
*┈━❅❀❦ 🦋 Mutiara Hikmah 🦋❦❀❅━┈*
Orang yang memiliki ketenangan hati maka ia juga akan memiliki ketenangan jiwa, ketenangan pikiran dan ketenangan dalam bersikap. Hingga bisa mendapatkan ketenangan dan kenyamanan dalam hidup. Siapa yang tidak mendambakan ketenangan dan kenyamanan?
Karena sudah pasti setiap manusia yang hidup pasti menginginkan ketenangan. Pada Suatu hari Imam Hasan Al Basri ditanya, "Di manakah kau temukan ketenangan hati?” Beliau menjawab, "Bersujud setelah melakukan kelalaian, dan bertaubat setelah melakukan dosa”
__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__
*┈┈┈━━◎❅❀❦ 🦋 ❦❀❅◎━━┈┈┈*
Keesokan harinya.
Sesuai yang diperintahkan Bosnya, Tony menemui Afnan, yang pada saat itu ia sedang mengajari para santrinya. Pada awalnya Afnan menolak ketika Tony mengajak dirinya untuk menemui bosnya. Namun ketika Tony menyatakan bahwa Bosnya itu adalah Kakeknya Syafiqah. Akhirnya Afnan pun bersedia ikut dengan Tony. Tapi dengan syarat Afnan boleh mengajak Sahabat Ikhsan. Dan tentu saja Tony langsung menyetujuinya. Yang Afnan mau ikut bersamanya. Dan kini mereka masih didalamnya Tony. Dan ketika dipertengahan jalan, tiba-tiba Tony menghentikan mobilnya.
"Ada apa? Kenapa Anda tiba-tiba berhenti?" tanya Ikhsan, yang entah mengapa ia tidak menyukai sikap Tony, yang terlihat sangat Dingin.
"Maaf Tuan-tuan, apakah saya boleh menutup mata Anda berdua? Karena ini perintah dari Bos besar saya, Beliau meminta saya untuk menutup mata kalian, saat kita sudah mendekati villanya," jelas Tony, membuat Ikhsan. langsung mengerenyit dahinya.
"Apa maksudnya, pakai tutup mata segala? Atau jangan-jangan, sebenarnya Anda ingin menculik kami ya?" tanya Ikhsan, dengan tatapan penuh kecurigaan pada Tony yang terlihat ia begitu tenang.
"Jangan salah paham dulu Tuan! Bos saya melakukan ini karena Villa yang akan kita datang adalah privasinya. Jadi tak sembarang orang untuk bisa datang kesana Tuan," jelas Tony lagi.
"Aakh! Aneh sekali sih! Kalau memang tak ingin orang..." balas Ikhsan, namun langsung disikut oleh Afnan.
"Sudahlah Ikhsan! Ikuti saja kemauannya!" kata Afnan yang terlihat ia mengalah. Karena ia begitu penasaran dan ingin bertemu kakeknya Syafiqah.
"Huh! Lihat saja, kalau dia berbuat macam-macam, Ane akan menuntutnya sampai kapanpun! Bahkan sampai akhirat sekalipun!" gerutu Ikhsan terlihat amat kesal melihat Tony.
__ADS_1
"Huuss! Ngomong apa sih Antum! Lebih baik Antum diam saja! Atau Ana sekalian meminta dia untuk menyumpal mulut Antum!" tegur Afnan, yang mulai kesal dengan kelakuan Asistennya, "Silakan kalau Anda mau menutup mata kami Tuan," lanjut Afnan pada Tony.
"Baiklah Tuan!" Tony pun langsung menutup Mata Adnan dan ihsan dengan kain kecil berwarna hitam. Setelah Iya berhasil menutup mata keduanya, Tony pun kembali melanjutkan perjalanannya dan tiga puluh menit kemudian. Mobil kembali berhenti tepat di depan sebuah Villa yang terlihat megah.
"Kita sudah sampai Tuan! Silakan kalian turun dengan perlahan," kata Tony, setelah ia membuka pintu mobil bagian belakang, tempat Afnan dan Ikhsan duduk.
"Bagaimana caranya kami berjalan, kalau mata masih ditutup begini hah?" protes Ikhsan, karena Tony tetap membiarkan mata mereka terus tertutup.
"Saya akan menuntun kalian berdua, jadi kalian tinggal mengikuti intruksi saya saja!" balas Tony, yang kemudian ia pun mulai menuntun tangan Afnan dan juga Ikhsan.
"Haiiis.. berasa kayak orang buta Ane! Pakai dituntun segala lagi!" gerutu Ikhsan. Namun ia tetap mengikuti instruksi dari Tony.
"Bisa Diam nggak sih Antum! Nikmati saja napa sih! Itung-itung latihan kalau suatu waktu Antum buta jadi Antum nggak kaget lagi!" balas Afnan, dengan dengan santainya.
