
"Aku turun ya," ujar Mae. Pagi ini dia putuskan berangkat ke kantor, meskipun awalnya Johan keberatan karena masih ingin menikmati cuti pernikahannya. Mae tidak ingin menunda untuk menyelesaikan dan membantu Arka mencari pengganti dirinya, agar semakin cepat dia bisa resign. Suaminya terlihat mulai posesif dan pasti akan sangat menyulitkan kalau dia kelamaan masih menjadi sekretaris Arka.
Mobil yang dikendarai Johan sudah berhenti di depan lobby kantor. Padahal Johan bisa saja menyerahkan mobil lainnya untuk Mae. Dengan alasan ingin menikmati kebersamaan, Johan rela berangkat lebih pagi mengantarkan Mae.
"Berikan aku semangat untuk seharian nanti."
Mae yang sudah melepaskan seat belt menoleh, "Semangat gimana?"
Johan mendekatkan wajah dan menunjuk bibirnya. Mae yang paham dengan isyarat yang diberikan langsung menempelkan bibirnya. Johan dengan gerakan cepat menahan tengkuk Mae dan melummat bibir yang semakin membuat candu.
"Pak Johan gimana sih, berantakan deh," keluh Mae sambil menggunakan kamera ponsel memperhatikan tatanan wajahnya pasca pertemuan bibirnya dengan bibir Johan.
Johan berdecak, "Nggak usah make up berlebihan, nanti ada yang naksir. Ingat kamu sudah menikah," tutur Johan.
"Iya, sayang." Mau pun keluar dari mobil setelah mencium tangan Johan.
Saat ini Mae dan Arka sedang berdiskusi mengenai jadwal ke depan termasuk kandidat penggantinya.
"Pesan dari Ibu Mihika, pengganti saya harus laki-laki Pak," ucap Mae dengan hati-hati, khawatir jika Arka keberatan dengan usulan istrinya.
"Aku nggak masalah yang penting dia bisa bekerja seperti kamu."
"Kalau Dio, hasil pekerjaannya kemarin bagaimana Pak?"
"Hm, bagus tapi kamu urus dulu di marketing, kalau ternyata di sana juga dibutuhkan jangan memaksa. Yang jelas aku hanya siap terima, semuanya kamu yang atur. Jangan resign sebelum pengganti kamu siap."
"Baik, Pak."
__ADS_1
Mae pun akhirnya menuju ruangan HRD untuk menyampaikan rencananya resign, termasuk menyegerakan mencari pengganti dan dirinya akan terlibat langsung dalam mengetahui atau menguji kompetensi calon penggantinya.
Menjelang sore, Mihika mendatangi kantor Arka. Saat melewati meja Mae ada Dio di sana. "Selamat Sore, Bu Hika, eh Mihika," sapa Dio sambil tersenyum.
"Sore." Mihika menatap meja Mae, "Mae kemana?"
"Tadi masih briefing dengan Pak Arka dan tim keuangan. Saya diminta tunggu di sini."
"Owh."
Karena malas menunggu Arka sendiri di ruangan, Mihika pun tetap berada di area meja Mae. Duduk di kursi sedangkan Dio tetap berdiri. Bicara dengan menanyakan kabar masing-masing. Saat bicara Dio sempat melirik perut Mihika yang sudah terlihat buncit.
Tidak lama kemudian Arka dan Mae datang, keduanya berjalan bersisian. Melihat kehadiran Mihika di sana tanpa memberi kabar tentu saja membuat Arka terkejut. "Sayang, kamu di sini?"
Mihika dan Dio menoleh ke arah suara. Arka bergegas menghampiri Mihika lalu mencium dahi istrinya. "Kenapa tidak tunggu di dalam?" Arka menoleh pada Dio lalu kembali menatap istrinya.
"Posesif," ujar Mae saat Arka sudah tidak terlihat.
"Aku salah ya?"
"Nggak, Pak Arkanya bucin, jadi maklum aja."
"Tapi Mihika memang cantik sih. Waktu masih dengan identitas Hika pun aku tahu kalau dia aslinya memang cantik."
Mae menoleh ke arah Dio, "Nggak usah dilanjut, dia sudah menikah dan sekarang bos besar."
Dio menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Kalah cepat saya," ujarnya. "Mbak Mae sendiri gimana? Masih terbuka untuk umum 'kah?"
__ADS_1
"Tidak. Dia sudah ada yang punya. Sold out.”
Mae dan Dio menoleh. Ternyata Johan yang datang, menghampiri Mae lalu mengecup kening dan merangkul pinggangnya.
"Pak Johan sudah disini?"
"Mihika maunya rapat disini, karena ada kamu di sini aku ya semangat aja," jawab Johan. "Dia milikku, jangan coba-coba ...." ucap Johan pada Dio.
Dio mengangkat kedua tangannya, "Okey, aku kalah start lagi."
"Arka ada di dalam?" tanya Johan.
"Ada, Bu Mihika juga ada di dalam."
Johan mengetuk pintu dan langsung membuka pintu untuk masuk ke dalam ruangan. Dirinya tahu jika Arka dan Mihika mungkin saja dalam pose tidak biasa dan dugaannya benar, Arka dan Mihika langsung melepaskan pagutannya saat Johan yang tiba-tiba masuk padahal baru saja mengetuk pintu.
“Padahal aku belum ijinkan masuk,” sahut Arka. Mihika hanya tersenyum malu karena kepergok oleh Johan sedang berciuman.
“Padahal ini kantor, kayak di rumah nggak bisa aja,” ejek Johan.
“Dimana juga nggak masalahlah, yang penting dengan istri sendiri.”
Mihika berdecak mendengar Johan dan Arka masih beradu argumen. “Kalian masih mau berdebat atau gimana? Heran tiap bertemu ada aja yang dijadikan perdebatan. Cuma masalah silaturahmi bibir aja dibikin ribet,” tutur Mihika.
“Pak Johannya, sayang. Dia yang mulai,” bela diri Arka.
“Kalian berdua yang salah,” ujar Mihika dengan nada suara agak tinggi. "Sudah pada tua tapi kelakuan mirip tom and jerry."
__ADS_1