CINTA DIBAYAR TUNAI

CINTA DIBAYAR TUNAI
Keluarga Bahagia (End)


__ADS_3

Waktu berlalu, saat ini Elo sudah berumur lima tahun.


“Om Jo,” panggil Mihika sambil menggandeng tangan Elo.


“Kenapa lagi?” tanya Johan yang melihat kedatangan Mihika. Saat ini Johan dan Mae sudah tidak tinggal di apartemen, bahkan Mae sudah melahirkan dua orang anak. Yang pertama perempuan, umurnya tidak jauh dengan Elo dan yang kedua laki-laki berumur dua tahun.


Mihika menghempaskan tubuhnya di sofa, “Elo sayang main sama tante Mae ya,” ujar Mihika. Elo pun mengangguk dan berlari mencari keberadaan Mae dan dua anaknya.


Johan masih berdiri sambil melipat kedua tangan di dada memandang Mihika dan menunggunya bicara.


“Kalian bertengkar lagi, apa masalahnya kali ini?”


Mihika berdecak, “Tahu ah, aku ngantuk deh Om. Pinjam kamar tamu ya dan titip Elo tadi dia belum sarapan,” tutur Mihika sambil tersenyum tanpa rasa bersalah.


“Ngantuk? Ini baru jam sembilan pagi dan weekend. Kamu harusnya ajak Elo kemana gitu.”


“Kalau Om Jo ada rencana keluar, aja Elo sekalian ya. Sumpah Om, aku ngantuk dan lemes banget ini.” Mihika memelas membuat Johan tidak tega dan hanya melambaikan tangannya seakan mengusir Mihika agar segera istirahat.


“Sayang,” panggil Mae sambil menggendong Ranu, sedangkan Rani berjalan bersama Elo di belakangnya. “Ibu Mihika kemana, ini Elo datang sendiri?”


“Ya nggak mungkinlah, dia datang sama Ibunya.”


“Terus kemana?”


“Di kamar, ngantuk katanya. Paling habis bertengkar lagi,” sahut Johan lalu memanggil asisten rumah tangganya. “Bik, ini Elo katanya belum sarapan, coba diajak makan dulu.”


“Baik, Pak.”


“Elo, kamu ikut Bibi.”


“Mamih kemana? Aku ditinggal disini?” tanya Elo.


“Mamih kamu lagi bobo, Elo makan dulu ya,” titah Mae.


Tidak lama kemudian Arka pun datang. “Pak Johan, Mihika ada di sini ‘kan?”


“Duduk dulu,” titah Johan.


“Aku serius Pak, kayaknya dia pergi pakai taksi. Kalau nggak ada disini ....”


“Aku bilang duduk dulu,” titah Johan. Akhirnya Arka pun pasrah, duduk berhadapan dengan Johan. “Kalian kenapa sih, bertengkar terus?”


Arka mengusap kasar wajahnya. Mae yang mengetahui kedatangan Arka pun ikut bergabung di sofa, anak-anaknya sedang berada di ruangan bermain bersama pengasuhnya.


“Kami tidak bertengkar, hanya aku bingung dengan sikap Mihika akhir-akhir ini. Sebentar-bentar merajuk, kadang ingin sesuatu yang aneh dan mendadak.”


“Maksudnya gimana?” tanya Johan.


“Ya begitu, hal sepele saja jadi masalah. Padahal sebelumnya dia nggak begini, yang parah itu tadi pagi. Mihika ingin makan soto mie tapi di Bogor, tempat langganannya kalau ke daerah sana. Aku belum sempat jawab dia sudah histeris duluan.”

__ADS_1


Mae dan Johan saling tatap setelah mendengar penjelasan Arka.


“Sejak kapan Ibu Mihika seperti itu Pak?”


“Lebih dari seminggu ini. Yang anehnya lagi, bentar-bentar Mihika tertidur katanya ngantuk, aku nggak boleh tidur di sampingnya dia bilang parfum aku bikin pusing.” Arka menyugar rambutnya, sedangkan Johan malah terbahak.


“Pak Arka ajak Mihika ke dokter aja,” saran Mae sambil tersenyum.


“Memang ada dokter yang menangani sikap aneh Mihika?”


Johan berdecak, “Ajak Mihika ke dokter kandungan, siapa tahu sikap menyebalkannya karena hormon kehamilan. Waktu Mae hamil anak kedua juga begitu,” tutur Johan.


“Jadi, aku waktu hamil menyebalkan?”


“Aishh, bukan begitu. Sudahlah, ayo ajak anak-anak bersiap, kita ajak mereka menikmati libur. Biarkan saja pasangan ini mengurus masalahnya,” titah Johan.


“Elo biar ikut kami, Pak. Pak Arka lebih baik susul Ibu Mihika.”


Setelah Arka menemui Elo dan berpesan agar tidak nakal selama ikut bersama Johan, lalu menuju lantai dua dimana Mihika berada. Setelah membuka pintu kamar, Arka melihat istrinya yang sedang berbaring memunggungi pintu. Menghela pelan sebelum dia mendekati ranjang.


Arka ikut berbaring dan memeluk Mihika dari belakang, gerakannya membuat tidur Mihika terusik. Dari aroma parfumnya, Mihika tahu kalau itu ulah Arka.


“Papih, geseran sana. Jangan ganggu aku, lagi pula aku lagi marah ya.”


“Marahnya nanti aja, sekarang kita ke dokter ya,” ajak Arka.


Mihika bergegas membalikan tubuhnya menghadap Arka. “Papih sakit?” Menempelkan tangannya pada kening Arka.


