CINTA DIBAYAR TUNAI

CINTA DIBAYAR TUNAI
Cepat Keluar


__ADS_3

“Pak Arka.”


Arka menatap wajah sembab Mihika dengan mata yang bengkak dan rambut yang berantakan. “Pak Arka, maafkan aku. Aku tidak berniat membohongi Pak Arka,” ujar Mihika masih terisak. “Aku hanya ingin bantu Ayah, tapi … Pak Arka boleh membenci aku tapi jangan benci Ayah. Ayah sudah pergi dan aku belum bisa membuatnya bahagia.” Mihika kembali menelungkupkan wajah pada lututnya. Tangisannya semakin kencang.


Arka masih terpaku di tempatnya, ada emosi dihatinya mengingat selama ini dia dibohongi tapi melihat Mihika yang terpukul karena kepergian Ayahnya membuat dia seakan bercermin saat dulu dia ditinggal oleh orangtuanya. Apalagi saat ini wanita itu adalah istrinya, yang kemarin masih dia puja dan sentuh dengan tuntutan kewajiban seorang istri.


Melangkah mendekati ranjang, Arka duduk di samping Mihika. “Mihika,” panggilnya. Mihika menggelengkan kepalanya.


“Mihika Yodha, istriku,” ucap Arka membuat Mihika memalingkan wajahnya menatap Arka. Arka menghapus air mata di wajah Mihika, “Ayahmu sudah tenang, jangan buat dia bersedih karena kesedihan. Cukup hari ini kamu menangis, berikutnya kamu harus semakin kuat.”


“Pak Arka, nggak marah?”


“Marah? Tentu saja, aku ingin sekali marah karena kebohongan kamu. Tapi, ini bukan saatnya untuk itu. Istirahatlah, hari ini akan menjadi hari yang panjang dan sibuk. Wajahmu sangat pucat.”


Mihika menggelengkan kepalanya. Arka merebahkan tubuh Mihika di ranjang, dan menyelimutinya. Membiarkan Mihika untuk tidur meskipun sekejap.


...***...


Kediaman Aditya semakin ramai dengan pelayat, bahkan saat ini sudah waktunya memakamkan jenazah Aditya. Petinggi perusahaan tempat Arka dan Mihika bekerja pun sudah hadir. Mereka penasaran dengan putri Aditya yang tidak pernah terlihat atau menampakan wajahnya. Ruang keluarga rumah tersebut sengaja di tutup, belhm saatnya mengungkap identitas Mihika.


“Menurutku kasus kemarin akan ditarik, Pak Aditya sudah meninggal,” bisik Anjay pada salah satu rekannya.

__ADS_1


“Tapi lihat Arka, dia seperti penjilat. Sejak tadi bersama Johan seperti keluarga dekat saja.”


“Hm.”


Mihika yang diminta melihat wajah Aditya untuk terakhir kalinya, histeris dan jatuh pingsan. Akhirnya digendong Arka untuk kembali ke kamar.


“Biar Mihika ditemani oleh yang lain, kita harus segera makamkan jenazah,” ajak Johan.


“Lalu, Mihika tidak ikut?”


“Kamu lihat kondisinya, yang ada di sana dia histeris lagi.”


Setelah pemakaman, kediaman Aditya tidak seramai sebelumnya. Johan dan Arka masih menemui pada pelayat yang datang. Banyak yang menanyakan Mihika putri Aditya yang tidak menampakan wajahnya. Sebagai salah seorang pebisnis sukses tentu saja berita duka ini masuk ke dalam headline news.


“Biar saya yang suapi,” ujar Arka meraih mangkuk berisi bubur untuk Mihika.


“Aku nggak mau makan, mulutku pahit,” keluh Mihika.


Arka tidak menjawab dan memberikan tanda kepada Bibi agar meninggalkan mereka berdua. “Makanlah, kamu harus kuat. Apalagi kita masih ada urusan yang belum selesai?”


“Pak Arka masih marah sama aku?”

__ADS_1


“Hm. Apalagi melihat kamu seperti ini, aku makin kecewa. Kamu egois Mihika,” tutur Arka. “Semua orang yang ditinggalkan pasti sedih dan kecewa tapi bukan harus meraung terus menerus.”


“Pak Arka tidak merasakan apa yang aku rasakan,” bela Mihika,


“Tentu saja aku pernah merasakan posisimu. Buka mulutmu,” titah Arka. Mihika merebut mangkuk yang dipegang Arka.


“Aku bisa sendiri.”


Arka memastikan Mihika menghabiskan makanannya, dengan menatap dan melipat kedua tangannya di dada.


“Ngapain sih nungguin aku kayak satpam aja. Nggak ada senyum-senyumnya,” ejek Mihika sambil cemberut.


Arka tidak menjawab dan tetap menatap Mihika. “Tuh udah habis,” ujar Mihika memperlihatkan mangkuknya yang sudah kosong. Lalu kembali merebahkan tubuhnya.


“Kalau masih mau marah-marah mending Pak Arka keluar deh. Aku sedang tidak butuh nasehat.” Mihika berbaring miring memunggungi Arka.


“Istirahatlah, aku harus temani Pak Johan.”


Saat Arka menuruni anak tangga, dia melihat Lela sedang mengendap seperti pencuri. “Sedang apa kamu di sini?”


“Pak Arka ngagetin aja deh. Saya penasaran dengan putri Pak Aditya,” jawab Lela. “Pak Arka sendiri ngapain di dalam sini, katanya hanya keluarga yang boleh masuk ke sini.”

__ADS_1


“Kamu tidak perlu tahu, cepat keluar!”


\=\=\=\= Anjayyyy si Lela, kepo beud ....


__ADS_2