"Idih! Amit-amit dah! Jangan sampai ucap Lo jadi doa! Astaghfirullah.. Astaghfirullah.. ya Allah jauhilah mata Hamba dari ke butaan!" balas Ikhsan, sambil ia mengetuk-ngetuk kepalanya dengan tangannya sendiri.
Hingga sampai mereka merasa kalau saat ini mereka sudah berada di sebuah ruangan. Ditambah lagi saat mereka mendengar Tony, sedang bicara dengan seseorang. Membuat mereka yakin kalau mereka sudah dihadapan dengan Pria yang ingin bertemu dengan Afnan.
"Selamat siang Tuan besar! Sesuai perintah anda saya sudah membawa pria yang ingin Anda jumpai," ujar Tony, kepada pria tua yang terlihat sedang duduk di kursi kebesarannya.
"Terima kasih Tony! Sekarang bukalah menutup mata mereka!" balas pria tua yang tak lain adalah Wijawa.
"Baik Tuan!" Tony pun langsung membuka kain penutup mata Afnan dan Ikhsan.
"Aah.. Alhamdulilah.. akhirnya dibuka juga!" ucap Ikhsan, begitu bersyukur.
"Maaf atas kelancangan saya, yang telah memperintahkan Tony untuk menutup mata, Nak Ustadz-ustadz, sekalian," ujar Wijaya dengan, seraya ia bangkit dari kursi kebesarannya. Lalu ia pun melangkah menuju sebuah sofa yang berada di ruang itu juga.
__ADS_1
"Tidak apa-apa Kek, kami paham kok. Karena itu privasi Anda," balas Afnan ramah, seraya ia menyempilkan senyuman lembutnya.
"Aah.. syukurlah. Kalau begitu silakan duduk Nak Ustadz," kata Wijaya, yang terlihat ia juga ikut duduk di sofa tunggal.
"Terima kasih Kek" balas Afnan. sembari ia duduk di sofa panjang, dan diikuti oleh Ikhsan yang duduk di sebelahnya.
"Oh, sebelumnya saya minta maaf kek, membuka bicara duluan. Itu karena saya sangat penasaran. Sebenarnya ada apa ya? Dan mengapa Anda ingin bertemu saya Kek?" tanya Afnan, yang memang sejak tadi ia begitu penasaran. Mengapa Kakeknya Syafiqah ingin bertemu dengannya.
"Ya tidak apa-apa Nak, wajar kalau kamu penasaran. Tapi sebenarnya saya yang lebih penasaran lagi, pada kamu Nak," balas Wijaya terdengar lembut. Mendengar perkataan Wijaya, Afnan, terlihat bingung. Pasal ia baru kali ini bertemu dengan Wijaya, tapi mengapa beliau malah penasaran padanya.
"Hah? Kakek penasaran pada Saya? Tapi mengapa? Apakah saya telah melakukan sesuatu yang membuat Anda tidak senang kek?" tanya Afnan lagi. Yang sepertinya ia tahu, kalau Wijaya bukanlah orang biasa.
"Tidak! Tidak seperti itu Nak, saya hanya penasaran dimana Anda mengenal cucu saya Syafiqah?" tanya Wijaya, membuat Afnan tersentak. Hingga ia bingung untuk menjawabnya. Karena kalau ia ceritakan pertemuan pertamanya pada Syafiqah. Sudah pasti Wijaya tidak akan percaya. Makanya ia memilih diam dari pada ia melakukan jawab yang bohong.
"Mengapa kamu diam Nak? Apalagi begitu berat pertanyaan dari pria tua ini, hm?" tanya Wijaya, amat penasaran.
"Bukan begitu Kek. Saya hanya takut Anda tidak akan percaya dengan jawaban saya nantinya," balas Afnan dengan sopan.
"Mengapa harus tidak percaya? Bukankah dimuka bumi ini tidak ada hal yang mustahil Nak? Apalagi bila Allah yang sudah berkata," ujar Wijaya, untuk meyakini Afnan.
"Baiklah kalau begitu saya akan menceritakannya kek. Saya bertemu Syafiqah ketika di rumah sa.." kata Afnan yang terlihat ia hendak bercerita pertemuan pertamanya. Namun belum sempat ia menyelesaikan ceritanya tiba-tiba, muncul sosok wanita dari pintu, membuat Afnan langsung tersentak.
"Syafiqah?! Mengapa Anda ada disini?"
...⊶⊷⊶•❉্᭄͜͡💚❉্᭄͜͡•⊶⊷⊶...
Jangan lupa dukung author terus yaa Guys? Dan jangan pelit dong untuk bonusin author dengan vote nya. biar author semakin semangat nih 🥺
__ADS_1
dan berikan like , seta hadiahnya juga ya 😁😁 dan jangan lupa juga komentar para readers akan menjadi pemicu inspirasi author..jadi jangan lupa ya guys 🙏😉 syukron 😊🙏