
Kebetulan hari ini adalah weekend, baik Mae ataupun Johan masih bergelung dengan selimut meskipun waktu sudah beranjak siang. Keduanya masih terbuai mimpi, karena semalam Mae benar-benar rewel dengan keluhannya. Johan pun dengan setia dan sabar menemani. Akibatnya, mereka baru bisa terlelap menjelang pagi.
Johan mengerjapkan matanya, ada sinar matahari menerobos masuk dari celah gorden yang tersingkap. Walaupun suasana kamar pada dasarnya gelap karena lampu utama dimatikan. Gerakan Johan sepertinya membuat Mae terbangun.
“Lebih baik?” tanya Johan sambil mengusap kepala Mae. Mae menggelengkan kepalanya.
“Aku masih ngantuk banget,” keluh Mae.
“Ya sudah, tidurlah lagi.”
“Tapi aku kangen baby Elo, pengen gendong dia.”
Johan menghela nafasnya, tidak habis pikir dengan pikiran para wanita. Menginginkan dua hal dalam satu waktu yang hanya menyiksa diri mereka sendiri. Bagaimana bisa Mae malah bingung dengan keinginannya, antara kembali tidur atau menemui Baby Elo.
“Ya tidur dulu, kalau sudah segar baru kita kesana. Lagi pula ini weekend sayang, Arka pasti tidak akan semudah itu membiarkan kamu bermain dengan Elo.”
Mae berdecak, “Tapi aku gemes sama Baby El, bikin kangen gitu.”
“Gemes ke aku dulu aja, masa kamu nggak kangen sama aku Mae. Semalam kita nggak main, sekarang aja yuk. Mumpung lagi On,” ujar Johan. Mae memilih berbalik memunggungi Johan.
“Maaf Pak Jo, aku ngantuk. Mainnya nanti aja.”
“Kapan?” tanya Johan. Bahkan saat ini sudah memeluk Mae dari belakang.
__ADS_1
“Kapan-kapan,” jawab Mae.
Johan berdecak, kemudian melancarkan aksinya. Mae tidak dapat mengelak, hanya bisa pasrah dengan ulah Johan. Hanya bisa meneriakan nama Johan dan mendessah menikmati sentuhan Johan.
...***...
Sore harinya Mae ditemani Johan mengunjungi baby El. "Hai sayang, aunty datang," ujar Mae sambil menghampiri box dimana Elo terbuai dalam tidurnya.
"Janga diangkat, lagi pules nanti malah bangun."
"Tapi Pak, saya kesini karena kangen Baby Elo."
"Ya kamu liatin aja, jangan digendong. Lagian masih bayi ngapain digendong gendong terus."
"Pak Arka mah pelit.
Mihika tergelak dengan ucapan Johan. "Om Jo aaaan sih, biar kata kerja keras tiap malam, ya hasilnya satu sati kali, kecuali Mae hamil anakk kembar."
"Berikutnya kita program bayi kembar ya," ujar Johan.
Arka hanya menggelengkan kepalanya. "Di kantor samgar bukan main, di rumah mah bucin."
"Kayak kamu nggak bucin aja," sahut Johan.
__ADS_1
Bayi Arka dan Mihika akhirnya menangis mendengar perdebatan orang dewasa di sekitarnya.
"Tuh jadi nangis anakku," keluh Mihika.
...***...
Tiga bulan kemudian.
Baby Elo terlihat semakin berisi dan mont*k. Mihika sesekali sudah mulai kembali beraktifitas di perusahaan, tentu saja didampingi Johan. Karena Mihika yang berstatus sebagai pemilik semua perusahaan milik mendiang Ayahnya, jadi ada kalanya dia dibutuhkan di perusahaan. Sedangkan operasional perusahaan tetap di pimpin oleh Johan.
Sedangkan Perut Mae sudah terlihat semakin buncit karena kehamilannya. Johan sendiri semakin bucin pada istrinya. Bahkan hal ini sering menjadi bahan ejekan Arka juga Mihika.
"Ayo kita berangkat," ajak Mihika. Arka menatap Mihika dari kepala sampai kaki.
"Kenapa? penampilan aku nggak banget ya?" Malam ini adalah perayaan ulangtahun perusahaan, Mihika yang sudah siap mengenakan gaun dan sedikit bersolek menjadi tidak percaya diri karena sikap Arka.
"Aku ganti dulu deh."
"Eh jangan, aku tuh pangling lihat kamu. Cantik banget, malah kayaknya nggak rela nanti kamu jadi pusat perhatian."
"Halahhh, gombal." Arka terkekeh, kemudian menggandeng Mihika.
Sesampainya di gedung tempat acara, Mihika dan Arka berbaur menyapa para tamu. Johan yang sudah melakukan hal yang sama karena tiba lebih dulu.
__ADS_1
"Arka, apa kabar?"
\=\=\=\= yuhuu siapakah gerangan. Ikuti terus karena sdh mau tamat