
Hari sudah malam saat Arka tiba di apartemen. Sebelumnya dia sudah mengirimkan pesan jika dia ada briefing mendadak dengan beberapa manager. Dipicu karena pertemuan satu-persatu para pimpinan divisi yang menemuinya dan menjelaskan tidak ikut andil dalam mark up anggaran, akhirnya arka memutuskan mengadakan pertemuan untuk membahas masalah tersebut.
Berperan seakan Arka mengikuti alur dan percaya jika hal itu terjadi karena memang ada kesalahan dalam pengetikan. Sedangkan Arka dan Mihika sudah mendapatkan dan menyimpan semua dokumen lain yang benar-benar membuktikan kalau sudah ada perubahan dan penyelewengan anggaran.
Tidak menemukan Mihika di sofa termasuk juga ruang kerjanya. Arka meminta Mihika untuk makan malam tanpa menunggunya dan Arka hanya melihat plastik kemasan mie instant di dapur.
“Hika,” panggil Arka tapi tidak ada jawaban.
“Sayang,” panggilnya lagi sambil membuka pintu kamar.
Arka menelan salivanya lalu menggelengkan kepala ketika melihat Mihika berada di atas ranjang. Sedang berbaring tengkurap dengan kaki yang bergerak menempel ke arah dalam dan luar bergantian. Mihika sedang asyik bermedia sosial sambil mendengarkan musik menggunakan headset jadi dia tidak menyadari kedatangan Arka.
Tapi yang membuat Arka resah adalah pakaian yang dikenakan Mihika. Dengan hotpants dan kaos tanpa lengan membuat Arka bergair@h melihat pemandangan dihadapannya. Arka melepas jas dan melemparkannya ke sofa yang ada di kamar, termasuk juga dasi yang seakan terasa menyiksa di lehernya. Mengeluarkan kemeja dari celananya dan menggulungnya sampai siku.
Arka kini berada di atas tubuh Mihika membuat wanita itu terkejut dan berteriak.
“Pak Arkaaaa!”
Mihika sudah melepaskan headsetnya, “Pak Arka kapan datang?”
Arka berdecak. “Dari tadi, bahkan lumayan gerah ngelihat penampilan kamu begini.”
Mihika membelalakan matanya merasakan bagian tubuh Arka yang mengeras menempel di atas bo_kongnya. “Pak Arka minggir, berat.”
“Ngapain minggir, udah begini ya kamu tanggung jawablah.” Arka yang mengangkat sedikit tubuhnya untuk MIhika merubah posisinya menjadi terlentang.
__ADS_1
“Tanggung jawab apa?”
“Menidurkan kembali tongkat ajaibku, lagi pula ini sudah waktunya kamu bertugas,” jelas Arka sambil tersenyum smirk tepat di depan wajah Mihika.
“Tugas apa? Jangan aneh-aneh deh.”
“Sudah aku bilang, kalau malam itu tugas kamu melayani di ranjang.” Arka tidak memberikan kesempatan untuk Mihika bicara karena langsung membungkam bibir Mihika. Awalnya lembut tapi berubah semakin dalam karena Mihika menyambut dan membalas pertemuan bibir mereka. Bukan hanya indra perasa Arka yang aktif, tapi Mihika juga.
Arka melepaskan bibirnya karena kasihan melihat Mihika yabg terengah seakan kehabisan oksigen. Menyingkap kaos yang dikenakan istrinya dan memperlihatkan bagian depan tubuh yang masih tertutup kain berenda.
"It's show time," ujar Arka kemudian mengeksplor semua bagian tubuh Mihika. Keduanya sudah kembali polos dan hanya dessahan serta erangaan yang saling bersahutan.
Gerakan Arka sudah membuat keduanya melayang dalam penyatuan tubuh yang akan mencapai puncaknya. Mihika hanya bisa pasrah menerima perlakuan Arka karena sudah menjadi tugasnya sebagai seorang istri. Berharap dengan dia menuruti keinginan Arka, pria itu tidak akan kembali mencari kehangatan wanita lain.
"Oh, Hika ... shittt kenapa kamu nikmat sekali sayang," cecar Arka masih mengayun tubuhnya. Tidak lama tubuh keduanya menegang karena mendapatkan gelombang puncak kenikmatannya.
"Giliranku," sahutnya lalu kembali mempercepat tempo gerakan dan mengeraang panjang. Titik-titik peluh terlihat di kedua tubuh pasangan itu.
Kini keduanya berbaring berdampingan di bawah selimut yang sama. Mihika yang memainkan tangannya di atas dada bidang Arka, entah sedang membuat pola apa.
"Pak Arka."
"Hm." Arka memandang langit-langit kamarnya dengan kedua tangan berada di belakang kepala.
"Apa hal yang paling Pak Arka sukai?"
__ADS_1
"Kamu."
Mihika berdecak, "Aku tanya serius."
"Lah, memangnya salah. Aku juga menjawab serius, kamu yang paling aku sukai. Apalagi bisa melihat wajah kamu saat ...." Arka lalu terkekeh.
Mihika cemberut, "Jadi hanya suka aku waktu bercinta doang. Udah berasa kaya perempuan bayaran aja," sahut Mihika lalu menjauh dari tubuh Arka.
"Eh, kok ngambek. Nggak begitu, maksudnya semua dari kamu aku suka. Kalau bisa enak-enak, ya itu bonus tak terhingga."
"Bodo amat," sahut Mihika.
Arka terbahak karena Mihika merajuk lalu merengkuhnya dalam pelukan dan mengusap punggung Mihika.
"Tubuh kita masih polos, bisa-bisa punyaku tegang lagi. Kamu ...."
Mihika melepaskan diri dari rengkuhan tubuh Arka. "Lalu, apa hal yang tidak disukai?"
"Hm, aku tidak suka dengan kebohongan apalagi dibohongi."
Deg!
Entah kenapa Mihika merasa bersalah mendengar ucapan Arka. "Bohong," ulang Mihika dengan pelan.
"Iya, aku tidak suka jika harus dibohongi."
__ADS_1
Deg!
≈\=\=\=\=\=\=\= ayo Mihika, kumaha tahhh