggi dan lebih baik.”
“Ini semua karena ulah kamu. Arka tidak lagi merespon aku lalu kamu dengan seenaknya menjebloskan Ayah ke penjara.”
“Seharusnya kamu intropeksi,” sahut Mihika. Lalu melangkah meninggalkan Lela yang masih menatap kesal ke arahnya.
Bruk.
“Ahhh,” pekik Mihika. Tubuhnya sudah dihimpit ke tembok setelah Lela menarik tangan dan mendorongnya. Salah satu tangan Lela mencengkram leher Mihika.Mihika berusaha melepaskan cengkraman tangan Lela karena sudah merasakan sesak.
__ADS_1