“Aku? Memang aku sakit apa? Papih jangan aneh-aneh deh,” keluh Mihika sambil beranjak duduk.


“Sudahlah, ayo kita ke dokter.”


“Nanti dulu, aku nggak sakit ngapain harus ke dokter.”


Arka berdecak, rasanya ingin marah tapi melunak dan tetap sabar menghadapi wanita yang sangat dicintainya. “Kamu memang tidak sakit,” jawab Arka yang saat ini sudah duduk berhadapan dengan Mihika. “Tapi kita pastikan apakah disini sudah ada isinya atau belum,” ujar Arka lagi sambil menyentuh perut Mihika. “Karena kalau benar ada Arka junior di sini dan kita tidak menyadarinya, khawatir melukainya.”


“Hahhh.”


***


Dokter yang sedang melakukan USG pada perut Mihika yang sedang berbaring tersenyum memandang layar monitor dihadapannya. Tangannya memegang alat yang menempel pada perut Mihika, sesekali alat itu digerakkan untuk menampilkan kondisi yang lebih jelas.


Arka berdiri di samping Mihika yang berbaring. Salah satu tangannya menggenggam erat tangan Mihika. “Bagaimana Dok?” tanya Arka tidak sabar.


“Selamat ya, Ibu Mihika sedang hamil dan usianya kurang lebih sudah delapan minggu.”


Arka dan Mihika saling tatap, mereka tidak menyangka dan tidak berencana hamil karena Elo lahir dengan operasi maka Arka mengikuti saran dokter agar Mihika tidak segera hamil dalam waktu dekat. Tapi keduanya sangat bahagia dengan berkah kehamilan anak kedua mereka.


Mihika berjalan di koridor Rumah sakit dengan Arka yang merangkul pinggangnya. “Hati-hati,” ujar Arka karena Mihika berjalan tidak memperhatikan langkahnya, fokus menatap hasil foto USG dimana janin mereka masih belum berbentuk.

__ADS_1


“Aku tidak menyangka kalau di tubuhku sudah ada kehidupan lain.”


Arka membuka pintu mobil untuk Mihika masuk. Sepanjang perjalanan Arka hanya tersenyum menanggapi antusiasnya Mihika. “Kita pulang ke rumah ya, Elo nanti sore biar dijemput supir aja,” ujar Arka.


Saat tiba di rumah, Arka mengajak Mihika ke kamar dan meminta wanita itu beristirahat. “Tapi aku bukan lagi sakit, Pih.” Mihika keberatan karena Arka memaksanya berbaring bahkan menyelimutinya.


“Bukannya kamu sebentar-bentar mengeluh karena ngantuk.”


“Iya tapi ….”


“Tetap berbaring, aku ke bawah ambil cemilan sehat untuk kamu.”


Sore harinya. Arka dan Mihika sedang bersantai di ruang keluarga. Mihika yang duduk bersandar di sofa sedangkan Arka menjadikan pangkuan Mihika sebagai bantal bahkan wajah Arka menempel pada perut Mihika. Sesekali Mihika tergelak karena merasa geli dengan ulah Arka yang menciumi perut atau menggesek_kan hidungnya ke perut Mihika.


“Mamih, aku pulang,” teriak Elo yang berlari. Ternyata Elo diantar oleh keluarga Johan. Ruangan itu mendadak ramai, Mihika pun bergabung dengan Mae yang langsung sibuk dengan ketiga balita yang asyik dengan mainan.


“Bagaimana?”


“Apanya?”


Johan berdecak, “Kamu jadi ajak Mihika ke dokter.”


“Jadi dong.”


“Lalu?”


Arka menepuk dadanya. “Arka yang per_kasa tidak lama lagi akan menantikan kelahiran juniornya.”


Mae yang mendengar sekilas pun menyela, “Jadi Ibu Mihika beneran hamil?”


Mihika tersenyum, “Iya.”


“Mae, mulai besok kamu ikut program hamil. Anak kita harus lebih banyak dari mereka,” ujar Johan.


“Enak aja, memang aku kucing sebentar-bentar melahirkan.”


Arka dan Mihika duduk berdamping di sofa, begitu pun Johan dan Mae. Memperhatikan tingkah lucu anak-anak mereka, tidak ada kebahagiaan yang sempurna selain kebahagiaan keluarga. Arka sudah mendapatkan rumahnya yaitu cinta Mihika. Cinta yang harus dia bayar tunai, dimana awalnya ejekan dan sumpah yang selalu keluar dari bibir pria itu saat menghina Mihika. Kondisi Johan dan Mae pun tidak kalah bahagia. Johan mengira kalau dia tidak akan pernah menikah karena kesibukannya, ternyata mendapatkan anugerah terindah karena Maemunah dengan tangan terbuka menerima cintanya.


 


...#Tamat#...


 


Yuhuu,, terima kasih para pembaca yang sudah mengikuti kisah Arka dan Mihika sampai selesai. Terima kasih juga dengan jejak yang selalu kalian tinggalkan. Seperti biasa, ambil pesan positif dan tinggalkan hal negatif yang tersirat.


Special thanks to :


Cahaya, Kizut, bluemoon007, shiper, mami lin, khalisa, siti aisyah, erin, Nikin 99, lestari, zaenatun, Sutiara hayati, Nisriana annisa, Reza X Jetrak, Defi Eryani, Ratna Rachman, Bivendra, Irma, Hesti Ariani, Sri Ayudesrisya46 dan semuanya yang biasa meramaikan dan meninggalkan jejak.

__ADS_1


Love you gaes, jangan lupa mampir ke karya ku yang lain dan follow igeh aku yahh. Bye, muachhhh.🥰😍😘


 


__ADS_2